BMW 320i Executive

28 May 2009

“Saya iri dengan kalian wartawan. Enak sekali, punya kesempatan jalan-jalan, menginap di hotel, sambil mengendarai mobil mewah,” canda Joerg Kelling, Presiden Direktur BMW Indonesia.

Salah satu keuntungan menjadi jurnalis otomotif adalah, mengikuti test drive yang dihelat oleh ATPM ketika meluncurkan seri mobil terbaru. Seruuu!!! Kebetulan, yang saya ikuti adalah BMW 320i Executive yang mendapat beberapa upgrade di fitur dan desainnya.

OKS Pagi kami berkumpul di Starbucks Senayan City, untuk langsung menuju Sirkuit Internasional Sentul, Bogor. Disana, tes dibagi jadi dua. Tes pertama adalah membawa BMW 320i Executive melesat di jalur fast track Sirkuit Internasional Sentul sepanjang 4,12 kilometer dalam tiga lap. Woo, akhirnya kesampaian juga ngebut di Sentul. Wehehe, asli enak banget. Saya sampai coba dua kali.

OKS3Yang kedua, yakni berslalom, berbelok di aspal berpasir yang licin dan memiliki banyak tikungan patah, serta nguji ABS dengan ngerem mendadak di aspal basah. Top. Saya coba dua kali juga :p

Sekitar 10 Mobil yang dibagi dalam beberapa tim kemudian beriringan menuju Bandung. Bully, wartawan Ascomag, yang semobil dengan saya nyetir kayak setan. Wuahaha. Gila, dia jalan 130-140 kpj di jalanan Puncak yang menanjak, berliku, dan dipenuhi bis, truk, serta motor. Tapi asli, dia nyetirnya memang jago banget.

IMG_0545 Sampai di hotel Hilton Bandung jam 4 sore. Wew, lumayan juga ternyata hotelnya. Karena mungkin baru ya. Ruangnya luas, desainnya sip, propertinya juga oke (ada TV flat 32 inci). Setelah makan malam, saya dan beberapa wartawan lain muter-muter mencari cemilan. Dan ya, makanan di Hilton enak banget. Terutama cream supnya, juga scramble egg. Kayaknya baru Hilton yang nyediain scramble di buffet untuk breakfast, tanpa harus pesan dulu seperti kita pesan omelet.

IMG_0602Esok siangnya, tim BMW bertandang sebentar ke ITB, untuk memberikan dukungan berupa dana ke Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Abis itu, lanjut makan siang di The Valley. Saya baru pertama kesini. Tempatnya enak, makannya juga lumayan oke. Sayang saya kesini siang, kalau malam kelihatannya pasti lebih bagus lagi. Diluar ada meja-meja dengan payung, dengan pemandangan langsung city view kota Bandung. Indah dan romantis.

Perjalanan pulang di Jakarta, saya yang nyetir. Enak sih. Cuma, akselerasinya agak kendor kalau gas diinjek spontan. Tenaganya baru muncul di rpm 4000an. Yah, dengan harga Rp600 juta, tentu ekspektasi kita terhadap sebuah mobil jelas tinggi. Kalau saya sih, lebih milih Mazda6 atau Mercy seri C, haha.

OK6 (2)Sampai Sency jam 5 sorean. Ngaso. Jam 7nya, saya harus ke Sarinah karena sudah berjanji karaoke ultah dan farewell party untuk teman kantor. Karena saya tidak bawa motor, jadi saya menunggu si Botak untuk menjemput. Sial, gara-gara ban motor yang bocor, saya menunggu hampir 1,5 jam. Sampai tidak ada wartawan tersisa. Untung, ada Nintendo Wii sebagai pengusir bosan. Juga, Mila, spg BMW yang saya ajak kenalan dan menemani saya ngobrol. Anak London School. Cakep berat bos. Ya iyalah saya dapet nomer telponnya. Huehehe


Sulung-Tengah-Bungsu

25 May 2009

incredibles”Kalau anak bungsu, ya cocoknya sama anak sulung,” kata ibu saya suatu waktu. Perkataan yang mulanya saya anggap enteng itu lama kelamaan mengendap di kepala.

Benar juga ya. Dari dulu, pacar-pacar saya tidak pernah tuh berasal dari anak bungsu, selalu sulung atau tengah. Lebih ekstrim lagi, usia mereka bahkan selalu lebih tua dari saya. Dan ya, ketertarikan saya nol terhadap cewek-cewek ABG. hihihi. Ini mungkin menjelaskan sifat bawaan saya yang egois, self-centered, dan semaunya sendiri.

Ternyata, teori ibu saya-dan mungkin kepercayaan sebagian orang tua-terhadap urusan mencari pasangan hidup ini sudah diteliti oleh pakar pernikahan Kevin Leman. Leman bahkan menyebut bahwa urutan kelahiran tak hanya bisa mempengaruhi perilaku seseorang dalam menjalin hubungan kasih sayang. Tapi juga bagaimana cara bersosialisasi, cara berbisnis, perspektif hidup, dan lain-lainnya.

Memang, teori ini tidak mutlak dan jadi jaminan kebahagiaan. Karena masih banyak faktor yang ikut berperan. Bahkan orang tua saya sendiri sulung-sulung,–meski jarak usia keduanya cukup jauh–. Dan sampai saat ini mereka masih saya anggap sebagai pasangan paling romantis.

Meski tidak mutlak, tapi saya pikir pengaruhnya sangat besar. “Jika Anda ingin bahagia dalam pernikahan, cari pasangan yang berbeda dari posisi Anda. Semakin jauh semakin baik” kata Leman. Dan semuanya bisa dilogikan kok. Tulisan ini saya dapat di milis, tapi diringkas saja.

Sulung + Sulung , Tunggal + Tunggal = Perebutan kekuasaan
Berpeluang besar untuk sering bertegang urat. Masing-masing senantiasa suka berkeras dalam menentukan siapa pemberi dan penerima perintah.

Sulung + Tengah = Paradoks
Sebagai anak yang memiliki kakak dan adik, anak tengah terbiasa berkompromi, bernegosiasi dan tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya.

Sulung + Bungsu = Happy Ending
Riset terhadap tiga ribu pasangan membuktikan bahwa pasangan ini secara alamiah tertarik satu sama lain. Anak sulung mengajarkan hal-hal seputar prinsip hidup dan rencana masa depan, sedangkan anak bungsu membantu pasangannya untuk lebih santai dalam menghadapi hidup. Saling melengkapi.

Tengah + Tengah = Kacau?
Kelemahan pasangan ini terletak pada komunikasi yang terhambat. Keduanya menghindari kemungkinan perdebatan dan masing-masing juga cenderung merasa kalau pendapatnya tidak begitu penting.

Tengah + Bungsu = Aman
Kemungkinan sukses kombinasi ini sangat besar, karena merupakan campuran dari
si negosiator dan si makhluk sosial. Entah bagaimana rumusnya, tetapi jika
mereka disatukan akan terjadi komunikasi yang sangat lancar.

Bungsu + Bungsu = Kalang Kabut
Sama egois dan acap saling menyalahkan. Tingkat friksi dan konflik lebih besar. Harus ada pihak yang mau mengalah.

Ohya, setelah saya amati lagi dari lingkungan pergaulan (peer group) saya dan teman-teman saya, urutan kelahiran ini juga cukup berpengaruh terhadap bagaimana seseorang mencari sahabat dekat. Saya, misalnya, merasa lebih nyaman di lingkungan sahabat dengan urutan kelahiran sulung, meski tidak mutlak.

Menghadapi anak bungsu, jelas saya harus berdamai dengan ego, dan sifat-sifat saya lainnya. Lebih banyak bersabar dan bertoleransi. Rasanya seperti saya menjadi pribadi yang berbeda. Tapi, jika berinteraksi dengan sulung, rasanya lebih nikmat. Saya bisa menjadi diri sendiri. Lebih bebas dan plong.


DSS Urban Jazz Crossover 2009

25 May 2009

Jazz URBAN JAZZER : Sherry, Novi, Dita, saya, Oji, dan Reza.

Pertama dan terakhir kali saya ke Ritz-Carlton Pasific Place adalah menonton konser penyanyi smooth jazz bersuara datar-lembut-mengayun Michael Franks. Hitsnya seperti The Lady Wants to Know, When the Cookie Jar is Empty, When I Give My Love to You, atau Popsicle Toeshampir selalu berada di playlist saya.

Ballroom Ritz-Carlton, yang disebut salah satu ballroom hotel terbesar di Jakarta, memang cukup populer dijadikan venue show dengan penampil menengah ke atas. Karena itu, tak heran jika DSS Urban Jazz Crossover 2009 digelar pula ditempat ini. Mengambil segmen pononton sekitar 20-40an tahun.

Apa sebenarnya Urban Jazz Crossover itu? Well, definisinya sih, sebuah padupadanan berbagai atribut musik seperti electric dance, pop, rock, jazz, hingga swing dalam sebuah aransemen yang dibawakan oleh berbagai musikus secara rancak. Yah, cukup seru lah acaranya. Panggungnya juga keren berat. Saya akui, soal stage, Dji Sam Soe tidak pernah mengecewakan. :p

Saya datang berdua dengan Reza, setelah sebelumnya dia saya “paksa” menunggu, karena saya ada janji makan malam bersama agensi Publicist Dialog di restoran Thailand Blue Elephant, fX Lifestyle X’nter. Di venue, kita menikmati show dengan beberapa teman saya, serta teman-teman satu kantor Reza di IndoPacific Edelman. Ya, semuanya cewek. Hehe.

* Thanks for Oji yang udah memberi tiket masuk. :p


Ujung Kulon

23 May 2009

4395_83580254933_754254933_1841090_1865772_n Sial, sudah hampir seminggu ini otak saya kurang bisa diajak bekerja sama untuk berpikir. Mood untuk menulis dan mengedit rasanya susah sekali keluar.

Dugaan saya, mungkin karena mode ”liburan” masih menyala aktif di otak, dan belum kembali lagi ke mode “bekerja”. Hihi. Jadilah otak saya agak macet kalau disuruh mikir dan bekerja, maunya liburan mulu. Huehue.

Padahal kalau dipikir-pikir, sehari-harinya saya juga jauh dari bekerja. Karena apa yang saya kerjakan tidak jauh-jauh dari apa yang saya sukai. Bertemu dengan banyak orang, hadir ke acara-acara tertentu, serta menulis bidang-bidang yang jadi hobi saya. :p

Oh ya, foto-foto ini diambil dari trip saya ke Ujung Kulon pada 15-17 Mei lalu. Rombongan beranggotakan 24 orang yang berangkat masih serupa dengan yang ke Karimunjawa (diorganisir oleh teman saya Indra Patriasandi). Memang lebih banyak personel baru, tapi tak menghalangi trip tetap berlangsung seru. Hehehe.

UK 1Tidak seperti aktivitas di Karimunjawa yang hanya beaching, island hopping, dan snorkeling, di Ujung Kulon kami melihat satwa, trekking, island hopping, juga snorkeling. Meski agak capek, tapi tetap mengasyikkan. Sudahlah, saya tidak ingin bercerita lebih banyak lagi karena malah membayangkan pantai nih jadinya. Hihi.

Selasa depan ini rencananya saya ada trip kecil ke Bandung untuk test drive BMW Seri 3 terbaru. Dari rundown acaranya sih kelihatannya seru. Kalau jadi, ini adalah test drive keluar kota pertama saya dengan acara yang diorganisir oleh ATPM. Yeah, seri 3 selain macho dan sporty, juga lebih lincah. Tak sabar mencobanya.

Tapi, yang saya tunggu adalah rencana liputan Rally ke beberapa kota di Indonesia seperti Medan, Palembang, Balikpapan, dan Jakarta dengan agenda sekali sebulan. Deuh, melihat mobil beradu cepat di lintasan berlumpur, meliput, dan diluar kota pula. Rasanya tak ada yang lebih mengasyikkan dari itu. Hehehe.

Masalahnya, salah satu Jadwal rally itu bertepatan dengan rencana trip si Indra ke Derawan Island, di Kalimantan Timur pada akhir Juli nanti. Daftar itenary dan rundown yang dikirimkan ke email saya membuat adrenalin ini bergejolak. Argh, kayaknya bakal supermengasyikkan.

Problem kedua, trip kali ini butuh bujet yang nggak sedikit dan waktu yang sedikit lama (6 harian). Itu jadi masalah baru buat saya, teruma soal keterbatasan cuti. Karena itu sampai sekarang masih bingung menentukan. Kalau tur Rally itu jadi, trip ke Derawan bisa jadi saya batalkan. Begitupun sebaliknya.

IMG00049Oh ya, pertengahan bulan depan kabarnya Nokia juga berencana mengajak media untuk gathering di Bogor. Yay. Jalan-jalan lagi dong. Hahaha.

Anyhow, entah ada hubungannya atau tidak antara ketagihan saya dengan traveling dan tas ya. Tapi, setelah saya bongkar-bongkar tas di kamar ternyata banyak banget. Dari yang buat laptop, backpack, sampai shoulder bag. Dari yang dapat dari launching, sampai yang beli sendiri. Dari Eiger, Crumpler, Lowepro, sampai Targus. Hmmh…


Karimunjawa

18 May 2009

Dua Hari, Delapan Pulau

Apetite (4)Snorkeling dan diving bukanlah tujuan utama saya saat bertamasya di kepulauan Karimunjawa, kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dengan 27 gugusan pulau kecil yang siap dijelajahi, island hopping justru menjanjikan adiksi lebih besar.

Jika Three Gillis (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air) di Lombok, NTB, sudah Anda anggap kehilangan daya pikatnya, maka sudah saatnya mengalihkan tujuan wisata ke Kepuluauan Karimunjawa, yang disebut sebagai surganya para pencari pulau (island seeker).

Dan jika Anda merasa pernah mendengar Karimunjawa dari promosi mulut ke mulut, itu karena untaian pulau-pulau kecil ini memiliki daya pikat magnetis. Begitu pulang, sudah tak sabar untuk datang lagi. Tapi, kalau memang digambarkan begitu elok, kenapa Karimunjawa tidak sepopuler Bali atau Lombok, misalnya?

Jawabannya cukup pelik. Pertama, karena keterbatasan transportasi. Karimunjawa dapat dicapai dari Semarang lewat pelabuhan Tanjung Mas, atau dari Jepara lewat pelabuhan Kartini. Kapal menuju kesana tidak berangkat setiap hari.

KMC Kartini I hanya berangkat dari pelabuhan Tanjung Mas setiap Sabtu pukul 9.00 WIB dan Senin pukul 7.00 WIB. Sementara KMP Muria di Jepara berangkat setiap Sabtu pukul 9.00 WIB dan Rabu pukul 9.00 WIB.

Jika ingin kembali dari Karimunjawa, lagi-lagi harus menyesuaikan jadwal kapal yang berangkat setiap Minggu dan Selasa (KMC Kartini I) atau Senin dan Kamis (KMP Muria). Terbatasnya waktu kunjungan inilah yang membuat penduduk Karimunjawa tetap bermata pencaharian utama sebagai nelayan, tidak menggantungkan diri pada sektor pariwisata. Selain tentu saja persoalan klise bahwa sektor pariwisata di kawasan tersebut belum dimaksimalkan.

Faktor cuaca yang tidak bersahabat terkadang mengikis niat wisatawan yang ingin kesana. Periode November-Maret, laut bisa sangat ganas. Pada awal 2008, misalnya, gelombang besar yang mencapai 2,5 meter membuat Kepulauan Karimunjawa yang berpenduduk 8.600 jiwa itu terisolasi. Tidak ada kapal yang berani kesana.

Karenanya, saya bersama 20-an traveler lainnya sengaja datang di awal April untuk memudahkan hopping dari pulau ke pulau. April-Oktober adalah musim kunjungan terbaik. Maklum, di musim peralihan hujan dan kemarau tersebut air bisa sangat tenang. Begitu tenangnya, konon permukaan laut bisa serata air di kolam.

Terapung di Wisma Apung

Apetite (7)-1Kendati jumlahnya terbatas, tapi Kepulauan Karimunjawa yang berjarak sekitar 134 km di utara Semarang atau sekitar 89 km di sisi barat laut Jepara itu menyediakan beragam jenis akomodasi. Ada pondok tinggal (home stay), wisma, hotel dan resort, serta pondok apung. Jumlahnya ada 40-an di seluruh kepulauan dengan kisaran harga mulai Rp40 ribu-Rp300 ribu per malam.

Rombongan kami memilih menginap di Wisma Apung, yang mengambang di laut lepas antara pulau Karimunjawa dan Menjangan Besar. Fondasi Wisma Apung berdiri diatas laut dangkal. Dibawahnya tersebar koral dan terumbu karang beraneka warna. Kalau mau, tamu bisa langsung meloncat di depan kamar untuk snorkeling, berenang, atau memancing.

Bangunan penginapan dengan 10an kamar AC dan non-AC itu tersusun seutuhnya dari papan-papan kayu. Celah-celah dibawahnya hanya seinci jaraknya dari permukaan laut yang dangkal. Di dalam kamar, gemercik air laut terdengar dari bawah, mengentalkan sensasi tidur terapung diatas kapal.

Asyiknya lagi, Wisma Apung juga menyediakan kolam berisi 10an ekor hiu putih dan hiu pari sepanjang lengan orang dewasa. Sebagian tamu menganggap berenang bersama hiu adalah ”uji nyali” yang wajib dilakukan begitu menginjak Wisma. Meski hiu-hiu kecil itu terlihat harmless, berenang dalam jarak yang sangat dekat tetap saja membuat adrenalin bergejolak.

Ingat, listrik hanya hidup dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, mengandalkan tenaga seutuhnya dari generator. Ini momen yang tepat untuk men-charge ponsel atau kamera digital. Jadi, selamat saja bagi mereka yang kamarnya dekat generator. Siap-siap mendengarkan deru mesin sepanjang malam.

Rencana Matang

Apetite (2)Ada 27 pulau di Karimunjawa yang menunggu untuk dijelajahi. Lima pulau terbesar, Pulau Karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan Pulau Genting, sudah ditinggali. Sisanya adalah pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni, menyimpan keindahan dan misteri.

Sayangnya, banyak traveler melewatkan kesempatan island hopping karena minimnya perencanaan. Dengan jarak antarpulau yang bisa memakan waktu 1-2.5 jam, perencanaan harus tepat. Kita juga harus mem-booking kapal, berikut guide untuk mengantar berkeliling.

Beruntung, Hasim As’ari, tour guide kami, kompak mengikuti keinginan anggota tur yang memang sudah beberapa kali menjejakkan kaki di Karimunjawa. Kami tiba di Wisma Apung pukul 1 siang, dan bergegas mengejar target tiga pulau, yakni Menjangan Besar, Menjangan Kecil, serta Tanjung Gelam.

Pada momen inilah saya merasakan betapa cuaca di Karimunjawa bisa berubah drastis dalam waktu singkat. Waktu berangkat dari Tanjung Mas, Semarang, pagi tadi, langit begitu terik. Tapi, begitu kami tiba di Pulau Menjangan Kecil, mendung tampak menggeliat, bersambut ritik air hujan.

Karena sudah tak sabar, kami langsung meloncat dari kapal, menceburkan diri ke laut untuk snorkeling. Sayang, waktu yang terlanjur sore serta sinar matahari yang bersembunyi dibalik mendung dan hujan, membuat visibility (jarak pandang) jadi terbatas.

Pulau Menjangan Kecil memiliki terumbu karang pantai (fringing reef) yang lebih bagus dari Menjangan Besar. Tak heran, banyak wisatawan yang menyewa glass bottom boat (perahu yang dasarnya dari kaca) untuk menikmati taman laut disana.

Disekitar Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar ada bangkai kapal Panama Indono yang tenggelam pada 1955. Kini, reruntuhan kapal yang sudah berubah menjadi habitat ikan itu acap digunakan sebagai lokasi penyelaman (wreck diving).

Karena hujan semakin deras, kami juga membatalkan rencana ke Tanjung Gelam. Benar saja, di perjalanan pulang, kapal motor nelayan yang kami tumpangi dihantam gelombang, dihempas hujan deras. Sementara penumpangnya ditusuk hawa dingin. ”Hari ini kita tidak beruntung. Tapi semoga besok cuacanya membaik,” ujar Ari, sapaan akrab Hasim As’ari.

Pulau Eksotis, Suasana Magis

Hujan bercampur angin yang menebarkan hawa dingin bergulir pada pagi keesokan harinya. Untunglah, kekhawatiran kami sirna ketika matahari bersinar terik tepat disaat kami meninggalkan Wisma Apung untuk memulai island hopping tepat pada pukul 8 pagi.

Tujuan pertama adalah Pulau Cilik, yang memiliki dermaga cantik dan eksotik. Letak Pulau Cilik di sisi barat Pulau Karimunjawa membuatnya menjadi bagian dari zona penyangga Taman Nasional laut Karimunjawa. Pulau-pulau di zona penyangga ini memang digunakan untuk daerah wisata bahari serta aktivitas para nelayan.

Pulau Cilik juga salah satu dari delapan pulau di Karimunjawa yang dimiliki perorangan. Menurut Data dari Balai Taman Nasional Karimun Jawa, pulau tersebut dikelola oleh PT Raja Besi Semarang. Buktinya, memang ada beberapa rumah di pulau itu yang sesekali disinggahi pemiliknya. Keempat pondok yang berjarak beberapa meter dari pantai berpasir putih lembut dan masih alami itu dijaga dan diurus oleh satu keluarga nelayan yang tinggal disana.

Lupakan dulu soal pantai, karena tujuan kami berikutnya, Pulau Tengah, menunjukkan keindahan taman laut Karimunjawa sesungguhnya. Ya, pulau ini termasuk primadona karena kelestarian terumbu karang di dalamnya masih terjaga.

Apalagi, struktur tanahnya sloppy, menurun kebawah. Ini membuat pemandangan bawah laut terlihat jauh lebih indah. Ikan-ikan beraneka warna bergerombol, juga bersembunyi di terumbu karang pantai tepi (fringing reef). Sinar matahari menembus kedalaman laut, menyinari koral, memendarkan warna ikan. Pemandangan yang luar biasa cantik dan layak dikenang.

Apalagi, di Pulau Tengah juga tidak ada sea urchin atau bulu babi, binatang laut berduri seperti landak yang tersebar di pulau-pulau kecil Karimunjawa. Dan karena ia hidup di perairan dangkal, sering penyelam tertusuk duri bulu babi yang beracun. Cara menyembuhkannya cukup unik, disiram urine manusia karena mengandung amoniak untuk menetralisir racun.

Di Pulau Cendekian dan Pulau Cemara Besar, kami disambut padang lamun (seagrass), yang sekilas terlihat seperti hamparan kehijauan di bibir pantai. Seagrass tak hanya jadi tempat hidup ikan, kepiting, atau bulu babi. Pelengkap ekosistem mangrove dan terumbu karang ini juga mencegah erosi, serta memperlambat gerakan air akibat arus dan ombak, sehingga perairan menjadi tenang.

Pulau Cemara Besar mungkin tidak memiliki taman laut seindah Pulau Cendekian. Tapi, kesan paling indah justru ada di Cemara Besar, saat kami menyusuri padang Lamun dan makan siang diatas gundukan pasir di bibir pantai.

Di Pulau Cemara Kecil, kami disapa alang-alang, bakau, karang batu, semak belukar, serta pohon kayu stigi. Pulau ini paling kotor. Di sekitarnya tersebar ada ranting pohon, dan sampah yang hanyut. Bahkan, ada banyak sendal yang kehilangan pasangan. ”Katanya, pulau ini digunakan untuk dugem oleh para bule,” ujar Ari, tour guide kami.

Rombongan akhirnya mengakhiri hari di Tanjung Gelam. Disana, dipayungi pohon kelapa, kami menunggu sunset. Dalam perjalanan pulang, kami mengalami sendiri bagaimana air laut menjadi begitu tenang, seperti air kolam, menciptakan suasana yang magis. Tak terasa, sudah 8 pulau yang kami singgahi. Lain waktu, saya berjanji akan kembali, menyusuri pulau-pulau yang tersisa. (*)

* artikel ini dipublikasikan di majalah Appetite Journey edisi Mei 2009.


Berdoa

1 May 2009

prayerDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Setelah lama tidak sholat, dan kemudian menunaikan lagi, saya tersadarkan kembali dengan satu hal: kenikmatan berdoa. Momen beberapa menit setelah salam itu saya rasakan sebagai waktu terdekat manusia dengan Tuhannya.

Momen itulah saat manusia bisa “curhat” kepada Sang Pencipta soal problematik, keinginan, perasaan, pikiran, yang ia hadapi dalam kehidupan ini dengan sangat tulus. Dengan berdoa, kita seperti mendapat energi baru untuk menjalani kehidupan, menghadapi masalah, serta mengejar mimpi.

Doa merupakan naluri manusia yang tumbuh berlembaga, sadar atau tidak sadar manusia terdorong untuk harus melaksanakannya; sama seperti bernafas, makan dan minum. Ketika kita benar-benar sendiri, tidak ada lagi tempat untuk berlari selain kepada Tuhan.

Sampai SMA pun, saya masih sering menunaikan sholat malam untuk berdoa lebih khusyuk, lebih dekat dengan Tuhan. Tapi, makin bertambah umur, jarak saya dan Tuhan justru semakin jauh ya. Apalagi setelah datang ke Jakarta.

Karena itu, terkadang saya tak habis pikir. Begitu jauhnya saya dengan Tuhan, tapi begitu murahnya Dia memberi segala kemudahan dalam kehidupan saya. Terkadang saya juga merenung, bertanya-tanya apakah ini karena ibu saya, yang mendoakan siang dan malam demi anak cowok satu-satunya ini. :p

“Kalau kamu sendiri tidak Sholat, doa mama akan sulit nyambungnya,”. Entah, berapa kali orang tua saya mengingatkan pentingnya mendirikan sholat sebagai tiang agama. Tapi, sesering itu pula saya tinggalkan. Saya mendapatkan kedamaian luar biasa saat menjalankannya, merasa utuh sebagai manusia. Tapi, begitu mudah pula saya dekati godaan syetan.

Oh Tuhan, maafkan lah hambamu ini, dan berilah kekuatan untuk selalu berada di jalanmu. Amin.