Kopitiam Oey

18 July 2009

collage3 Setahu saya, Kopitiam di Singapura itu identik dengan gerai-gerai kecil di pinggir jalan yang menyajikan menu makanan breakfast seperti roti, toast, atau telur, serta minuman semacam kopi, teh dan sejenisnya. Lha wong kalau dibahasa Indonesiakan Kopitiam itu artinya warung kopi. Tapi pacar saya ngeyel, “ada nasi gorengnya juga kok, lumayan enak,” katanya. Siang-siang perut lapar, tentu saja saya berharap menu yang “berat”.

Uh oh, benar saja. Ternyata Kopitam Oey memberikan peraturan yang agak strict soal menu. Menu breakfast, hanya boleh dipesan pagi saja. Begitu pun sebaliknya dengan menu untuk lunch dan dinner. Padahal, bagi saya menu makan siangnya tidak ada yang “berat”. Hanya ada Gado-gado, Lontong Cap Gomeh, dan Sate Ayam. Ya udahlah, akhirnya kami sama-sama pesan Lontong Cap Gomeh. Well, makanan dan minumannya sih menurut saya lumayan. Meski sedikit agak mahal ya.

KOPI OEY 1 800px-CoffeeShopSG Tapi, konsep tempatnya sih oke. Dinding berhias art deco, serta ruangan yang kecil (maks 40 orang). Justru menurut saya keunggulannya ada pada varian minumannya. Rata-rata kopinya disedu dengan cara menyaring (kopi-o). Cukup banyak juga varian teh seperti mint dan talua.

Tapiiii, kalau memang konsepnya seperti itu, Kopitiam Oey kurang mengakomodir sensasi ber-kopitiam karena tak menyediakan tempat untuk merokok. Hueheu. Seingat saya sih, keasyikan Kopitiam itu karena letaknya yang outdoor, berada di pinggiran jalan. Lha, kopi kan padanannya dengan rokok dan obrolan. Betul tidak? Tapi ya, tentu saja tidak bisa dibandingkan pinggiran jalan Singapura dan Jakarta. Oh ya dua gambar diatas adalah perbandingan antara Kopitiam Oey dan salah satu Kopitiam di Singapura.

Field Report (FR):
Yang dipesan: 2 Lontong Cap Gomeh, 1 es teh manis, 1 mint tea, dan 1 kroket.
Place : 7,5
Food : 7,5
Service: 7
Satisfaction rate : 7,5
Akan kembali lagi: mungkin (ngga bisa ngerokok)
Damage Cost (DC): 94 k


Citizen Journalism

17 July 2009

64541045785976947583626 Andrew Darwis, owner Kaskus, pernah mengatakan kepada saya bahwa salah satu tujuan dibentuknya komunitas online terbesar di Indonesia itu adalah menjadi wadah bagi citizen journalism (jurnalisme warga).

Dan tentu saja, keefektifan citizen journalism itu sendiri terbukti dari cepatnya mendeliver informasi.

Ledakan dahsyat di Hotel JW Marriott dan Apartemen Ritz Carlton terjadi pukul 7.48 pagi. Lima menit kemudian (pukul 7.55), berita terkait kejadian tersebut sudah di upload di Kaskus. Beberapa menit setelahnya bahkan cukup banyak Kaskuser yang kebetulan sedang ada di lokasi kejadian mengupload foto-foto ter-update di lokasi.

Hal serupa juga terjadi di Twitter. ABCnews mencatat, Daniel Tumiwa adalah orang pertama yang menulis tweets tak lama setelah kejadian. Diikuti oleh Galuh Riyadi, yang mengabadikan foto melalui ponselnya langsung ke Twitter.

Akun Twitter Marriott International, grup J.W Marriot, pun dimanfaatkan untuk memberikan update terhadap kejadian sambil memberikan pernyataan bela sungkawa kepada para korban.

Berturut-turut update terhadap kejadian lantas di lakukan secara berkala melalui Twitter, Facebook, forum-forum online, serta media televisi dan portal internet.

Luar biasa memang era yang disebut CEO Jawa Pos Dahlan Iskan sebagai era informasi ini. Semua bisa memberi dan mendapat infomasi, serta menanggapinya seketika. Positifnya, update informasi dapat diketahui secepat me-refresh akun Facebook di BlackBerry, ponsel, atau komputer kita. Misalnya soal isu bom di Muara Angke yang ternyata hanya truk yang terbakar.

Kecepatan informasi ini juga lah yang membuat pemerintahan Iran kelabakan. Paska kemenangan telak Ahmadinedjad di Pilpres Iran, seluruh jaringan komunikasi dibredel. Ponsel dan SMS ditiadakan, internet, Facebook dan Flicker diputus.

Twitter sendiri masih bisa diakses dengan kualitas buruk. Media luar negeri membuat berita dari rangkuman ribuan tweet dari pewarta Iran yang telah diverifikasi. Ireporter di cnn.com “panen” berita. Ada lebih dari dua ribu kiriman berita dan gambar ke situs ini. Setelah diverifikasi, 79 foto dan video berita yang diterima Ireporter dinyatakan layak tayang

Kembali ke Indonesia. Update berita terhadap JW Marriott dan Ritz-Calton ini akan dilakukan terus menerus oleh media TV dan portal berita. Membongkar hal-hal pokok seperti siapa pelakunya, jumlah korban, kronologi kejadian, kaitan dengan isu politik, hingga snowball effect seperti dampak dari segi ekonomi (melemahnya rupiah dan IHSG) dan lainnya (batalnya kunjungan Manchester United). Ada puluhan angle yang bisa ditulis.

Dan yang terjadi, ini akan jadi PR besar bagi media cetak. Publik tidak cukup puas dengan pengulangan berita yang sudah mereka baca atau dapat. Judul seperti “bom meledak, XXX tewas”, rasanya sudah basi. Seharusnya, media cetak bisa memberikan informasi lebih, memprediksi apa yang terjadi selanjutnya, serta laporan in-depth. Ingat, penetrasi media cetak turun dari 25% hingga 19-20%. Sementara online naik jadi 17%.


Celebrity Chef

15 July 2009

Jamies_italian__20__ready Sebagai seorang celebrity chef, Jamie Oliver memiliki beberapa restoran. Jamie’s Italian dibuka untuk memenuhi hasrat pria Inggris itu terhadap masakan Italia. Restoran tersebut dipuji karena mampu menyajikan keotentikan rasa Italia dengan harga yang “ramah kantong”. ”It shows you can mass produce flavours of Italy for the happiness of the high street,” kata The Independent. Kemudian ada Fifteen yang lebih high class, dengan cabang di Belanda, London, hingga Australia.

Kendati menolak disebut celebrity chef, koki bertangan dingin Gordon Ramsay yang membintangi sederet acara televisi (Hell’s Kitchen, The F-Word, Ramsay’s Kitchen Nightmares) ini benar-benar total terhadap restorannya. Tak heran, sepanjang karirnya ia telah mengumpulkan 16 bintang Michelin.

Michelin stars ini semacam rating yang diberikan pada restoran-restoran terbaik di dunia. Perhitungannya dari 1-3 bintang. 1 untuk fancy, 2 top-notch, dan 3 untuk perfect.

Jagoan masakan Italia Mario Batali juga punya 13 restoran tersebar di New York, Los Angeles, dan Las Vegas. Rachel Ray jangan tanya. Menurut majalah Forbes, perempuan yang mempopulerkan EVOO (extra virgin olive oil) itu adalah celebrity chef berpendapatan terbesar di dunia.

House of Rudy Belum lama ini saya dan pacar bertandang ke House of Rudy Choirudin. Well, dia memang tidak pernah mengklaim sebagai celebrity chef Indonesia. Tapi rasanya ibu-ibu pasti setuju dengan label itu, secara dia eksis banget di televisi. Dan memang salah satu kriteria celebrity chef sendiri adalah seorang chef yang menjadi populer karena sering mendemonstrasikan makanan ke media masa. Terutama televisi.

Tapi sayangnya, pesona dalam mengolah masakan di televisi justru berkebalikan dengan rasa restoran miliknya. Saya dan pacar kompak, masakan di House of Rudy Choirudin biasa saja. Bahkan cenderung mengecewakan. Konsepnya restorannya standar, bahkan menu makanannya pun tidak jelas mengarah kemana. Indonesia kah? Blend Indonesia-Barat kah? Jepang kah?

Saya kecewa, karena datang dengan ekspektasi tinggi bisa mencoba langsung menu-menu masakan tradisional ala Rudy yang terlihat sangat lezat di TV itu. Ya paling tidak, bisa mengecap kelezatan masakan lokal yang jadi signature dia lah. Tapi, tak satupun masakan di menu yang membuat saya tertarik untuk mencoba. Dan setelah mencoba pun, sama sekali tidak terkesan.

Kenapa saya kecewa sangat? Karena saya termasuk suka melihat Rudy membawakan acara masak-memasak (selain tentu saja si hot mama Farah Quinn ya). Oh well, so much for celebrity chef Indonesia. Though, saya masih ingin mencoba Kopitiam Oey di kawasan Sabang yang katanya milik Bondan Winarno. Katanya oke.

Field Report (FR):
Yang dipesan: Ayam penyet, es serbat timur, es the manis (Rp6 ribu aja segelas, set dah), krupuk stick, nippon sukiyaki, sayur asem, dan 2 nasi putih (1 nasi porsinya dikit, bah).
Place : 7
Food : 6
Service: 5.5
Satisfaction rate : 5.5
Akan kembali lagi: tidak
Damage Cost (DC): 92k


Secret Recipe

15 July 2009

collageSaya dan pacar memutuskan untuk mampir di Secret Recipe bukan tanpa sebab. Karena ternyata Pejaten Village, mal baru yang iseng kami datangi saat itu belum menyediakan ATM! Ya ampun. Mal yang sudah dilengkapi studio XXI segala ini justru meninggalkan kebutuhan pengunjung mal yang paling hakiki: ATM. Hehehe.

Kecuali smoking area di luar resto yang berisik dan berpolusi karena berdekatan dengan jalur mobil dari tempat parkir, venue Secret Recipe sendiri cukup lumayan. Well, nggak lumayan, standar lah. Tapi yang membuat terkesan justru menu makanannya.

Secret Recipe ini ternyata adalah rantai resto/café asal Malaysia yang sudah tersebar di berbagai Negara seperti Singapura, Thailand, Filipina, China, hingga Pakistan. Fokusnya pada cake dan fusion food. Restoran yang sudah berdiri sejak 1997 ini ternyata juga sering mendapat awards. Tak hanya dari cake-nya, tapi juga makanannya. Salah satunya Indonesia’s Best Restaurant Award, hingga Best Local Restaurant Chain (Malaysia).

Dan saya pikir, penghargaan tersebut didapat karena konsistensi Secret Recipe dalam menjaga dan memaintain kualitas restorannya. Pilihan makannya sangat beragam (rata-rata masakan Asia), dan makanan di menu yang semua terlihat enak. :p

Grilled Chicken dengan nasi yang saya coba cukup oke lah. Tom Yam Kung kepunyaan pacar juga dinilainya lumayan. Kecuali terlalu banyak rempah yang katanya “agak mengganggu”. Lalu, pelayanannya pun sigap dan ramah. See, ini yang disebut restoran dengan konsep atau karakter.

Field Report (FR):
Pesanan: Grilled Chicken, Tom Yam Kung, Aplle Kasturi, Frost Lemon Tea, Ice Lemon Tea, dan Cheese Cake.
Place : 7
Food : 7,5
Service: 8
Satisfaction rate : 8
Akan kembali lagi: ya
Damage Cost: 150k


J.Cool

15 July 2009

collage2 Sekadar saran, jika ingin memesan J.Cool, pilih yang menu Couple. Karena beneran deh, yang single itu porsinya dikit banget. Apalagi sekarang lagi ada promosi, menu Couple yang seharusnya dapat dua topping, ditambah satu topping lagi.

Soal menu, memang tergantung selera. Saya pilih Bluberry Jam dan Peach, serta Almonds (entahlah, kacang almond dan fro-yo rasanya memang mantab). Total DC-nya cuma 25k. Lumayan kan? Tak sampai 5 menit, sudah bersih tak bersisa. Hihihi.


Kebun Binatang Ragunan

14 July 2009

12072009740 Kadang saya pikir orang Indonesia itu simply pemalas. Punya banyak sumber daya dan potensi, tapi tidak bisa mengolah, memanfaatkan, serta memaintain. Itu yang saya rasakan saat datang ke Kebun Binatang Ragunan, yang katanya terluas se-Asia Tenggara.

Datang kesana bukannya terkagum-kagum, tapi saya dan pacar malah lebih asyik melontar kritik. Mulai ketidaktersediaan peta untuk pengunjung, kereta tur yang terlalu cepat dan tidak terawat, papan penunjuk arah yang membingungkan, dan masih banyak lagi.

Kami juga berandai-andai, apabila pelayanan disana diperbagus, mungkin Kebun Binatang Ragunan tak lagi hanya untuk mereka dari kalangan menengah kebawah. Tapi juga menengah keatas. Karena jujur saja, tempatnya sangat potensial untuk dikembangkan. Hanya, mungkin pengelolanya yang tidak kreatif, atau simply pemalas seperti yang saya sebut diatas.

Karena jarak antar kandang yang terlalu jauh sementara penyewaan sepeda sudah tutup (awalnya kami ingin bersepeda tandem), maka yang paling berkesan mungkin Pusat Primata Schmutzer (PPS). Disini kita bisa ngeliat gorilla, lutung, siamang dan sejenisnya secara dekat. Sebenarnya saya sangat enjoy, tapi sayang karena datang sore, katanya gorilanya sudah dikandangkan.

Alhasil, tak banyak yang kami lihat saat itu. Hanya ular, gajah (yang lagi horny, dan jangan tanya ukuran “itu”nya), kambing (halah!), burung, dan beberapa monyet. Kami memang datang agak sorean. Tapi kok menurut saya lebih asyik ke Kebun Binatang Surabaya yah, karena jarak antar kandangnya tidak terlalu jauh. Jadi tidak capek.


Pancious

9 July 2009

PAnc_phixr Pancake atau kue panekuk merupakan salah satu menu favorit untuk sarapan pagi. Pertama, karena bahannya yang secara harfiah sangat sederhana: tepung, susu, dan telur. Kedua, praktis, karena bisa di-combine dengan berbagai cara.

Dan lupakan dulu menggabung pancake secara tradisional dengan maple syrup. Karena di Pancious, pancake pesanan kita bisa dikemas dengan dengan berbagai “topping”. Mau yang sweet, dipadu dengan siraman saus blueberry, strawberry, caramelized banana, apricot, apple, hingga mango.

Atau, pilih yang savoury, padu padannya dengan daging seperti bolognaise, tuna mayonnaise, smoked beef, smoked salmon, rending, hingga sautéed chicken & mushroom.

Jujur saja, saya termasuk konvensional. Jadi, pancake harus manis. Karena itu saat mengunjungi Pancious di Pasific Place, pilihannya jatuh ke Blueberry Cheese. Pancake, disiram saus blueberry, cheese fudge, dan es krim terlihat menjanjikan. ”Mau single atau double?”. ”Double!” kata saya mantab kepada waitress. Saya waktu itu memang sedang lapar. Minumnya? Fresh Fruit Ice Tea Coctail.

IMG00154_phixr Ehm, Fresh Fruit Ice Tea Coctail yang datang pertama cukup membuat terkesan. Rasanya seperti koktail es buah. Manis banget. Tapi, saya agak terkejut, atau lebih tepatnya terintimidasi melihat size Blueberry Cheese yang datang selanjutnya. Its huge!!!

Benar saya, rasa keju yang kental, manisnya blueberry dikombinasikan dengan rasa manis Fresh Fruit Ice Tea Coctail membuat saya cepat eneg. Blah. Kombinasi yang buruk.

Well, Blueberry Cheese doesn’t impress me much. Tapi, saya masih penasaran dengan Strawberry Waffle dan menu breakfast-nya. Ya, saya adalah penggemar berat menu breakfast. Scramble egg, pancakes, roti bakar, sosis, dan bacon adalah menu favorit saya.

Total pesanan saya: Blueberry Cheese (double), Fresh Fruit Ice Tea Coctail. Pacar: Smoked Beef Fettucini dan jus. DC: Rp140 ribu. Cukup worthed. Apakah saya akan kembali? Ya.


Sour Sally

9 July 2009

IMG00165_phixr Di Jakarta tren memang tidak melulu soal fesyen, tapi bersliweran juga di ranah makanan pengisi perut. Setelah kopi dan donat, sekarang kaum urban Jakarta (tsah!) sedang gandrung frozen yoghurt atau fro-yo.

Salah satu alasan fro-yo digandrungi katanya karena fat free. Bisa makan enak, tapi tetap tidak gendut. Premisnya kira-kira seperti itu. Biasalah, orang Indonesia kan senangnya serbagampang dan serbainstan. haha.

Well, anyway, mungkin sudah rada telat saya menulis ini sekarang, karena trennya sendiri sudah bermula sejak berbulan-bulan lalu.

Tapi ya sudah lah. Karena saya sendiri termasuk penggemar yoghurt, akhirnya ajang incip-incip dimulai dengan J.Cool, fro-yo keluaran J.Co milik Johnny Andrean itu. Sensasi mencoba pertama, cukup lumayan lah. Yoghurtnya tak terlalu asam, liat, mirip es krim. Sensasi ketika dikombinasikan dengan topping longan dan almond, cukup fun. DC (damage cost) sekitar Rp25 ribu. Dengan rincian Rp15 ribu per porsi/cup dan tambahan Rp5 ribu/topping.

Kemarin, setelah makan bersama pacar di Grand Indonesia, akhirnya kami melangkahkan kaki ke Sour Sally, yang disebut-sebut sebagai fro-yo paling happening di Jakarta saat ini. Saya pesan yang medium, dengan topping longan, mangga, dan almond. Sementara pacar pesan small dengan topping longan dan peach.

Hasilnya, menurut saya Sour Sally lebih enak. Karena rasa asam yoghurtnya lebih terasa. Lebih orisinil :p. Cukup asyik pula saat dikombinasikan dengan buah-buahan yang manis. Sayangnya, saya agak terkejut ketika lihat DC Rp70 ribu (berdua). Bah, mahal sekali.

Bukannya apa, saya fine-fine aja membayar mahal untuk es krim di Gelato, Gelare, ataupun Coldstone karena memang sensasi rasa es krim di ketiga gerai itu selalu membuat lidah saya terkejut.

Tapi, membayar lebih dari Rp40 ribu untuk satu cup yoghurt kecil dengan irisan buah mangga, longan,dan kacang almond menurut saya terlalu berlebihan. Apalagi, dengan egoisnya Sour Sally tidak menyediakan tempat duduk buat konsumen untuk menikmatinya, haha. Mental kapitalis.

Jadi kesimpulan terakhir, Sour Sally is highly overpriced and overrated. Sama sekali tidak membuat saya ingin kembali kesana. Memang, ada satu fro-yo lagi, Heavenly Blush. Tapi ah, rasanya saya sudah tidak terlalu tertarik dengan what so called fro-yo ini. Tak lama lagi paling orang juga bakal cepat bosan. Berbeda dengan es krim yang tidak mengenal tren. Dari dulu sampai sekarang masih tetap dicintai, terutama oleh saya. Hahaha.


Traveling Companion

1 July 2009

3 Hari Sudah lama sekali saya berharap bisa melakukan traveling berdua bersama pacar. Bepergian dengan cara backpacking, atau berdua menempuh jalan darat seperti film 3 Hari untuk Selamanya. Traveling bermobil memiliki sensasi kenikmatan berbeda dibanding backpacking, leisure traveling, ataupun beaching. Capek, tapi seru karena lebih personal.

Karena dulu belum punya pacar, saya selalu traveling sendirian (atau kolektif). Sekarang, saya sudah punya pacar yang bisa diajak backpacking. Tapi, belum bisa traveling bermobil berdua karena saat ini saya belum punya mobil. Tapi tidak apa-apa, saya menargetkan kedua rencana itu bisa terwujud paling tidak sebelum pertengahan tahun depan.

Mengapa sih harus traveling bareng pacar? Heidi Muller, Relationship Correspondent di situs Askmen menyebut bahwa melakukan perjalanan kali pertama dengan orang yang kita cintai tak ubahnya menghadapkan sebuah hubungan kepada suatu ujian.

Di saat itu, kata Muller, masing-masing pasangan “diuji” untuk lebih mengenali pasangannya. Juga, dituntut untuk ”belajar” lagi. Belajar berkompromi, belajar menerima, dan belajar berbagai hal lain. “If you are going away with the special lady in your life, the trip should occur after at least three months into the relationship, since by that point, each of you knows whether the other is relationship material,” kata Muller.

PDANG Lalu, kenapa saya menulis soal ini? Karena, besok saya akan menjalani Media Test Drive “Comfort Journey” ke Padang, Sumatera Barat. Jurnalis yang ikut akan menyetir Nissan Livina ke beberapa tempat. Dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang, menuju Lembah Anai, Lembah Harau, Bukittinggi, dan kembali menuju kota Padang melalui Danau Singkarak (lihat peta).

Danau Singkarak yang terletak di ketinggian 36,5 m dpl ini adalah danau terluas kedua di Sumatera setelah Danau Toba. Whoa, membayangkan menyusuri jalanan-jalanan di Sumatera (terutama jalan di tepi Danau Singkarak) membuat saya sangat bergairah.

Jujur, saya jauh lebih tertarik menjejakkan kaki di kota-kota di Indonesia ketimbang harus ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan lainnya. Negara yang sangat luas ini bagi saya masih menyimpan misteri dan potensi keindahan alam yang tak terlukiskan (well, kecuali Eropa, saya tidak menolak. Hehehe).

Saya yang merasa “overload with happiness” ini disingkapi berlebihan oleh si Botak yang mendeskripsikan jalanan di Sulawesi dengan kata sependek “indah”. Ah, mungkin dia tidak tahu rasanya orang yang benar-benar suka traveling.

Menyenangkan? Tentu saja. Tapi, bakal lebih menyenangkan lagi jika saya bisa menjalaninya dengan pacar tercinta. He-he-he. Maaf ya sayang, kali ini aku harus senang-senang sendiri. Tapi nanti saat kita traveling bersama aku yakin rasanya bakal berkali-kali lipat lebih menyenangkan. :p

Going on that first trip with a significant other is a milestone in every relationship, and is a great way to test your compatibility and ability to compromise before moving in together,”-– Heidi Muller, Relationship Correspondent, Askmen.


Pevita Pearce

30 June 2009

n1225200704_30221745_5988Kematian Michael Jackson—Jacko—berimbas global di ranah internet. Situs pencari Google rusak 35 menit karena terlalu banyak pengakses internet mengetik kata “Michael Jackson”. User Wikipedia berlomba mengedit artikel tentang Jacko, sementara situs mikro blogging Twitter kewalahan mengakomodir 66.500 tweet 1 jam sejak laporan Jacko dilarikan ke rumah sakit.

Di berbagai belahan dunia, orang-orang pun menyampaikan duka mereka melalui telepon, SMS, email, Twitter ataupun Facebook kepada si King of Pop.

Memang wajar-wajar saja, jika kemudian seseorang menjadi fans tokoh, selebritis, band, atau public figure tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa rasa keterikatan dengan selebriti tanpa harus saling kenal bisa memberikan dampak positif. Apa itu? Setelah di survey, para subyek yang memiliki rasa percaya diri rendah ternyata cenderung melihat para selebriti favoritnya memiliki citra kepribadian idaman.

Rasa kekaguman ini lantas menjadi alat bantu untuk merenung dan langkah-langkah mental lainnya, seperti merubah energi frustasi menjadi kekuatan positif. Setidaknya itu yang saya dapat dari sini. Well, waktu menginjak remaja, semua pasti pernah merasakan kekaguman begitu dalam, atau istilahnya ngefans, pada seseorang hingga akhirnya mengoleksi fotonya, memajang posternya, dan lain-lainnya.

Dulu saya sempat seperti itu kepada…Dian Sastro. Tepatnya sejak SMA, Ha-ha-ha. Saya menganggapnya sebagai tipikal wanita idaman saya. Cantiknya udah pas, nggak kurang lagi. Pintar juga, berbakat lagi. Saya tonton semua filmnya, sampai bisa ketemu, berfoto, dan mewawancarainya langsung. Ya, ketika pertama kali bertemu dengannya saya hanya speechless, menyodorkan rekorder sambil melongo.

Pevita Pearce_ Yulianto (12) Sambil ”ngefans” Dian Sastro, saya ”ngefans” juga dengan Mariana Renata. Ho-ho-ho. Tapi nggak se-ngefans Dian, karena dia jarang muncul. Saya sempat dua-tiga kali bertemu dengannya dan…speechless juga. Cantiknya memang maksimal.

Eeeh, belakangan ini perasaan “ngefans” itu muncul lagi. Kali kali ini pada…Pevita Pearce. Ha-ha-ha. Secara fisik, ini cewek yang mewakili “tipe saya banget”. Lancip-lancip, rambut panjang, dan senyum yang meluluhkan hati (oke, saya mulai berlebihan). Ada kesamaan nggak sih antara ketiganya? Dian, Mariana, dan Pevita?

Anyway, saya sudah aware saat melihatnya sekilas di Lost in Love. Tapi, tak sempat saya menonton film itu.

Nah, kemarin setelah browsing-browsing di YouTube soal Pevi, wahaha, makin ngefans saja sama gadis kelahiran Jakarta, 6 Oktober 1992 ini. Lucu banget. Oke, mungkin saya akan mulai dengan menonton film-filmnya dulu. Nanti kalau dia main film baru, saya akan meliput konferensi persnya. Karena saya terus terang belum pernah bertemu langsung. He-he-he.