Bioskop 3D

28 April 2009

aku-republikaBioskop 3-D atau 3-D theater menawarkan sensasi menonton jauh lebih seru dan menyenangkan. Tak heran, kedepannya tren menonton dalam bioskop 3-D ini akan terus mengekskalasi.

Film animasi Monsters vs. Aliens belum juga dimulai. Namun, Arief Tri Susanto sudah tidak mampu memendam kekagumannya saat menyaksikan bridging DreamWorks Animation, studio yang memproduksi film tersebut.

Visual yang tersaji di layar memang menakjubkan. Planet-planet kemerahan bertebaran di angkasa. Terlihat tajam dan realistis.
Dan ketika film yang disuarakan Reese Witherspoon, Seth Rogen, serta Hugh Laurie itu benar-benar dimulai, kekaguman mahasiswa Binus University Jakarta ini semakin menjadi.

Benda-benda dari layar yang seolah-olah berloncatan, membuatnya melompat dari tempat duduk. Sensasi itu memang hanya bisa didapat di bioskop 3-D Blitzmegaplex Grand Indonesia yang baru dibuka Rabu (8/4). ”Dibandingkan film 3-D yang pernah saya tonton, sekarang teknologinya jauh lebih bagus. Lebih realistis,” papar Arief.

Ya, di Amerika pun, bioskop 3-D saat ini sedang populer. Salah satu pemicunya adalah kesuksesan Monsters vs. Aliens di tangga box office, mencatat rekor pendapatan hingga USD58.3 juta di minggu pertamanya.

Film yang dirilis dalam format 2D dan 3-D sekaligus itu ternyata mendapat pemasukan besar dari penonton di bioskop 3-D. Padahal, dari total 7,000 bioskop di Amerika, baru 2,080 diantaranya yang mengakomodasi teknologi 3-D.

Para analis menyebut, Monsters vs. Aliens juga bakal mengawali tren film 3-D masa depan, yang tidak lagi terbatas pada genre animasi saja. ”Kedepannya, film 3-D akan mengakomodir genre seperti horor, komedi, bahkan art house. Step Up 3-D, Tron, atau My Bloody Valentine adalah film live-action 3-D,” ujar Greg Foster dari Imax Filmed Entertainment.

Tahun ini, ada lebih dari 10 film yang akan tayang dalam format 3-D. Sekitar 40 lainnya sedang dalam tahap produksi. Kebanyakan dihasilkan oleh studio-studio besar seperti Lionsgate Films hingga Walt Disney Co.
Tak hanya itu, sutradara A-list seperti James Cameron (Avatar), Steven Spielberg (The Adventures of Tintin: Secret of the Unicorn) serta Robert Zemeckis (A Christmas Carol) juga tak sabar untuk menayangkan karya 3-D mereka.

Jika dihitung, bujet produksi film 3-D memang 15% lebih besar. Tapi, studio-studio raksasa Hollywood tetap optimistis karena merasa peluang genre film ini masih terbuka lebar. Selain harga tiket lebih mahal, film berformat khusus ini tidak bisa dibajak karena harus ditonton dengan kacamata khusus.

Teknologi RealD

Berbeda dengan jaringan bioskop 21 yang menggunakan teknologi 3-D Dolby, bioskop 3-D di Blitzmegaplex Grand Indonesia membenamkan teknologi yang disebut RealD. Dampaknya, gambar 3-D jadi terlihat lebih hidup dan cerah. Suaranya pun jauh lebih jernih dan garang.
Untuk menikmatinya, penonton harus menggunakan kacamata 3-D Cinema Eyewear. Kacamata itu memiliki desain stylish, juga lebih nyaman dikenakan untuk mereka yang berkacamata sekalipun.

Apa sebenarnya yang membedakan RealD dengan teknologi di film 3-D sebelumnya? Pertama, RealD menggunakan single digital projector, yakni sebuah sistem proyeksi sempurna bagi film 3-D. Teknologi ini membuat kedua mata, baik kiri maupun kanan, menerima gambar dengan akurasi komplet.

Ini berbeda saat kita menonton film 3-D dengan kacamata plastik yang terkadang membuat gambar terasa lebih gelap. Atau, ada warna-warna tertentu yang lebih dominan di salah satu mata. Sebabnya, kacamata itu hanya melakukan pemisahan warna (color separation).

Nah, lensa 3-D Cinema Eyewear ini membongkar ketidaknyamanan itu dengan melakukan polarisasi warna, sehingga tidak menghambat tergabungnya gambar dengan warna. RealD juga memakai sistem proyeksi stereo pertama untuk bioskop digital. Hasilnya, saat menonton, gambar yang dilihat jadi lebih nyata, jelas, jernih, dengan kualitas suara memuaskan.

Tentu saja, menghadirkan kualitas bioskop 3-D RealD tidak murah. Setidaknya ada tiga elemen yang harus dicukupi. Pertama, proyektor khusus single digital projector yang harganya mencapai Rp1 miliar rupiah.

Hardware berikutnya adalah silver screen, yakni layar abu-abu yang lebih powerful dalam memantulkan cahaya. Efeknya, gambar akan terlihat terang dengan efek 3-D yang jelas.

Elemen terakhir, tentu saja 3-D Cinema Eyewear yang sekilas terlihat seperti kacamata gaya dengan bingkai hitam. Meski ukurannya besar, namun ringan dan nyaman dipakai. ”Kacamata tersebut akan dipinjamkan saat menonton. Untuk harga aslinya mulai USD5-USD26,” ujar Komisaris Blitzmegaplex David Hilman.

Dengan investasi sebesar itu, tak heran jika penonton harus membayar lebih mahal. Di Grand Indonesia, harga tiket hari Senin-Kamis Rp50 ribu, sementara Jumat-Minggu atau hari libur Rp100 ribu. Sedangkan di Mall of Indonesia (MOI), tiketnya lebih murah, yaitu Senin-Kamis Rp40 ribu dan Jumat-Minggu dan hari libur Rp70 ribu.

Targetkan Segmen Keluarga

Apa yang membuat Blitzmegaplex berani menghadirkan bioskop 3-D dengan teknologi terbaru itu? Marketing Manager Blitzmegaplex Dian Sunardi mengaku mendapat banyak permintaan dari penonton. ”Karena itu, akhirnya kami wujudkan,” ujar Dian.

Dengan segmen niche, Blitzmegaplex juga punya beberapa strategi agar bioskop ini bisa bertahan lama. Salah satunya hanya menempatkan bioskop 3-D di lokasi yang dekat dengan kompleks perumahan.

”Sengaja hanya Blitzmegaplex Grand Indonesia dan Mall of Indonesia (MOI) yang difasilitasi, karena lokasinya dekat dengan perumahan. Bioskop 3-D kan lebih banyak menayangkan film animasi, maka kita lebih mengarahkannya ke bioskop untuk keluarga,” kata Dian.

Selanjutnya, direncanakan juga untuk membuat merchandise untuk penonton. Misalnya t-shirt dan topi bertuliskan 3-D. Dalam waktu dekat, merchandise ini akan dipakai oleh para petugas untuk menarik minat pengunjung. ”Bagi mereka yang mencintai film, merchandise seperti ini adalah barang yang harus dibeli,” tambah Dian.

Blitzmegaplex tampaknya sudah matang berhitung tentang fasilitas barunya ini. Apalagi mereka sudah mencatat bahwa tahun ini akan ada 14 film 3-D yang diproduksi Hollywood. ”Sepuluh film diantaranya dipastikan masuk Jakarta. Filmnya mulai dari animasi sampai feature. Jadi kita lihat saja nanti,” kata Komisaris Blitzmegaplex David Hilman.

* Ita, gue pajang tulisan lo yang udah gue utak-atik disini ya. Btw, aslinya cuma mau pamer kalo foto gue masuk Republika Minggu, dan itu bukan bioskop 3D, tapi pas acara Blitz Dinning Cinema. Cuma buat nyambungin aja. huakakaka.


Mengejar Ombak

27 April 2009

childsj-0805-08-105Film dokumenter Mengejar Ombak (Chasing Waves) membuat olah raga surfing menjadi dekat dengan pentonton karena penyajiannya yang hangat, intim, dan jujur.

Film tentang surfing terbagi dua genre. Pertama, kemasan dokumenter yang lebih menyoroti aksi para surfer dalam membelah ombak. Dan kedua, film biasa yang memiliki latar olah raga surfing seperti Big Wednesday, Blue Crush, Point Break, hingga animasi Surf’s Up.

Mengejar Ombak (Chasing Waves) arahan sutradara Dave Arnold dan Tyrone Lebon ini memang mengadopsi genre pertama. Tapi, pendekatan yang mereka lakukan berbeda. Sebuah dokumentar yang character based.

Alasannya, bukan sekadar kehidupan subyek film ini, Dede Suryana, yang memang spesial. Tapi, juga keinginan Dave dan Tyrone untuk membuat film yang hangat dan dekat dengan penonton Indonesia.
Maklum, surfing, seperti halnya skateboard, sejak dulu hanya menjadi sebuah subkultur. Apalagi di Indonesia. Selain kurang diminati, dianggap kebarat-baratan, bahkan tidak bermasa depan. Padahal, industri surfing adalah industri yang sangat besar. Begitupula dengan Indonesia, yang disebut Disneyland-nya para surfer.

Dan untuk mengajak penonton menyadari fakta itu, terlebih dulu kedua sutradara asal Inggris ini menunjukkan kehidupan Dede, seorang surfer asal Cimaja, Jawa Barat. Mengapa harus Dede? Disinilah kejelian Dave dan Tyrone dalam melihat potensi sang surfer.

Dede berasal dari desa kecil di Jawa Barat. Dari sebuah papan selancar bekas, Dede lantas menjadi peselancar terbaik di Cimaja, dan memenangkan berbagai kompetisi. Karena Cimaja tak lagi dapat menampung bakatnya yang terlalu besar, ia mempertajam ilmunya ke Bali.

Dari situlah perjalanan panjang Dede dimulai. Termasuk mengikuti kompetisi internasional seperti Todd Chesser Memorial Contest di Hawai, juga berburu ombak besar di Amerika, hingga Australia. Menariknya, sebagai seorang muslim, Dede memiliki latar belakang konvensional, dan masih menjunjung nilai-nilai tradisional. Friksi-friksi ini melarut dan terus digulirkan sepanjang film.

Soal bagaimana Dede beraksi terhadap tempat dan kebudayaan baru yang ia singgahi; bagaimana ia hidup dalam lingkungan baru; soal keluarga Dede dan lingkungan rumahnya; soal ia menghadap karakter ombak di Hawai yang cepat dan kuat, hingga bagaimana Dede dihadapkan pada pilihan menjadi peselancar profesional yang terus mengejar gelar dan kompetisi, atau menjadi free surfer yang berselancar dengan hati. Sepanjang film, seolah penonton disajikan ke dalam fakta-fakta baru yang mungkin sudah lama ada, tapi tidak pernah disadari sebelumnya.

Mengejar Ombak yang memenangi dua penghargaan di Dance 2009 di Utah, Amerika Serikat ini mengajak penonton mengenal seluk beluk olah raga surfing melalui kisah Dede yang sederhana. Film ini tersaji hangat, intim, inspiratif, dan rendah hati.


Jamiroquai di Sentul

10 April 2009

benk Grup funk acid jazz asal Inggris, Jamiroquai, mampu melipatgandakan kemeriahan ajang Formula One Petronas Malayasian Grandprix 2009 di Sepang International Circuit (SIC), Malaysia, Minggu (5/4).

Meski minus adrenalin, namun kemeriahan serupa terasa di Sentul City Convention Center, Bogor, Rabu (8/4), ketika vokalis Jamiroquai Jason Kay atau Jay Kay menghempaskan penonton ke dalam irama musik upbeat yang memabukkan. Sentul City yang berdiri di lahan 6.5 hektare dan berkapasitas masif hingga 11 ribu orang itu pun seolah-olah ikut bergetar.

Jamiroquai menjadi salah satu pelopor gerakan musik acid jazz pada era 1990an bersama band seperti Incognito, The Galliano, ataupun Corduray. Bedanya, mereka mampu menciptakan kultisme, memiliki banyak penggemar fanatik. Termasuk juga di Indonesia, dimana banyak fans telah lama menunggu grup yang sepanjang karirnya telah melansir delapan album ini untuk berkonser.

Terselenggaranya L.A Lights Concert Presents Jamiroquai ini pun sempat diragukan banyak pihak. Maklum, pelaksanaannya hanya jeda sehari jelang Pemilu Legislatif.

Setelah memberikan kepastian soal terwujudnya konser Jamiroquai, Peter F Gontha selaku Chairman Java Festival Production (JFP) menyebut jika acara tersebut terselenggara dengan baik, maka dapat menunjukkan citra kemapanan masyarakat Indonesia dalam menggelar pesta demokrasi.

”Jika sebuah acara besar yang dihadiri ribuan orang dapat berjalan baik, maka ini menjadi citra bagus untuk publik internal maupun masyarakat internasional. Bagaimana pun, tur Jamiroquai ke negara-negara Asia tak lepas dari perhatian media massa Internasional,” jelas Peter dalam konferensi pers di Peony Room, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).

Bahkan, dalam kesempatan yang sama, Jay Kay juga mendorong generasi muda untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu legislatif kemarin. ”Its important to vote,” tutur pria kelahiran 30 Desember 1969 yang hobi mengoleksi sportscar dan memiliki beberapa mobil Ferrari ini.

Jay Kay sendiri naik panggung sekitar pukul 22.15 WIB setelah opening act dari penyanyi jazz belia, Dimi. Tanpa basa basi, grup yang telah menjual 21 juta album di seluruh dunia tersebut langsung menggebrak dengan lagu-lagu bertempo rancak The Kids, High Times, dan Seven Days.

Dan seperti janjinya, Jay Kay yang malam itu menghadirkan konser penuh energi selama hampir dua jam nonstop. ”Halo, Jakarta! Sudah lama saya ingin sekali kesini,” sapanya akrab dibalas dengan riuh tepuk tangan penonton.

Jay Kay tak hanya jadi anggota inti Jamiroquai (bersama penggebuk dram Derrick McKenzie), tapi dia jugalah yang diidentikan dengan nama bandnya. Ini karena ketokohan Jay Kay memang begitu solid. Diatas panggung, dialah bintang utamanya. Jay Kay mendeliver energi, mengarahkan penonton untuk bergoyang dan enjoy, serta menjaga mood anggota band yang lain.

Penampilannya atraktif dan enerjik. Ia bergoyang, bergerak lincah menapaki stage, serta bernyanyi cuek dengan satu kaki diatas speaker monitor panggung.

Seperti juga penampilan sebelum-sebelumnya, Jay Kay selalu mengenakan topi atau headgear. Ia mengaku memiliki 50 headgear berbeda untuk setiap konsernya. Yang paling unik, terbuat dari bahan serat karbon dan didesain khusus oleh salah satu engineer di Formula One.

Setelah lagu Little L dan Black Capicorn Day, suasana konser makin panas ketika Jay Kay membawakan Cosmic Girl. Menggemanya beat-beat enerjik tak hanya membuat penonton berdiri dari tempat duduknya untuk bergoyang.

Di sisi kiri panggung, penonton yang tak sabar bahkan menerobos pembatas dan merangsek ke depan panggung. Begitulah, hipnotis Jay Kay dan Jamiroquai sedemikian dahsyatnya. ”Nah, begitu lebih baik,” ujar Jay Kay santai setelah Cosmic Girl selesai dinyanyikan.

Disela-sela show, ia kembali mengingatkan agar para penonton yang sebagian besar remaja dan kaum muda itu untuk memberikan suaranya. ”You have to go and vote. Use the opportunity, for your on future!” pesannya.

Malam itu Jay Kay sengaja memilih set list yang upbeat, meninggalkan lagu-lagu hits bertemu medium seperti Radio, Runaway, atau Corner of the Earth. Repertoar semacam Space Cowboy, Canned Heat, Love Fool, dan Deeper Underground membawa 8 ribu penonton yang hadir terus berpacu dengan adrenalin hingga akhir.

Toh begitu, tak sedikit penonton yang mengaku belum juga puas. ”Lagu yang dibawakan Jamiroquai memang banyak, tapi entah kenapa masih terasa kurang,” ujar salah seorang penonton.