Shaum Ramadan

3 September 2008

Kita baru sadar betapa berartinya sesuatu setelah tidak ada. Kalau dalam bulan puasa ini, sesuatu itu adalah bersahur dan berbuka bersama keluarga. Sekarang mungkin saya heran, mengapa dulu bisa malas bangun bersahur, ketika seluruh makanan yang lezat-lezat sudah disiapkan oleh mama diatas meja.

Saat berbuka pun, mama pasti menyiapkan buah-buahan segar favorit saya, serta es buah penghilang dahaga. Ini sudah tahun keempat saya di Jakarta, tapi momen-momen itu tetap terbayang di kepala.

Meski, Ramadan sekarang ini lebih mending daripada tahun lalu, dan sebelum-sebelumnya. Dulu, saya harus bangun sendiri, lalu berjalan mencari sahur di warteg yang, duh, menunya bikin rasa lapar mendadak hilang.

Sekarang mendingan. Selain ada beberapa anggota kos baru, kami juga membayar Rp10 ribu per hari untuk dimasakkan sahur oleh pembantu kos. Jadilah tiap sahur selalu saja ramai. Makan pun bersemangat.

Soal berbuka, kali ini kantor hanya menyediakan takjil. Alhasil di hari pertama puasa saya jadi musafir, berbuka di masjid Bimantara. Tapi besoknya, ada peningkatan gizi karena bisa berbuka di resto favorit saya, Syailendra Restaurant, J.W Marriot Hotel.

Soal best buffet in town, Syailendra ini berada di tiga teratas bersama Satoo di Shangri-La dan Airlangga di Ritz Carlton. With tons of varieties, and everything tastes great. You can eat till u bloat. Cumi panggang, all you can eat sashimi, sup, bebek peking, lasagna, dan my all time fave, desserts. Chocolate fountain beserta buah dan kue-kue kecil yang manis-manis itu tak hanya memanjakan lidah, tapi juga mata.

Oh ya, setiap hari, undangan berbuka hampir selalu ada. Bahkan berganda. Tadi saja, saya harus memilih antara buffet di InterContinental Hotel Jakarta dan undangan di Pisa Café Menteng dari Universal Music.

Besok pun, Sampoerna harus mengalah dengan B.W Communication yang terlebih dulu “memboking” saya untuk berbuka di Dapur Sunda, Pasific Place. Huehuhe. Well, first come first serve. Dengan prinsip anak perantauan “cheap is good, free even better”, tentu puasa ini bakal jadi ajang “bertualang kuliner” dari restoran ke kafe, dari hotel ke mesjid. Hahaha.

Tapi, tentunya itu hanya gimmick saja. Karena bukan karena itu bulan Ramadan ditunggu. Seperti hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.”

Untuk itu, di bulan suci ini, saya seperti halnya umat Islam lainnya, saya berniat untuk mengisi asupan rohani, dan mendekatkan diri pada Nya. Untuk mencari pengampunan, mencari bonus pahala berlipat-lipat, mendapat keistimewaan ibadah, menggapai kecintaan Allah, serta memanjatkan doa dan permohonan. Amin. Oh ya, yang pertama dan utama : sholat lima waktu. :P


4bia

3 September 2008

4bia seolah menunjukkan kembali kepada saya bagaimana asyiknya diteror oleh film horor. Seperti apa serunya ditakuti, menjerit bak seorang gadis, menutup mata dengan tangan, serta bertalu-talunya rasa penasaran sambil menanti kejadian apa akan yang bergulir selanjutnya.

Film kolektif 4 sutradara muda Thailand ini mungkin tidak membukukan sebuah pakem film hantu seperti halnya Ju’on atau The Ring. Namun, dibalik kesederhanaan berceritanya terangkum formula yang lengkap untuk membuat tontonan horor berisi.

Oke, sebuah film horor saya sebut sukses bila dapat membuat penontonnya menutup mata, atau mengintip dari balik jari tangan (seperti yang saya lakukan saat menonton 4bia kemarin malam).

Agar penonton ketakutan, mereka butuh alasan. Tidak sekadar menampilkan hantu secara frontal. Logikanya sama ketika saya bisa menikmati sebuah adult video secara maksimal ketika filmnya beralur, dan karakternya “hidup”.

Dengan logika cerita yang bisa diterima, maka mudah bagi kita untuk mengunyah ketakutan itu dengan nikmat. Ini yang jarang dimiliki film horor Indonesia yang sering ceritanya terlalu absurd, dibuat-buat, dan mengada-ada. Lha, kalau belum-belum sudah skeptis dengan logika cerita yang disusun, jadi fatal, karena bakal sulit untuk menerima dan menikmati sisa cerita. Apalagi ditakuti.

Dan 4bia, mampu merancang logika cerita dengan baik. Tidak istimewa, sebenarnya, tapi lengkap. Dari sebab-akibat, teror, caranya menghantui yang serba tidak berlebihan, dan juga, ya, pemain-pemainnya yang berakting prima. Kedekatan budaya Thailand dan Indonesia pula yang membuatnya semakin berkesan.

Film ini terbagi dalam empat cerita pendek. Film pertama, Happiness, disutradarai oleh Youngyooth Thongkonthun. Ceritanya tentang seorang gadis yang mendapat SMS dari nomor tak dikenal. Karena kesepian, SMS itu dibalas. Mereka pun saling berbalas SMS. Adegan mulai menyeramkan ketika lawan SMSnya mengirimkan kembali foto si gadis lewat MMS. ”Curang, kamu mengirim fotoku lagi, fotomu mana?” kata gadis itu. ”Aku ada disebelahmu,” balas si pengirim misterius.

Cerita kedua, saya tidak begitu suka. Berusaha untuk dibuat stylish dan ber-pace cepat, tapi malah mengada-ngada. Mirip horor Indonesia yang disutradarai Nayato. Tit For Tat, judulnya. Disutradarai oleh Paween Purijitpanya. Ini bercerita tentang cowok SMA korban bulliying yang membalas dendam dengan ilmu hitam. Sadis iya, seram tidak.

Cerita ketiga arahan Banjong Pisanthanakun ini favorit saya. In The Middle bercerita tentang empat cowok yang kemping di hutan untuk berarung jeram. Dimulai dari adegan kocak soal saling bercerita hantu, sampai akhirnya mereka mendapati salah satu temannya yang dikira tenggelam kembali lagi ke tenda. Horor seperti ini menarik, penuh komedi, seru, dan meneror sekaligus.

Yang terakhir, menurut saya yang terbaik. The Last Fright, digarap oleh Parkpoom Wongpoom. Ceritanya tentang Pim, seorang pramugari cantik yang harus mengawal jenazah dari putri raja negara lain. Teror memanas begitu pesawat mulai turbulence, dan tiba-tiba jenazah itu terhempas dari tempat duduk dan mulai menerornya. Hii…

Yang jelas, 4bia sangat recommended. Jika ditonton di bioskop di malam hari, seramnya jadi dua kali lipat. Sehabis nonton, saya saja hampir kencing di celana gara-gara buru-buru keluar dari kamar mandi Blitz Megaplex yang senyap itu. Huhuhu.

Oh ya, saya rekomendasikan juga Three Extreme. Ini film horor sadis dan penuh darah dari sutradara-stradara favorit saya. Ada Takashi Miike dari Jepang, Park Chan dari Korsel, dan Fruit Chan dari Hong Kong.