Setahu saya, Kopitiam di Singapura itu identik dengan gerai-gerai kecil di pinggir jalan yang menyajikan menu makanan breakfast seperti roti, toast, atau telur, serta minuman semacam kopi, teh dan sejenisnya. Lha wong kalau dibahasa Indonesiakan Kopitiam itu artinya warung kopi. Tapi pacar saya ngeyel, “ada nasi gorengnya juga kok, lumayan enak,” katanya. Siang-siang perut lapar, tentu saja saya berharap menu yang “berat”.
Uh oh, benar saja. Ternyata Kopitam Oey memberikan peraturan yang agak strict soal menu. Menu breakfast, hanya boleh dipesan pagi saja. Begitu pun sebaliknya dengan menu untuk lunch dan dinner. Padahal, bagi saya menu makan siangnya tidak ada yang “berat”. Hanya ada Gado-gado, Lontong Cap Gomeh, dan Sate Ayam. Ya udahlah, akhirnya kami sama-sama pesan Lontong Cap Gomeh. Well, makanan dan minumannya sih menurut saya lumayan. Meski sedikit agak mahal ya.
Tapi, konsep tempatnya sih oke. Dinding berhias art deco, serta ruangan yang kecil (maks 40 orang). Justru menurut saya keunggulannya ada pada varian minumannya. Rata-rata kopinya disedu dengan cara menyaring (kopi-o). Cukup banyak juga varian teh seperti mint dan talua.
Tapiiii, kalau memang konsepnya seperti itu, Kopitiam Oey kurang mengakomodir sensasi ber-kopitiam karena tak menyediakan tempat untuk merokok. Hueheu. Seingat saya sih, keasyikan Kopitiam itu karena letaknya yang outdoor, berada di pinggiran jalan. Lha, kopi kan padanannya dengan rokok dan obrolan. Betul tidak? Tapi ya, tentu saja tidak bisa dibandingkan pinggiran jalan Singapura dan Jakarta. Oh ya dua gambar diatas adalah perbandingan antara Kopitiam Oey dan salah satu Kopitiam di Singapura.
Field Report (FR):
Yang dipesan: 2 Lontong Cap Gomeh, 1 es teh manis, 1 mint tea, dan 1 kroket.
Place : 7,5
Food : 7,5
Service: 7
Satisfaction rate : 7,5
Akan kembali lagi: mungkin (ngga bisa ngerokok)
Damage Cost (DC): 94 k
Posted by dan
Andrew Darwis, owner Kaskus, pernah mengatakan kepada saya bahwa salah satu tujuan dibentuknya komunitas online terbesar di Indonesia itu adalah menjadi wadah bagi citizen journalism (jurnalisme warga).
Posted by dan
Sebagai seorang celebrity chef, Jamie Oliver memiliki beberapa restoran. Jamie’s Italian dibuka untuk memenuhi hasrat pria Inggris itu terhadap masakan Italia. Restoran tersebut dipuji karena mampu menyajikan keotentikan rasa Italia dengan harga yang “ramah kantong”. ”It shows you can mass produce flavours of Italy for the happiness of the high street,” kata The Independent. Kemudian ada Fifteen yang lebih high class, dengan cabang di Belanda, London, hingga Australia.
Belum lama ini saya dan pacar bertandang ke House of Rudy Choirudin. Well, dia memang tidak pernah mengklaim sebagai celebrity chef Indonesia. Tapi rasanya ibu-ibu pasti setuju dengan label itu, secara dia eksis banget di televisi. Dan memang salah satu kriteria celebrity chef sendiri adalah seorang chef yang menjadi populer karena sering mendemonstrasikan makanan ke media masa. Terutama televisi.
Posted by dan
Saya dan pacar memutuskan untuk mampir di Secret Recipe bukan tanpa sebab. Karena ternyata Pejaten Village, mal baru yang iseng kami datangi saat itu belum menyediakan ATM! Ya ampun. Mal yang sudah dilengkapi studio XXI segala ini justru meninggalkan kebutuhan pengunjung mal yang paling hakiki: ATM. Hehehe.
Sekadar saran, jika ingin memesan J.Cool, pilih yang menu Couple. Karena beneran deh, yang single itu porsinya dikit banget. Apalagi sekarang lagi ada promosi, menu Couple yang seharusnya dapat dua topping, ditambah satu topping lagi.
Kadang saya pikir orang Indonesia itu simply pemalas. Punya banyak sumber daya dan potensi, tapi tidak bisa mengolah, memanfaatkan, serta memaintain. Itu yang saya rasakan saat datang ke Kebun Binatang Ragunan, yang katanya terluas se-Asia Tenggara.
Pancake atau kue panekuk merupakan salah satu menu favorit untuk sarapan pagi. Pertama, karena bahannya yang secara harfiah sangat sederhana: tepung, susu, dan telur. Kedua, praktis, karena bisa di-combine dengan berbagai cara.
Ehm, Fresh Fruit Ice Tea Coctail yang datang pertama cukup membuat terkesan. Rasanya seperti koktail es buah. Manis banget. Tapi, saya agak terkejut, atau lebih tepatnya terintimidasi melihat size Blueberry Cheese yang datang selanjutnya. Its huge!!!
Di Jakarta tren memang tidak melulu soal fesyen, tapi bersliweran juga di ranah makanan pengisi perut. Setelah kopi dan donat, sekarang kaum urban Jakarta (tsah!) sedang gandrung frozen yoghurt atau fro-yo.
Sudah lama sekali saya berharap bisa melakukan traveling berdua bersama pacar. Bepergian dengan cara backpacking, atau berdua menempuh jalan darat seperti film 3 Hari untuk Selamanya. Traveling bermobil memiliki sensasi kenikmatan berbeda dibanding backpacking, leisure traveling, ataupun beaching. Capek, tapi seru karena lebih personal.
Lalu, kenapa saya menulis soal ini? Karena, besok saya akan menjalani Media Test Drive “Comfort Journey” ke Padang, Sumatera Barat. Jurnalis yang ikut akan menyetir Nissan Livina ke beberapa tempat. Dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang, menuju Lembah Anai, Lembah Harau, Bukittinggi, dan kembali menuju kota Padang melalui Danau Singkarak (lihat peta).
Kematian Michael Jackson—Jacko—berimbas global di ranah internet. Situs pencari Google rusak 35 menit karena terlalu banyak pengakses internet mengetik kata “Michael Jackson”. User Wikipedia berlomba mengedit artikel tentang Jacko, sementara situs mikro blogging Twitter kewalahan mengakomodir 66.500 tweet 1 jam sejak laporan Jacko dilarikan ke rumah sakit.
Sambil ”ngefans” Dian Sastro, saya ”ngefans” juga dengan Mariana Renata. Ho-ho-ho. Tapi nggak se-ngefans Dian, karena dia jarang muncul. Saya sempat dua-tiga kali bertemu dengannya dan…speechless juga. Cantiknya memang maksimal.