Mexican Food

28 October 2008

Apa beda Nachos dan tachos? Burritos dan fajitas? Semuanya terlihat sama bagi saya. Apalagi ini, Tostadas, Enchiladas, dan Quesadillas. Namanya saja hampir tidak mungkin untuk dihapal karena terlalu banyak menggunakan huruf konsonan.

Nachos mungkin paling umum. Tersedia di kafe buat teman ngebir, atau ngemil sambil nonton di teater XXI. Yang jelas, Nachos ini jadi cemilan wajib Justin Timberlake dan Cameron Diaz saat menonton tim basket kesayangannya. Para aktor Hollywood bisanya nyewa boks, tempat duduk khusus tepat di pinggir lapangan.

Nachos adalah keripik dari jagung. Diatasnya ditaburkan sayuran, irisan daging kecil-kecil, keju, dan saus. Rasanya gurih dan sedap. Nyam. Kalau Tachos, isinya sama. Hanya keripik yang digunakan lebih besar dan bundar.

Burritos ini populer di Amerika buat teman ngemil, seperti hot dog atau burger. Kalau di Indonesia bisa dibilang senada dengan kebab. Tepung yang digulung, lantas diberi isi. Yang membedakan mungkin kandungan sayuran dan bumbunya yang khas Meksiko.

Mesir juga punya makanan seperti ini. Namanya Habasy Takanat. Selain sayuran, isinya juga telur dan kacang. Lumayan mengenyangkan, meski rasanya plain. Kalau orang Jawa bilang, nggak ngalor nggak ngidul. Fajitas sendiri adalah Burritos dengan imbuhan “plain” alias tanpa bumbu.

Saya mencoba makanan khas Meksiko itu dalam acara Mexican Food Fiesta 2008 di Olive Tree Restaurant, hotel Nikko, Jakarta, semalam. Sudah umum hotel berbintang lima menggelar promosi makanan, bisa seminggu atau sebulan, untuk mengikat costumer. Biasanya, mereka juga mendatangkan chef langsung dari negara asalnya.

Tapi, dasar kurang cocok dengan Mexican food (nggak kenyang, bo), saya lebih asyik dengan buffet yang ada di Olive Tree Restaurant. Buffet disini, seharga 200an ribu ++, termasuk yang terbaik di Jakarta. Sashiminya, wuih, segar, tender, dan lembut di lidah.

Baby shark dan grilled sea food-nya harus dicoba. Dahsyat. Trus, yang enak lagi pecking duck, shabu-shabu, dimsum, dan pizza-nya. Pizza ini, saya dapat rekomendasi langsung dari Nikki, PR hotel Nikko. Teksturnya mirip Izzy Pizza yang tipis, crispy, dan cheesy. Bener-bener menggigit rasanya. Fiuh, membayangkannya saja sudah bikin ngiler.

Makanan di Hotel Nikko memang memuaskan. Restoran Kahyangan, yang terletak di lantai 28-30 mungkin kecil. Tapi, pemandangannya indah. Ruangan kacanya langsung menghadap ke bawah bundaran HI. “Banyak yang nembak pasangannya di sini,” kata Executive Chef Hotel Nikko Setiyanto.

Tapi, yang menjadikan restoran ini populer adalah shabu-shabunya. Malah, tak salah bila resto ini disebut sebagai best shabu-shabu in town. Begitu mencoba, saya jamin, Hanamasa terlihat seperti restoran kemarin sore. Hahaha.

Kahyangan menggunakan daging Wagyu M9+, daging sapi Jepang dengan kualitas terbaik. Yang membedakan adalah jenis marble atau tekstur pada daging yang diiris tipis tersebut. Teksur marble itu, maksudnya hampir seperti yang kita temukan di batu marmer. “Celupkan 3 detik saja di kuahnya,” kata Setiyanto, yang beberapa kali menjuarai Iron Chef di Indosiar. Rasanya, wow, lembuuut sekali.

M9+ menunjukkan kelasnya. Masih ada angka 10-12 untuk menunjukkan grade tertinggi. Tapi, kata Setiyanto, grade 10 keatas dagingnya sudah terlalu lembut. “Sampai-sampai tak perlu dikunyah,” canda Setiyanto. Harganya, tentu saja lumayan merogoh kocek. Sekitar Rp300 ribu-Rp800 ribu ++.


in search of wine

24 October 2008

Let me show you how this is done. First thing, hold the glass up and examine the wine against the light. You’re looking for color and clarity. Just, get a sense of it. OK? Uhh, thick? Thin? Watery? Syrupy? OK? Alright.

Now, tip it. What you’re doing here is checking for color density as it thins out towards the rim. Uhh, that’s gonna tell you how old it is, among other things. It’s usually more important with reds.

OK? Now, stick your nose in it. Don’t be shy, really get your nose in there. Mmm… a little citrus… maybe some strawberry..

Begitu pahamnya Miles Raymond (Paul Giamatti) akan wine, ia tak sekadar lancar mendeskripsikan aroma, namun juga piawai memilah-milah kandungan rasa dari minuman tersebut secara detil.

Soal wine ini, saya termasuk newbie. Jangankan aroma, membedakan rasa thick dan yang thin saja terkadang masih suka salah. Hahaha. Budaya minum wine di Jakarta memang populer, tapi saya rasa sampai kapan pun akan begini-begini saja. Karena gaya hidup ini memang sangat segmented. Meski, pergerakan survey Vinexpo mencatat bahwa, konsumsi wine di Asia terus meningkat.

Cara gampang belajar soal wine selain mencari referensi di internet adalah mendatangi acara wine testing yang rutin digelar di kafe atau hotel. Setelah mengikuti eksebisi wine dan melakukan wine testing, cakrawala terhadap minuman ini akan semakin luas

Menurut informasi seorang teman, Di Vin+ Kemang, ada wine testing gratis setiap Selasa dan Rabu. Dari situ, kita bisa melatih lidah untuk membedakan macam-macam rasa wine, juga bertanya kepada para sommelier (pakar wine) maupun wine maker (produsen wine).

“Wine maker itu bertindak sebagai buku panduan, untuk memutuskan membeli label wine tertentu,” kata stephane Christophe dari hotel Nikko Jakarta. Sebaliknya, bagi wine maker, ini juga jurang kesempatan untuk memasarkan produknya di suatu negara. Jika memang feedback yang diberikan konsumen bagus, maka para produser wine akan semakin yakin untuk memasarkan produknya di negara tersebut.

Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti wine testing. Dari Afrika Selatan, hingga Prancis atau Italia. Yang terbaru, adalah acara Italian Fine Wines Co (IFW) di Grand Hyatt Indonesia, Rabu kemarin. Oh ya, negara-negara new world adalah penghasil wine yang sejarahnya belum terlalu panjang, seperti Afrika Selatan dan negara-negara Asia. Rasa produknya cenderung memiliki power, bold, dan berkarakter buah tebal (fruity). Sementara old world yang terdiri dari negara Prancis, Italia, ataupun Spanyol, spektrumnya lebih thin, getir, yang disebut elegan dan classy.

Menurut kenalan saya Budi dari Vin+, rata-rata orang Indonesia lebih suka taste yang fruity atau manis. Yang mendominasi pasar Indonesia, adalah produk wine asal Australia, negara penghasil wine terbesar keempat dunia. Beberapa produk Aussie terpopuler antara lain Sauvignon Blanc, Chardonnay, Shiraz, Cabernet Sauvingnon, Merlot, dan yang menjadi all time favourite Miles Raymond di Sideways, Pinot Noir (coba cek Sideways di imdb untuk tahu mengapa ia begitu cinta pada Pinot).

Sepulang dari sana, teman saya dari PR agency Idea Communication memberikan sebotol Beni Di Batasiolo tahun 2005. Ini akan saya simpan, dan dibuka pada saat khusus. :P . Oh ya, terus terang, saya mulai tertarik dengan wine gara-gara menonton Sideways. Dan ada line yang paling saya suka saat Virginia Madsen (pemeran Maya) menjelaskan kepada Miles mengapa ia begitu mencintai wine.

How it’s a living thing. I like to think about what was going on the year the grapes were growing; how the sun was shining; if it rained. I like to think about all the people who tended and picked the grapes. And if it’s an old wine, how many of them must be dead by now. I like how wine continues to evolve, like if I opened a bottle of wine today it would taste different than if I’d opened it on any other day, because a bottle of wine is actually alive. And it’s constantly evolving and gaining complexity. That is, until it peaks, like your ‘61. And then it begins its steady, inevitable decline. And it tastes so fucking good,”.

“Wine is the drink of the gods, milk the drink of babies, tea the drink of women, and water the drink of beasts,” John Stuart Blackie
foto : sun lylia


Terhibur, Bukan Berpikir

24 October 2008

“I made films, not movies!” teriak Billy Walsh (Rhys Coiro) ketika Erick Murphy (Kevin Connolly) si produser film biografi tentang Pablo Escobar, Medeillin, memintanya mengurangi adegan-adegan yang dianggap terlalu idealis. Namun, tentu saja Walsh langsung menolaknya. Dalam serial TV Entourage yang tayang di HBO itu, Walsh digambarkan sebagai sutradara jenius berjiwa independen yang hanya ingin membuat film sesuai kata hatinya.

Bagi Walsh, film dan movie adalah dua hal yang berbeda. Film, senyatanya adalah sebuah karya idealis. Sebaliknya, movie dibuat untuk menyesuaikan selera pasar (mainstream).

Dalam artikelnya di Layarperak, Imam Budiman menjelaskan secara gamblang dan sederhana tentang perbedaan antara film dan movie ini. Film yang acap berlabel ”intelek” atau “berat”, kata Imam, adalah sebuah karya yang membutuhkan kematangan dan kedewasaan berpikir dari penontonnya.

Dijelaskan olehnya, sesungguhnya tidak ada yang salah jika penonton Indonesia lebih menyukai movie yang entertaining dibandingkan film bertema serius. Jangan salahkan pula bila mereka lebih prefer ke film-film popcorn khas Hollywood dibanding art house keluaran Eropa, misalnya.

Namun, ia juga mengungkap betapa menonton film “berat” itu justru sangat mengasyikkan. Bagaimana ia berusaha membuka wacana berpikir bagi penonton awam, soal nikmatnya menonton sambil berpikir, serta keasyikkan menangkap esensi yang terkandung dalam film-film intelektual.

Dengan melihat lebih dalam akan nilai-nilai filosofis yang tersirat dalam sebuah film, serta membuka mata akan eksistensi film-film yang bersifat non-linear, diharapkan penonton dapat memperoleh cara pandang baru dalam melihat dan menilai sebuah film. Yakni film dalam konteks bukan sekedar media hiburan, tetapi kembali ke akarnya sebagai wadah seni untuk berekspresi serta memperoleh apresiasi sejati dari penontonnya.

Selanjutnya, Imam juga mengatakan bahwa untuk dapat menikmati—atau bahkan memaknai—suatu film yang kompleks secara sempurna memang bukan perkara mudah. “Bila kita sebagai penonton tidak cukup jumawa dalam menafsirkan apa yang ditontonnya, kendala-kendala di atas pastinya akan sulit diatasi. Yang ada kemudian adalah reaksi seperti membosankan; memusingkan, dan melelahkan,” tulisnya.

Praktiknya, saya temukan langsung pada si Botak. Setiap malam, dia selalu menantikan FTV di SCTV. Mulanya, saya pikir karena dia hanya melihat pemainnya yang cantik-cantik. Tapi, ternyata ia ikut larut mengikuti ceritanya. Dan, setiap saya todongkan kepadanya film-film seperti Fight Club, Trainspoitting, ataupun Memento, DVD-DVD itu hanya teronggok ngganggur di lemarinya.

Akhirnya saya menyimpulkan sebabnya dari jawaban, “males mikir ah!, kita menonton film buat terhibur, kok malah disuruh mikir”. Mungkin, jawaban di Botak itu yang mewakili penonton Indonesia kebanyakan itu menjawab mengapa film-film “kacangan” justru sangat laris dan diminati..

Para penonton seperti Botak ini, bukan berarti tidak pintar, tidak bisa mencerna, ataupun memaknai sebuah film yang disebut intelek tadi. Tapi, menurut saya, mereka hanya malas untuk diajak berpikir. Apalagi, mereka-mereka yang tujuan menonton film hanya sekadar untuk terhibur saja. Nah, kalau nawaitu-nya dari awal sudah seperti itu, ya susah. Pantas saja festival film seperti Europe On Screen tetap sepi.

Karena itulah, dalam tulisannya Imam bersemangat sekali berusaha mengatakan bahwa menonton film “intelek” bisa sangat mengasyikkan.

Sampai-sampai, ia (niat banget) membuat tips Enjoying Films For Dummies. Dan yang pertama adalah : Anda harus punya niat dan kemauan yang kuat untuk menikmatinya. Siapkan otak Anda untuk berpikir karena ini bukan film yang bisa ditonton sambil makan popcorn.

Dan bukan bermaksud menghakimi nih, tapi, sedikit karakter seseorang bisa terkuak dari film-film apa saja yang ditontonnya. Hahaha.

Sekali lagi, bukan juga bermaksud melebih-lebihkan, tapi harus menonton film Indonesia yang digarap dengan kualitas rendah itu bisa sangat amat menyiksa. Bayangkan, kita harus betah duduk selama 120 menit hanya untuk menyaksikan adegan-adegan yang menabrak logika secara banal, corny setengah mati, atau cheesy gila-gilaan. Menyakitkan sekali, ketika kita harus keluar bioskop tanpa mendapatkan apa-apa. Rasanya seperti perut ini lapar, tapi hanya boleh makan krupuk. Sudah gitu harus bayar lagi. Sebal kan?

“Film intelek, butuh penonton cerdas juga untuk memaknainya, dan untuk bisa eksis,” Imam Budiman.


Cinta Tidak Cukup

23 October 2008

Di film-film era 1980-1990an, masih banyak tema-tema film yang mendefinisikan cinta secara pragmatis. Ketika dua anak manusia sudah begitu beratnya mencintai satu sama lain, maka yang mereka butuhkan cuma itu. Ingat Kawin Lari (1975) yang dibintangi Christine Hakim?

Mungkin karena keterbukaan informasi, zaman yang semakin maju, kemandirian berpikir, serta persaingan antar individu yang begitu tinggi di Jakarta, maka pandangan “modal cinta” saja saat ini jauh dari cukup. Bahkan mungkin menjadi faktor kesekian dari alasan seseorang untuk memilih pasangannya.

Teman saya, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Al-Azhar, Kairo, berkata sambil bercanda, “gadis Mesir memang cantik-cantik. Tapi, jangan berpikir bisa menikahi mereka sebelum memiliki sebuah flat (apartemen) sendiri. Itu sudah jadi syarat bagi pria untuk menikahi seorang gadis,”.

Mulanya saya pikir dia bercanda, tapi BBC News ternyata pernah membuat laporan betapa syarat yang memberatkan para pria itu :P membuat pasangan-pasangan muda di Mesir sulit menikah. Banyak pasangan memilih tetap bertunangan selama bertahun-tahun, karena tidak memiliki uang yang cukup.

“Ketika mereka akhirnya menikah dan tinggal bersama, mereka sudah bosan dengan satu sama lain,” tandas aktivis HAM Nihad Abou El Qoumsan. Ditambahkan Nihad, hal ini membuat faktor perceraian di Mesir sangat tinggi. Sampai-sampai, demi mengejar kebutuhan papan itu, banyak pasangan berebut mengikuti kuis televisi berhadiah flat, atau mendaftar di calon penerima apartemen yang diberikan oleh dermawan kaya setiap bulan Ramadan tiba. Ulama di Mesir berusaha menego syarat yang memberatkan itu, tapi ternyata gagal.

Teman perempuan saya, terheran-heran melihat teman sekantornya yang asal Jawa menikah di usia sekitar 22-24 tahunan. Selain masih muda, pasangan itu, menurut teman saya, juga belum mapan secara finansial. ”Kenapa sih mereka buru-buru menikah? Umur masih muda, rumah masih ngekos, ntar kalau udah punya anak bakal dikasih makan apa?,” pekiknya. Teman saya itu memang sudah memiliki karir bagus di perusahaan tempatnya bekerja, dan saat ini berencana mengalokasikan uangnya untuk membeli rumah. Meski, sampai sekarang statusnya masih single. “Belum ada yang cocok,” katanya.

Di Jakarta, tuntutan akan ”keamanan finansial” ini mungkin tidak seekstrim di Mesir. Tapi, dari “bersosialisasi” dengan lumayan banyak cewek-cewek Jakarta, saya bisa menyimpulkan satu hal. Mereka rata-rata mendambakan pria yang mampu menjamin kebutuhan finansial mereka di masa depan. Ini tidak selalu berarti silau terhadap kekayaan yang dimiliki saat ini, tapi lebih melihat kesolidan kepribadian seseorang diluar keinginan standar “mendambakan pasangan yang baik dan dapat mengerti dirinya”. Maksudnya, apakah orang tersebut memang memiliki kapabilitas, di kemudian hari, untuk menopang kehidupannya kelak.

Takaran ukurnya sangat-sangat tidak pasti, dan bisa bergantung pada banyak sekali faktor. Kalau misalnya, perempuan itu, sangat pintar, memiliki jenjang karir bagus, dan berlebih-lebih mencukupi dirinya, maka secara otomatis ia akan mencari pasangan yang diatasnya, atau paling tidak, lebih berhasil darinya. Ini tentu saja bakal semakin berat bagi pria-pria yang strata sukses atau strata sosialnya berada di bawah si gadis (kecuali kalau bapaknya punya tambak garam).

Dan dampaknya, para pria kini tidak bisa bersantai, bermain game setiap hari, berpangku tangan, untuk kemudian berkhayal, cinta dapat menyelamatkan mereka dari jurang kejombloan dan kemudian dengan modal dengkul bisa mendapatkan perempuan cantik dan sukses. Seperti hanya seekor singa yang sedang berburu, mereka harus bekerja keras ekstra keras untuk membekali diri dengan modal, posisi, kemampuan, kecerdasan, ketrampilan, hobi, serta otak yang lebih untuk mendapatkan hasil buruan memuaskan. Selain berkompetisi dengan para pemburu lainnya, mereka juga harus bersaing dengan “buruan” mereka sendiri. Setuju tidak?

You have to believe that you are the one who creates your success, that you are the one who creates your mediocrity, and that you are the one creating your struggle around money and success.

T. Harv Eker from Secrets of the Millionaire Mind


Taksi Blues

21 October 2008

Setelah mengantar dua orang teman ke kosnya malam itu, saya memilih tetap berada di kursi depan. Perjalanan di malam yang beringsut ke dini hari itu memang memberikan waktu cukup lama bagi saya untuk mengobrol dengan supir taksi bertahtakan burung biru di atapnya itu.

Bagi saya, sopir taksi adalah profesi yang sangat unik. Mereka bertemu banyak orang dalam semalam. Mencuri dengar pembicaraan penumpang, dan mengecap sedikit kehidupan mereka untuk kemudian musnah sesampainya di tujuan.

“Banyak sekali karakter manusia yang pernah duduk di taksi saya, mas. Mengantar wanita panggilan, atau pria tua bersama seorang gadis yang mungkin seusia anak saya, itu saya alami sehari-hari,”

“Saya pernah ditipu orang yang diantar ke mal, tiba-tiba kabur nggak bayar. Atau mengantar preman-preman yang jahat dan nggak mau bayar,”

“Teman saya, pernah suatu malam mengantar seorang mahasiswi di UKI, untuk diantar ke rumahnya di kawasan Mampang. Setelah masuk, ternyata gadis itu tak kunjung keluar. Setelah mengebel, ibunya yang muncul. Dia tampak kaget usai mendengar perkataan teman saya,”

“Tapi, yang kaget selanjutnya justru teman saya. Tepatnya setelah si ibu mengatakan bahwa putrinya itu telah meninggal dua bulan silam karena bunuh diri. Dan, dia adalah supir taksi ketiga yang datang. Untunglah, biaya taksinya di tanggung si ibu,”.

—-

“Misteri. Misteri. Para penumpang adalah misteri. Aku tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas di jalanan. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali.

Yeah. Aku hanya sopir taksi yang selalu keluar pada malam hari. Bertemu begitu banyak orang dalam semalam, tapi pada hakikatnya selalu sendiri.

Kota ini juga sebuah misteri. Begitu banyak manusia kita temui di jalanan setiap hari, namun betapa sulitnya mengenal satu saja dari mereka. Betapa sulit memahami manusia meskipun mereka semua ada di sekeliling kita.

Ah, untuk apa aku memikirkan semua ini? Aku cuma seorang sopir taksi. Selalu keluar malam karena tak suka macet dan kepanasan. Selalu mengembara dalam kekelaman”.

Taksi Blues, Seno Gumira Ajidarma
* picture above is De Niro in Scorcese movie, Taxi Driver


Mazda CX-9

20 October 2008


Jazz

20 October 2008

Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita atasi. Kita tak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi.

Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hiduy tak selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita.

Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangakan. Barangkali juga kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup ini akan selalu memberikan kejutan-kejutanya sendiri. Banyak kejutan. Banyak insiden. Seperti jazz? Entahlah. Aku agak mabuk

Seno Gumira Ajidarma, dari novel Jazz, Parfum & Insiden, Yayasan Bentang Budaya, 1996


Commuting

17 October 2008

“Commuting is the process of travelling between one’s place of residence and regular place of work,” – wikipedia.
Sejak dua pekan terakhir ini saya menjadi seorang comutee, seperti sebagian besar pekerja Jakarta yang memilih tinggal di kota satelit (Depok, Bekasi, Serpong, Bintaro, dst). Mereka, yang sehari-harinya acap menggunakan transportasi publik seperti kereta api ke tempat kerjanya.

Mungkin terdengar sedikit norak, tapi naik kereta mengasyikkan. Saya sudah coba semuanya. Kereta Express (Rp9 ribu) yang nyaman dan cepat, kereta ekonomi AC (Rp6 ribu) yang berhenti di tiap setasiun, dan kereta ekonomi biasa (Rp1,500) yang minim standar keselamatan (kereta jalan dengan pintu terbuka, buset) dan panas. Lihat gambar, the old geezer berjongkok di sebelah pintu dengan terkantuk-kantuk, tanpa takut terjatuh.

Konon, kemajuan sebuah kota bisa dilihat dari kondisi transportasi publiknya. Ya, jangan pernah bandingkan MRT di Singapura yang serba terkomputerisasi dan penuh papan petunjuk dengan stasiun Gondangdia, dimana saya harus celingukan mencari kondektur atau orang untuk bertanya, “Mas, ini udah sampe stasiun mana yak? Pondok Cina turun berapa stasiun lagi yak?”. Jeez.

Saya sendiri ke rumah teman di kosnya di kawasan Pesona Depok. Kosnya asyik sekali. Mirip hotel murah di gang-gang Poppies, di Kuta. Di backyard-nya, ada kolam renang dan sebuah pohon mangga besar. Hawanya juga adem. Makanya saya betah lama-lama disana. He-he-he.

Teman saya ini punya sahabat, seorang rapper. Nova, namanya. Malang, asalnya, dan Twin Sista grupnya. Ternyata, dia adalah putri Totok Tewel, gitaris grup Elpamas dan Katata Takwa. Haha. What a coincidence. Totok, yang kamar kosnya bersebelahan dengan Nova, saat ini selain menggarap album solo juga terlibat dalam project Kahyangan. ”Alirannya world music, semacam Krakatau, tapi lebih kental sentuhan jazz,” kata Nova soal ayahnya.

Selain sama-sama menggunakan iBook, referensi musik Nova juga luas. ”Ha-ha, aku pikir cuma aku yang ngedengerin Ben Folds dan Tom Waits Nov,” kata saya. Dan dia dengan senang hati membiarkan saya mengopi berbagai grup yang terkadang belum pernah saya dengar sebelumnya, tapi enak sekali.

Saat sedang menyeleksi lagu-lagunya, saya terbelalak dengan judul Nova feat Sitok Srengege. Ternyata, di lagu itu Nova memvokalkan salah satu puisi Sitok, salah satu penyair/sastrawan favorit saya.

Sitok ini, luar biasa cermat dan detilnya dalam menulis dan berdeskripsi. Diksinya teramat luas dan dahsyat. Seolah-olah dia begitu hati-hati sekali dalam merangkai sebuah kalimat. Dan, apa yang dikatakan Nova selanjutnya membuat saya lebih terkejut lagi.

”Om Sitok rumahnya masih di Pesona Depok juga, beberapa blok dari sini,” katanya. Dan dia berjanji akan mengajak saya berkunjung ke rumah Sitok, sebelum dia berangkat ke Australia untuk rekaman Januari depan. Wah, senangnya. Oh ya, nanti malam, Nova akan bersepanggung dengan Yacko untuk mengisi Soulnation di Istora.


The Coffin

11 October 2008

Memang pahit, tapi jujur kita harus akui bahwa Thailand lebih maju selangkah soal film horor. Soal kematangan eksekusi dan penciptaan konflik, soal keasyikan bercerita dan dramaturgi, serta kreatifitas penggalian ide dari latar belakang budaya lokal yang krusial dalam membuat cerita lebih dekat dengan penonton.

Sutradara/penulis skenario Ekachai Uekrongtham (Beautiful Boxer) menyutradarai supernatural thriller The Coffin setelah mendengar ritual upacara absurd yang digelar di sebuah propinsi di Thailand. Ritual yang disebut Non Loeng Sadorcro (tidur di peti mati, enyahkan nasib buruk) itu sudah berabad-abad dilakukan, namun baru populer selama beberapa tahun terakhir. Begitu populernya, hingga Guiness Book Of Records mencatat Non Loeng Sadorcro sebagai upacara pemakaman terbesar di dunia

Seperti namanya, upacara tersebut memperlihatkan ribuan orang berbaring di peti mati sementara para biksu melakukan ritual seakan mereka sudah meninggal. Ini pula yang menjadi adegan pembuka film The Coffin. Tepatnya ketika para partisipan, dalam sebuah wawancara di televisi, mengaku dapat terhindar dari kematian (cheating death).

Namun, apakah benar realitasnya semanis dan semudah itu?

Kenyataan itu yang coba dicari tahu oleh Chris (Ananda Everingham) dan Sue (Karen Mok). Chris, berharap dapat menyelamatkan tunangannya yang meregang nyawa karena kanker. Sebaliknya, Sue yang asal Hong Kong ingin mendapatkan hidupnya kembali setelah di diagnosa menderita tumor otak seminggu sebelum menikah.

Setelah melakukan ritual itu, baik Sue dan Chris mendapati kenyataan manis sekaligus tragis. Ya, kekasih Chris lantas sembuh begitu saja. Sementara dokter tidak menemukan sel-sel tumor di otak Sue. Tapi, saat itu juga keduanya secara bertubi-tubi mendapati insiden aneh dan tidak masuk akal.
Chris dan kekasihnya, terus menerus melihat wajah perempuan menyeramkan yang menggendong bayi. Sementara Sue mendapati fakta menyakitkan bahwa calon suaminya meninggal dunia mendadak, dan terus menerus menampakkan diri dihadapannya. Maka, baik Chris ataupun Sue pun berusaha keras mencari jawaban apa yang sedang terjadi dengan diri mereka.

The Coffin mungkin tidak berjalan meledak-ledak. Pun juga tidak frontal dalam memberi teror. Sekilas, film ini malah terasa datar. Namun, sebenarnya The Coffin sudah sangat lengkap. Lancar bercerita, padat dengan drama, asyik menakuti, serta selipan kejutan-kejutan kecil. Usaha manusia untuk menghindari kematian, yang menjadi tema film ini pun, sudah sangat menarik. Seperti yang diungkapkan Chris, ”kematian seseorang yang kita cintai jauh lebih menakutkan daripada kematian kita sendiri,”.


pre-relationship

8 October 2008

Selama sepekan kemarin rasanya semua orang berteriak ke telinga saya. ”Kapan Nang? Kapan? Si A udah, si B baru hamil, si C malah baru punya anak?”. Saat bersama keluarga, maka keluarga saya yang menjejar. Ketika bersama teman, saya jadi korban gojlokan karena hampir semua teman dalam social circle saya sudah menikah. Saat kerumah sahabat, giliran orang tua mereka yang bertanya.

Belum lagi mama dan papa yang selalu mejejalkan amunisi, “mama selalu berdoa setiap hari buatmu lho”, atau “sudah ingin segera melihat anak-anak mama mentas,”. Oh God. Itu sama saja menodongkan AK-47 dengan magazine penuh ke kepala saya, dan menyuruh saya berlari. Percayalah, tak ada yang lebih ingin saya lakukan selain membahagiakan kedua orang tua saya.

Tapi, tentu saja tidak semudah itu. Apalagi untuk urusan satu ini. Ah, sebenarnya masalah ini terlalu pribadi. But, fuck it. Now everybody knows. Oke, apa lantas kalau saya tidak memiliki pacar, berarti tidak mencari atau tidak laku? Bisa ya, bisa tidak. Masalahnya, selama ini semua cewek yang masuk dalam kriteria saya itu selalu saja memiliki barrier. Either she have a boyfriend, or we have different faith.

And believe me, I didn’t stop looking. Almost every week I grab a coffee with different girl. Tapi, tentu saja tak semua berlanjut. Atau berlanjut tanpa status. Kadang saya berpikir terlalu ini, terlalu itu, kurang ini, kurang itu. Dan setiap saya memberi banyak tanda cawang dalam “daftar-kriteria-calon-istri-sempurna” versi saya, serta baru memulai menancapkan pondasi awal, selalu saja dua barrier itu mengemuka. Dan percayalah, proses ini sangat melelahkan. Menghabiskan energi, biaya, dan waktu.

“Terlalu pilih-pilih lo!” kata teman saya. Well, why not? Kita mau yang terbaik buat diri kita kan? seperti juga saat memilih komputer, saya harus tahu dulu semua spek-speknya. Berapa RAM dan HDD-nya. And it better be a Mac, not PC. haha.

Apalagi, saya sangat berbeda dengan sepupu saya yang bisa bergonta-ganti cewek seperti gonta-ganti celana dalam (dan ya, dia lebih ganteng dari saya). Entahlah, mungkin saya terlalu sensitif. Pada 2001, untuk pertama kalinya saya putus dari pacaran serius. Waktu itu saya Cuma bisa bilang, “tobaatt, nggak mau lagi”.

Pada awal 2004, sekali lagi, saya putus dari hubungan serius. Dan saat itu juga langsung bersumpah untuk mengunci pintu hati ini rapat-rapat, seraya berujar, “kalau nanti pacaran serius lagi, harus langsung kawin,”. Since then, saya hanya terlibat on-off relationship dengan cewek-cewek yang sama sekali tidak membuat saya berniat membuka kunci itu.

Dan sekali lagi ya, saya menulis ini karena cewek yang membuat saya terlintas untuk berpikir kesana ternyata sudah berstatus in relationship. fuck. Andai saja ada yang menjual radar soulmate seperti radar Dragonball, sehingga saya tinggal mencari pasangan hidup saya merunut kedipan di radar itu, tentu akan sangat menyenangkan.

*updated
well, oke, maybe i get little carried away yesterday. but i just realize, why the fuck i give up so easily. it so not me. mengasihani diri dan menulis sesuatu yang negatif tidak akan membantu apa-apa. so, the hunting not even over yet. it’s only just started. :P