Mengejar Mimpi

24 July 2009

transformers-2-shia-labeouf-and-bumblebee Peralihan dari SMP ke SMA memang bikin saya shock. Ternyata, jadi cowok itu harus punya identitas. Pilih, mau jago di musik, olah raga, pecinta alam, bela diri, otomotif, atau lainnya.

Saya baru tau juga, kalau ternyata tempat parkir sekolah itu jadi ajang pamer ketajiran orang tua masing-masing. Buktinya, enggak cukup tuh bawa mobil bagus ke sekolah, tapi musti diceperin, ditambah spoiler depan, side skirt, ganti velg 17 inci, kasih knalpot ngebronk, plus amplifier dengan speaker 7 inci yang suaranya bisa bikin orang pup di celana.

Saat itu saya sih nggak terlalu tertarik sama dunia "otomotif" karena lagi asik-asiknya ngeband dan maen musik. Toh, saya juga enggak punya mobil bagus yang bisa dipamerin. Saya memang punya mobil, tapi enggak bagus dan enggak bisa sok-sokan dimodifikasi gaya gitu deh.

Bergaul dengan teman-teman yang "bermobil" ternyata membawa kesimpulan baru: ternyata naek mobil bagus itu enak yah. Lebih enak lagi, sambil dibuat pacaran. Dan tentu saja, girls dig car, a lot. Mendapatkan cewek jadi lebih mudah. Meski, pada akhirnya saya tetap bisa mendapatkan cewek–yang dikejar cowok-cowok bermobil bagus—hanya bermodal motor. Huehehe.

Menginjak kuliah, orang tua beli mobil enak dan nyaman. Mesinnya belum EFI, jadi tenaganya doyo dan rada boros. Tapi, saya senang karena audio systemnya sudah built-in CD. Saya menikmati benar mengajak pacar saya dulu naek mobil itu. Apalagi di Surabaya yang jalanannya enggak macet. Jalan-jalan dan kencan jadi lebih asik.

Tak hanya itu, begitu senangnya saya naik mobil, saya sering putar-putar kota selama berjam-jam sambil mendengarkan playlist dari band dan penyanyi favorit saya. Entah kenapa, hal bodoh ini rasanya menyenangkan sekali. Rasanya seperti adrenalin saya dipompa pelan secara konstan.

Tapi, karena mobil itu punya orang tua, jadi menggunakannya juga enggak bisa semena-mena. Saya harus "izin" dulu sama papa. Dan entah kenapa, saya menangkap bahwa ayah saya agak kurang suka kalau saya sering-sering pakai mobil. Bahkan dalam hati saya sempat kesal, bukannya mobil itu gunanya kan buat dipake ya?

Tapi wajar juga sih kalau ayah saya marah, karena saya termasuk pengguna yang tidak bertanggung jawab. Habis make enggak dicuci atau dibersihkan, juga kadang suka ceroboh. Hehehe.

Udah izin keluarnya susah, membawanya pun harus ekstra hati-hati. Hal terakhir yang saya inginkan adalah membuat mobil itu lecet. Wew, membayangkannya pun enggan.

"Beban mental" yang menumpuk itu membuat saya berandai-andai, duh, enak ya bisa punya mobil sendiri. Yang bisa dipake sesuka hati, di modif sesukanya, di bongkar pasang sesuai keinginan.

Sayangnya, itu cuma rencana. Karena harga mobil mahal sekali. Jadi saya kubur dulu impian itu dalam-dalam, seperti Davy Jones menyimpan jantungnya dalam sebuah peti terkunci, dan menguburnya ke pulau tak berpenghuni. Hey, what do you expect? Saat itu saya belum lulus kuliah! Berkerja pun statusnya masih magang.

Belakangan, ketika saya merasa semua kebutuhan tersier saya sudah terpenuhi, tiba-tiba saya ingat dengan secuil impian yang dulu membuat saya tidak bisa tidur. Impian itu, sekarang kembali menari-nari dan menggelitik ulu hati. Apalagi, beberapa tahun terakir ini saya ditempatkan di desk otomotif. Kecintaan dan pengetahuan saya terhadap mobil dan dunia otomotif bertambah pesat.

Saya semakin yakin bahwa mobil menunjukkan karakter dan identitas seorang pria. Lihat saja di film-film crime, detektifnya selalu terlihat keren dengan mobil-mobi yang–juga keren sih. Wkwkwkwk.

Sekarang, impian itu nyaris tak terbendung. Sudah bergejolak. Duh, bagaimana sih rasanya punya mimpi yang diidamkan sedemikian lama, coba diraih dengan keringat dan kerja keras, samar-sama mulai terlihat, dan semoga bisa diraih.

Jadi, jangan, sekali lagi jangan, pernah lagi menggurui saya soal "investasi itu lebih baik rumah atau tanah dulu lah" atau "harga mobil nantinya bakal terus-terusan turun lho". Karena saya tidak setolol itu untuk tidak menyadari logika yang paling mendasar tersebut. Karena setiap orang yang mengatakan hal itu kepada saya, membuat hati ini sakit dan tersinggung. Rasanya, seperti ada yang ingin membunuh mimpi saya.


Facelift

24 July 2009

yaris facelift02 Pernah ngga bertanya-tanya, mengapa Toyota Yaris bisa "diluncurkan" beberapa kali? Modelnya sama, mesin yang digendong pun tak berubah. Perubahannya minim, hanya ada di grill, headlamp, ataupun fitur di dalam kabin seperti jok, dashboard, dan lainnya.

Ini yang disebut facelift. Seperti juga Jacko yang mengoperasi wajahnya secara berkala agar terlihat lebih segar, lebih muda. "Seyogyanya facelift memang perlu dilakukan 2-3 tahun sekali," ujar Teddy Irawan, Deputy Director Nasional Sales & Promotion PT Nissan Motor kepada saya.

Apa saja yang diperbarui? Nah, biasanya ini tergantung pada konsumen maunya apa. Dealer maupun ATPM biasanya mengontak customer secara berkala. Mereka menanyakan keluhan mobil, apa yang kurang dan apa saja yang perlu ditambahkan.

Pada dasarnya, ATPM bisa membuat mobil itu sesuai keinginan customer. Misalnya ingin grill yang lebih sporty, ingin ditambahkan captain seat-tempat duduk terpisah di baris kedua-, ingin sentuhan kayu di dashboard, dan lainnya.

Dalam launching Toyota New Camry belum lama ini, perubahannya terlihat di bagian lampu, grill bersiluet X, hingga rear seat reclining dan kursi pemijat. Harga mobil facelift tentu saja lebih mahal. Oh ya, mobil facelift kebanyakan juga Complitely Knock Down (CKD) alias diproduksi penuh di Indonesia.

Lho, bukannya customer bisa memodfikasi sendiri mobil sesuai selera? Tentu bisa. Tapi, lebih baik mana modifikasi keluaran ATPM dengan bengkel biasa?

Gampangnya, coba lihat Mercedez-Benz yang sudah dirombak oleh modifikator resmi Brabus. Terlihat sangat keren dan pas. Begitu juga Honda dengan Mugen, Mitsubishi dengan Ralliart, dan Toyota dengan TRD. Kalo di modifikasi sendiri, seringnya harus diakali ini itu. Makanya, facelift penting untuk orang2 yang tidak puas dengan fitur lama.

Dalam IIMS 2009, Toyota, misalnya menampilkan beberapa varian facelift seperti Kijang G capt seat, Avanza S dan E, Rush S, Fortuner G, dan Yaris S.

Anyway, bicara ngerombak mobil, Pak Tedy punya pendapat sendiri. "Bikin mobil murah atau mahal itu gampang. Kalau murah, cabut saja semua fiturnya. Begitu juga sebaliknya. Yang susah, bikin mobil murah tapi comfort," katanya.

Ya benar juga, Grand Livina dan Avanza-Xenia hanya terpaut Rp20 juta. Tapi soal fitur dan kenyamanan, jelas jauh sekali. Livina sangat comfort. "Rp20 juta untuk market di segmen mobil itu sangat besar," katanya. "Nyicil Rp140 juta saja sudah ngos-ngosan. Gimana ditambah Rp20 juta lagi. Beda banget dengan market mobil di kisaran Rp400 jutaan. Orang udah ngga mikir lagi, mau ngambil Rp420 juta atau Rp440 juta dengan fitur lebih banyak. Itu yang selalu saya ilang ke prinsipal jepang. Bahwa market Indonesia itu unik".


Kopitiam Oey

18 July 2009

collage3 Setahu saya, Kopitiam di Singapura itu identik dengan gerai-gerai kecil di pinggir jalan yang menyajikan menu makanan breakfast seperti roti, toast, atau telur, serta minuman semacam kopi, teh dan sejenisnya. Lha wong kalau dibahasa Indonesiakan Kopitiam itu artinya warung kopi. Tapi pacar saya ngeyel, “ada nasi gorengnya juga kok, lumayan enak,” katanya. Siang-siang perut lapar, tentu saja saya berharap menu yang “berat”.

Uh oh, benar saja. Ternyata Kopitam Oey memberikan peraturan yang agak strict soal menu. Menu breakfast, hanya boleh dipesan pagi saja. Begitu pun sebaliknya dengan menu untuk lunch dan dinner. Padahal, bagi saya menu makan siangnya tidak ada yang “berat”. Hanya ada Gado-gado, Lontong Cap Gomeh, dan Sate Ayam. Ya udahlah, akhirnya kami sama-sama pesan Lontong Cap Gomeh. Well, makanan dan minumannya sih menurut saya lumayan. Meski sedikit agak mahal ya.

KOPI OEY 1 800px-CoffeeShopSG Tapi, konsep tempatnya sih oke. Dinding berhias art deco, serta ruangan yang kecil (maks 40 orang). Justru menurut saya keunggulannya ada pada varian minumannya. Rata-rata kopinya disedu dengan cara menyaring (kopi-o). Cukup banyak juga varian teh seperti mint dan talua.

Tapiiii, kalau memang konsepnya seperti itu, Kopitiam Oey kurang mengakomodir sensasi ber-kopitiam karena tak menyediakan tempat untuk merokok. Hueheu. Seingat saya sih, keasyikan Kopitiam itu karena letaknya yang outdoor, berada di pinggiran jalan. Lha, kopi kan padanannya dengan rokok dan obrolan. Betul tidak? Tapi ya, tentu saja tidak bisa dibandingkan pinggiran jalan Singapura dan Jakarta. Oh ya dua gambar diatas adalah perbandingan antara Kopitiam Oey dan salah satu Kopitiam di Singapura.

Field Report (FR):
Yang dipesan: 2 Lontong Cap Gomeh, 1 es teh manis, 1 mint tea, dan 1 kroket.
Place : 7,5
Food : 7,5
Service: 7
Satisfaction rate : 7,5
Akan kembali lagi: mungkin (ngga bisa ngerokok)
Damage Cost (DC): 94 k


Citizen Journalism

17 July 2009

64541045785976947583626 Andrew Darwis, owner Kaskus, pernah mengatakan kepada saya bahwa salah satu tujuan dibentuknya komunitas online terbesar di Indonesia itu adalah menjadi wadah bagi citizen journalism (jurnalisme warga).

Dan tentu saja, keefektifan citizen journalism itu sendiri terbukti dari cepatnya mendeliver informasi.

Ledakan dahsyat di Hotel JW Marriott dan Apartemen Ritz Carlton terjadi pukul 7.48 pagi. Lima menit kemudian (pukul 7.55), berita terkait kejadian tersebut sudah di upload di Kaskus. Beberapa menit setelahnya bahkan cukup banyak Kaskuser yang kebetulan sedang ada di lokasi kejadian mengupload foto-foto ter-update di lokasi.

Hal serupa juga terjadi di Twitter. ABCnews mencatat, Daniel Tumiwa adalah orang pertama yang menulis tweets tak lama setelah kejadian. Diikuti oleh Galuh Riyadi, yang mengabadikan foto melalui ponselnya langsung ke Twitter.

Akun Twitter Marriott International, grup J.W Marriot, pun dimanfaatkan untuk memberikan update terhadap kejadian sambil memberikan pernyataan bela sungkawa kepada para korban.

Berturut-turut update terhadap kejadian lantas di lakukan secara berkala melalui Twitter, Facebook, forum-forum online, serta media televisi dan portal internet.

Luar biasa memang era yang disebut CEO Jawa Pos Dahlan Iskan sebagai era informasi ini. Semua bisa memberi dan mendapat infomasi, serta menanggapinya seketika. Positifnya, update informasi dapat diketahui secepat me-refresh akun Facebook di BlackBerry, ponsel, atau komputer kita. Misalnya soal isu bom di Muara Angke yang ternyata hanya truk yang terbakar.

Kecepatan informasi ini juga lah yang membuat pemerintahan Iran kelabakan. Paska kemenangan telak Ahmadinedjad di Pilpres Iran, seluruh jaringan komunikasi dibredel. Ponsel dan SMS ditiadakan, internet, Facebook dan Flicker diputus.

Twitter sendiri masih bisa diakses dengan kualitas buruk. Media luar negeri membuat berita dari rangkuman ribuan tweet dari pewarta Iran yang telah diverifikasi. Ireporter di cnn.com “panen” berita. Ada lebih dari dua ribu kiriman berita dan gambar ke situs ini. Setelah diverifikasi, 79 foto dan video berita yang diterima Ireporter dinyatakan layak tayang

Kembali ke Indonesia. Update berita terhadap JW Marriott dan Ritz-Calton ini akan dilakukan terus menerus oleh media TV dan portal berita. Membongkar hal-hal pokok seperti siapa pelakunya, jumlah korban, kronologi kejadian, kaitan dengan isu politik, hingga snowball effect seperti dampak dari segi ekonomi (melemahnya rupiah dan IHSG) dan lainnya (batalnya kunjungan Manchester United). Ada puluhan angle yang bisa ditulis.

Dan yang terjadi, ini akan jadi PR besar bagi media cetak. Publik tidak cukup puas dengan pengulangan berita yang sudah mereka baca atau dapat. Judul seperti “bom meledak, XXX tewas”, rasanya sudah basi. Seharusnya, media cetak bisa memberikan informasi lebih, memprediksi apa yang terjadi selanjutnya, serta laporan in-depth. Ingat, penetrasi media cetak turun dari 25% hingga 19-20%. Sementara online naik jadi 17%.


Celebrity Chef

15 July 2009

Jamies_italian__20__ready Sebagai seorang celebrity chef, Jamie Oliver memiliki beberapa restoran. Jamie’s Italian dibuka untuk memenuhi hasrat pria Inggris itu terhadap masakan Italia. Restoran tersebut dipuji karena mampu menyajikan keotentikan rasa Italia dengan harga yang “ramah kantong”. ”It shows you can mass produce flavours of Italy for the happiness of the high street,” kata The Independent. Kemudian ada Fifteen yang lebih high class, dengan cabang di Belanda, London, hingga Australia.

Kendati menolak disebut celebrity chef, koki bertangan dingin Gordon Ramsay yang membintangi sederet acara televisi (Hell’s Kitchen, The F-Word, Ramsay’s Kitchen Nightmares) ini benar-benar total terhadap restorannya. Tak heran, sepanjang karirnya ia telah mengumpulkan 16 bintang Michelin.

Michelin stars ini semacam rating yang diberikan pada restoran-restoran terbaik di dunia. Perhitungannya dari 1-3 bintang. 1 untuk fancy, 2 top-notch, dan 3 untuk perfect.

Jagoan masakan Italia Mario Batali juga punya 13 restoran tersebar di New York, Los Angeles, dan Las Vegas. Rachel Ray jangan tanya. Menurut majalah Forbes, perempuan yang mempopulerkan EVOO (extra virgin olive oil) itu adalah celebrity chef berpendapatan terbesar di dunia.

House of Rudy Belum lama ini saya dan pacar bertandang ke House of Rudy Choirudin. Well, dia memang tidak pernah mengklaim sebagai celebrity chef Indonesia. Tapi rasanya ibu-ibu pasti setuju dengan label itu, secara dia eksis banget di televisi. Dan memang salah satu kriteria celebrity chef sendiri adalah seorang chef yang menjadi populer karena sering mendemonstrasikan makanan ke media masa. Terutama televisi.

Tapi sayangnya, pesona dalam mengolah masakan di televisi justru berkebalikan dengan rasa restoran miliknya. Saya dan pacar kompak, masakan di House of Rudy Choirudin biasa saja. Bahkan cenderung mengecewakan. Konsepnya restorannya standar, bahkan menu makanannya pun tidak jelas mengarah kemana. Indonesia kah? Blend Indonesia-Barat kah? Jepang kah?

Saya kecewa, karena datang dengan ekspektasi tinggi bisa mencoba langsung menu-menu masakan tradisional ala Rudy yang terlihat sangat lezat di TV itu. Ya paling tidak, bisa mengecap kelezatan masakan lokal yang jadi signature dia lah. Tapi, tak satupun masakan di menu yang membuat saya tertarik untuk mencoba. Dan setelah mencoba pun, sama sekali tidak terkesan.

Kenapa saya kecewa sangat? Karena saya termasuk suka melihat Rudy membawakan acara masak-memasak (selain tentu saja si hot mama Farah Quinn ya). Oh well, so much for celebrity chef Indonesia. Though, saya masih ingin mencoba Kopitiam Oey di kawasan Sabang yang katanya milik Bondan Winarno. Katanya oke.

Field Report (FR):
Yang dipesan: Ayam penyet, es serbat timur, es the manis (Rp6 ribu aja segelas, set dah), krupuk stick, nippon sukiyaki, sayur asem, dan 2 nasi putih (1 nasi porsinya dikit, bah).
Place : 7
Food : 6
Service: 5.5
Satisfaction rate : 5.5
Akan kembali lagi: tidak
Damage Cost (DC): 92k


Secret Recipe

15 July 2009

collageSaya dan pacar memutuskan untuk mampir di Secret Recipe bukan tanpa sebab. Karena ternyata Pejaten Village, mal baru yang iseng kami datangi saat itu belum menyediakan ATM! Ya ampun. Mal yang sudah dilengkapi studio XXI segala ini justru meninggalkan kebutuhan pengunjung mal yang paling hakiki: ATM. Hehehe.

Kecuali smoking area di luar resto yang berisik dan berpolusi karena berdekatan dengan jalur mobil dari tempat parkir, venue Secret Recipe sendiri cukup lumayan. Well, nggak lumayan, standar lah. Tapi yang membuat terkesan justru menu makanannya.

Secret Recipe ini ternyata adalah rantai resto/café asal Malaysia yang sudah tersebar di berbagai Negara seperti Singapura, Thailand, Filipina, China, hingga Pakistan. Fokusnya pada cake dan fusion food. Restoran yang sudah berdiri sejak 1997 ini ternyata juga sering mendapat awards. Tak hanya dari cake-nya, tapi juga makanannya. Salah satunya Indonesia’s Best Restaurant Award, hingga Best Local Restaurant Chain (Malaysia).

Dan saya pikir, penghargaan tersebut didapat karena konsistensi Secret Recipe dalam menjaga dan memaintain kualitas restorannya. Pilihan makannya sangat beragam (rata-rata masakan Asia), dan makanan di menu yang semua terlihat enak. :p

Grilled Chicken dengan nasi yang saya coba cukup oke lah. Tom Yam Kung kepunyaan pacar juga dinilainya lumayan. Kecuali terlalu banyak rempah yang katanya “agak mengganggu”. Lalu, pelayanannya pun sigap dan ramah. See, ini yang disebut restoran dengan konsep atau karakter.

Field Report (FR):
Pesanan: Grilled Chicken, Tom Yam Kung, Aplle Kasturi, Frost Lemon Tea, Ice Lemon Tea, dan Cheese Cake.
Place : 7
Food : 7,5
Service: 8
Satisfaction rate : 8
Akan kembali lagi: ya
Damage Cost: 150k


J.Cool

15 July 2009

collage2 Sekadar saran, jika ingin memesan J.Cool, pilih yang menu Couple. Karena beneran deh, yang single itu porsinya dikit banget. Apalagi sekarang lagi ada promosi, menu Couple yang seharusnya dapat dua topping, ditambah satu topping lagi.

Soal menu, memang tergantung selera. Saya pilih Bluberry Jam dan Peach, serta Almonds (entahlah, kacang almond dan fro-yo rasanya memang mantab). Total DC-nya cuma 25k. Lumayan kan? Tak sampai 5 menit, sudah bersih tak bersisa. Hihihi.


Kebun Binatang Ragunan

14 July 2009

12072009740 Kadang saya pikir orang Indonesia itu simply pemalas. Punya banyak sumber daya dan potensi, tapi tidak bisa mengolah, memanfaatkan, serta memaintain. Itu yang saya rasakan saat datang ke Kebun Binatang Ragunan, yang katanya terluas se-Asia Tenggara.

Datang kesana bukannya terkagum-kagum, tapi saya dan pacar malah lebih asyik melontar kritik. Mulai ketidaktersediaan peta untuk pengunjung, kereta tur yang terlalu cepat dan tidak terawat, papan penunjuk arah yang membingungkan, dan masih banyak lagi.

Kami juga berandai-andai, apabila pelayanan disana diperbagus, mungkin Kebun Binatang Ragunan tak lagi hanya untuk mereka dari kalangan menengah kebawah. Tapi juga menengah keatas. Karena jujur saja, tempatnya sangat potensial untuk dikembangkan. Hanya, mungkin pengelolanya yang tidak kreatif, atau simply pemalas seperti yang saya sebut diatas.

Karena jarak antar kandang yang terlalu jauh sementara penyewaan sepeda sudah tutup (awalnya kami ingin bersepeda tandem), maka yang paling berkesan mungkin Pusat Primata Schmutzer (PPS). Disini kita bisa ngeliat gorilla, lutung, siamang dan sejenisnya secara dekat. Sebenarnya saya sangat enjoy, tapi sayang karena datang sore, katanya gorilanya sudah dikandangkan.

Alhasil, tak banyak yang kami lihat saat itu. Hanya ular, gajah (yang lagi horny, dan jangan tanya ukuran “itu”nya), kambing (halah!), burung, dan beberapa monyet. Kami memang datang agak sorean. Tapi kok menurut saya lebih asyik ke Kebun Binatang Surabaya yah, karena jarak antar kandangnya tidak terlalu jauh. Jadi tidak capek.


Pancious

9 July 2009

PAnc_phixr Pancake atau kue panekuk merupakan salah satu menu favorit untuk sarapan pagi. Pertama, karena bahannya yang secara harfiah sangat sederhana: tepung, susu, dan telur. Kedua, praktis, karena bisa di-combine dengan berbagai cara.

Dan lupakan dulu menggabung pancake secara tradisional dengan maple syrup. Karena di Pancious, pancake pesanan kita bisa dikemas dengan dengan berbagai “topping”. Mau yang sweet, dipadu dengan siraman saus blueberry, strawberry, caramelized banana, apricot, apple, hingga mango.

Atau, pilih yang savoury, padu padannya dengan daging seperti bolognaise, tuna mayonnaise, smoked beef, smoked salmon, rending, hingga sautéed chicken & mushroom.

Jujur saja, saya termasuk konvensional. Jadi, pancake harus manis. Karena itu saat mengunjungi Pancious di Pasific Place, pilihannya jatuh ke Blueberry Cheese. Pancake, disiram saus blueberry, cheese fudge, dan es krim terlihat menjanjikan. ”Mau single atau double?”. ”Double!” kata saya mantab kepada waitress. Saya waktu itu memang sedang lapar. Minumnya? Fresh Fruit Ice Tea Coctail.

IMG00154_phixr Ehm, Fresh Fruit Ice Tea Coctail yang datang pertama cukup membuat terkesan. Rasanya seperti koktail es buah. Manis banget. Tapi, saya agak terkejut, atau lebih tepatnya terintimidasi melihat size Blueberry Cheese yang datang selanjutnya. Its huge!!!

Benar saya, rasa keju yang kental, manisnya blueberry dikombinasikan dengan rasa manis Fresh Fruit Ice Tea Coctail membuat saya cepat eneg. Blah. Kombinasi yang buruk.

Well, Blueberry Cheese doesn’t impress me much. Tapi, saya masih penasaran dengan Strawberry Waffle dan menu breakfast-nya. Ya, saya adalah penggemar berat menu breakfast. Scramble egg, pancakes, roti bakar, sosis, dan bacon adalah menu favorit saya.

Total pesanan saya: Blueberry Cheese (double), Fresh Fruit Ice Tea Coctail. Pacar: Smoked Beef Fettucini dan jus. DC: Rp140 ribu. Cukup worthed. Apakah saya akan kembali? Ya.


Sour Sally

9 July 2009

IMG00165_phixr Di Jakarta tren memang tidak melulu soal fesyen, tapi bersliweran juga di ranah makanan pengisi perut. Setelah kopi dan donat, sekarang kaum urban Jakarta (tsah!) sedang gandrung frozen yoghurt atau fro-yo.

Salah satu alasan fro-yo digandrungi katanya karena fat free. Bisa makan enak, tapi tetap tidak gendut. Premisnya kira-kira seperti itu. Biasalah, orang Indonesia kan senangnya serbagampang dan serbainstan. haha.

Well, anyway, mungkin sudah rada telat saya menulis ini sekarang, karena trennya sendiri sudah bermula sejak berbulan-bulan lalu.

Tapi ya sudah lah. Karena saya sendiri termasuk penggemar yoghurt, akhirnya ajang incip-incip dimulai dengan J.Cool, fro-yo keluaran J.Co milik Johnny Andrean itu. Sensasi mencoba pertama, cukup lumayan lah. Yoghurtnya tak terlalu asam, liat, mirip es krim. Sensasi ketika dikombinasikan dengan topping longan dan almond, cukup fun. DC (damage cost) sekitar Rp25 ribu. Dengan rincian Rp15 ribu per porsi/cup dan tambahan Rp5 ribu/topping.

Kemarin, setelah makan bersama pacar di Grand Indonesia, akhirnya kami melangkahkan kaki ke Sour Sally, yang disebut-sebut sebagai fro-yo paling happening di Jakarta saat ini. Saya pesan yang medium, dengan topping longan, mangga, dan almond. Sementara pacar pesan small dengan topping longan dan peach.

Hasilnya, menurut saya Sour Sally lebih enak. Karena rasa asam yoghurtnya lebih terasa. Lebih orisinil :p. Cukup asyik pula saat dikombinasikan dengan buah-buahan yang manis. Sayangnya, saya agak terkejut ketika lihat DC Rp70 ribu (berdua). Bah, mahal sekali.

Bukannya apa, saya fine-fine aja membayar mahal untuk es krim di Gelato, Gelare, ataupun Coldstone karena memang sensasi rasa es krim di ketiga gerai itu selalu membuat lidah saya terkejut.

Tapi, membayar lebih dari Rp40 ribu untuk satu cup yoghurt kecil dengan irisan buah mangga, longan,dan kacang almond menurut saya terlalu berlebihan. Apalagi, dengan egoisnya Sour Sally tidak menyediakan tempat duduk buat konsumen untuk menikmatinya, haha. Mental kapitalis.

Jadi kesimpulan terakhir, Sour Sally is highly overpriced and overrated. Sama sekali tidak membuat saya ingin kembali kesana. Memang, ada satu fro-yo lagi, Heavenly Blush. Tapi ah, rasanya saya sudah tidak terlalu tertarik dengan what so called fro-yo ini. Tak lama lagi paling orang juga bakal cepat bosan. Berbeda dengan es krim yang tidak mengenal tren. Dari dulu sampai sekarang masih tetap dicintai, terutama oleh saya. Hahaha.