Prosotan

15 August 2008

Hari ini si Doni botak dengan congkaknya bercerita bagaimana dia menjajal Mitsubishi Lancer Evolution X di sirkuit Sentul. Sebuah kesempatan yang mungkin hanya diimpikan oleh mereka yang menggemari dunia otomotif. Ya, kecuali Moreno, pacar Julie Estellee ini baru saja membeli mobil seharga Rp800 juta itu. lucky bastard.

“Waktu nikung, kata Moreno sampai 180 km/jam,” koar Doni. Dia memang menyetir, sementara Moreno jadi navigator sekaligus instruktur balap. Belajar racing line dari Gokart dan game Play Station, lanjut si botak, “bermanfaat banget!”. Andai saja saya tidak megang halaman, pasti akan ikut. Aargh, menyebalkan sekali.

Ya, dia boleh pamer sudah menjajal balapan di Sentul, tapi nyalinya langsung ciut begitu diajak main prosotan di FX, mal paling hip di Jakarta saat ini. Saya harus setengah memaksa dan mengintimidasi si morron itu agar mau ikutan main prosotan. Pengelola FX memang menyiapkan gimmick yang cukup catchy untuk menarik pengunjung. Yakni wahana Atmostfear a.k.a merosot dari lantai 7 ke lantai dasar selama sekitar 10-11 detik dalam sebuah tube panjang. Caranya? Menukar kupon pembelian F&B sebesar Rp100 ribu (hari biasa) dan Rp200 ribu weekend.

Dan gimmick itu, ternyata berhasil. Lihat gambar, antriannya aja bikin eneg. Mereka yang belum tau, pada bisik-bisik “apa sih? Apa sih?”. Yang udah tau dan ngeliat, pasti pengin nyobain. Letak tube gede itu mengular ke bawah tepat dibagian inti mal. Kalau ada yang teriak kenceng, mau nggak mau pasti noleh.

Oke, setelah mencobanya sendiri, saya akui cukup seru. Cukup memacu adrenalin meski terlalu cepet. Bok, 11 detik itu kayak orang pake celana dalem. Kalau orang lain pada teriak, saya merosot sambil tertawa kenceng, yang bikin orang-orang diatas ikut tertawa (ini kata Doni).

Dan ini yang kurang ajar. Kebetulan knee pad a.k.a decker lagi abis pas saya mau meluncur. Ya sudah, saya cuek saja. Kata mas-masnya nggak papa. Meluncurnya sih save and sound. Tapi begitu sampai bawah, mas-mas yang mengepaki helem dan jaket bingung melihat saya dengan dengkul tak terlindungi.

“Lho? kok nggak pake decker mas?”
“Nggak, lha katanya yang jaga diatas nggak papa?”
“Wah, bahaya mas, dengkulnya bisa luka lho!!”
“…..,”

* hmm…. seharusnya saya jawab saja, “ah knee pad only for rookie”.


The Used

15 August 2008

Seandainya saja Bobby menonton konser The Used di Tennis Indoor Rabu malam lalu, dia pasti ngomel-ngomel. “Lha wong kita ni dateng bayar, kok masih disuruh nyanyi. Kita ini kan pengennya dihibur,” katanya setiap melihat seorang vokalis band mengarahkan miknya ke penonton, meminta mereka ber-sing-a-long.

Saya sebenarnya tak selalu setuju. Tapi, saat melihat konser The Used, I couldn’t agree more with him. Grup rock and roll—begitu mereka ingin disebut—asal Utah, itu tampil underperform. Bert McCracken, si vokalis, hampir sepanjang konsernya mengacungkan mikropon ke arah penonton. Maksudnya sih, agar mereka ikut ber-sing-a-long.

Yang terjadi, rasanya konser itu malah milik penonton. Mereka semua bernyanyi hampir di tiap lagu. Mulai lagu-lagu di album debut The Used (2002) seperti Buried Myself Alive, On My Own, The Taste Of Ink, hingga mini album Shallow Believer yang baru saja dirilis awal tahun ini. Wow, saya sendiri sampai heran kalau ternyata begitu banyak The Used fanatik di Indonesia.

Ya, saya juga ketagihan band ini sejak rilisan pertama mereka. Dan rasanya itu rilisan terbaik. Paling enerjik, dan paling catchy. Gebukan Dan Whitesides yang berdebaman, gemuruh bebunyian bas Jeph Howard, serta laju distorsi gitar Quinn Allman menjadi paduan apik ketika disatukan dengan vokal Bert yang melengking serak.

Namun, entah mengapa The Used seperti tampil tidak fit. Sepertinya mereka hanya memberi 75 persen energi. Suara Bert sering sekali tak terdengar. Dan screamingnya yang sangat berkarakter itu terlihat pelan dan lemah. Katanya memang, dia sedang sakit tenggorokan. Sound gitar Quinn beberapa kali terlepas kasar, juga bas Jeph yang acap tidak singkron dengna ketukan dram Dan. Arrghhh, sebagai salah satu penggemar The Used saya kecewa. Juga hampir gila ketika mereka menyimpan A Box Full Of Sharp Objects di repertoar paling akhir. Buset. Kalau mereka tidak menyanyikan lagu itu, saya bisa mencekik orang disebelah saya. Hahaha.


Soundrenalin Yogya

14 August 2008

“Hey asshole, don’t throw up in the ca….”
“HOEEEEEK”
“What the…shit…That was gross!”

Oji was soo drunk he barely can standing on his feet. Dia bahkan jackpot di mobil, diatas celana jinsnya. Yuck. Untungnya, saya masih kontrol. Begitu sampai kamar hotel, ia tuntaskan jackpotnya di bathub. Besok paginya selain dapet hangover, masih ada dua bonus jackpot lagi. Satu habis bangun, satu lagi dipesawat. Bwakaka. Well, buat saya, after party Soundrenalin Yogya lebih menarik dari event-nya sendiri. Haha.

—-

Lima belas orang yang diundang Sampoerna untuk “jalan-jalan” ke Yogya melihat penutupan Soundrenalin 2008 memang tidak semuanya jurnalis. Ada beberapa PR dari Agency yang pernah menghandle event-event Sampoerna.

Oji, teman saya di Jawapos dulu yang kini jadi PR Sampoerna sedari awal sudah mewanti-wanti, “ini bukan liputan lho, cuma jalan-jalan fun,” katanya. Saya benar-benar memegang kata-katanya. Hahaha.

Dan memang benar, di tenda pers, rombongan wartawan yang “khusus meliput” diboyong ke Yogya oleh Prisma PR. “Kita kehabisan tiket pesawat ke Yogya. Jadi harus terbang dulu ke solo, kemudian lanjut pake mobil ke Yogya,” sebut Daniel, kenalan saya di Prisma. Bwah, that sucks dude.

Karena datang ke venue siang, tak banyak yang saya tonton. Mengingat para headliner utama seperti Nidji, Dewa, Mulan Jameela, dll baru naik panggung malam hari. Dan tak banyak pula yang diceritakan ketika menonton konser mereka. Lagu yang dibawakan ya itu, cara tampilnya pun kita sudah pada tahu.

Setelah dinner, saya dan beberapa orang dari rombongan memilih balik ke hotel (kami menginap di Novotel) untuk beristirahat. Daripada menonton grup-grup yang sudah puluhan kali saya tonton, mending mengumpulkan tenaga untuk : after party baby. Kebetulan pula hari itu saya hanya tidur 3 jam.

Benar saja, sekitar pukul 12 malam, rombongan balik dari venue, dan langsung menuju Caesar, sebuah klub disamping Plaza Ambarukmo (CMIIW). Well, tempatnya sih gede. Gabung pula dengan meja biliar seperti halnya di Score. Semua kursi mengarah ke DJ, yang didepannya ada panggung untuk dance dan tiang striptease. Meski, desain interior dengan cat putih-pink bikin ill feel.

Setelah J-Rock diumumkan sebagai band dengan aksi terbaik di Soundre, party pun semakin menjadi. Hehe. Tequila, Black Label, Jack Daniels, Chivas Regal, dan entah botol apa lagi yang terbuka di meja. Everybody was dancing like crazy and having a great time. Beberapa band yang bermain di Soundre juga ikut gabung di klub. Ada Changchuters, Crowned King, dst-dst.

— deleted by the request of author –


Sick, sucks!

7 August 2008

My body was forced to it’s limit. Maunya sehat, tapi malah sakit. Rutinitas harian saya selama beberapa minggu terakhir ini memang menyiksa tubuh. Kira-kira seperti ini, setiap hari saya bangun pukul 10-11 siang, ke kantor. Pukul 6-7 malam setelah halaman selesai di layout langsung pergi ke gym, forsir cardio-beban, pulang pukul 21.30 malam. Lanjut main internet-nonton kabel/dvd-dst, sampe pukul 4.30 pagi.

Iya, ini gara-gara anak-anak kos yang setiap hari tidur jam 5 pagi (sambil mainan Winning Eleven). Saya pun terpengaruh, lha kamar saya letaknya pas disebelah ruang tengah. Karena rata-rata mereka kerja malam atau sore, pulang tengah malam, wajar kalau tidur hingga pagi. Sepanjang siang bisa dihabiskan untuk tidur. Sedangkan saya sudah harus berangkat siang. Itu diperparah pula dengan bergadang, ngerokok, makan tidak teratur, serta kecapekan.

Dalam kondisi tubuh yang lemah, penyakit mudah menyerang. Kali ini, bengkak di tenggorokan saya timbul lagi. Ya, gejala serupa saya rasakan dua tahun silam. Karena kebanyakan nyimeng, akhirnya tenggorokan saya merah dan bengkak.

Selain badan meriang karena infeksi, rasanya juga mengerikan. Daerah sekitar amandel seperti ditusuk-tusuk banyak jarum. Gataaal, perih, dan geli sekaligus. Kalau sudang kumat (sekitar 30 detik-1 menitan), bahkan saya tidak bisa bicara. Hanya merasakan sakitnya, berharap cepat berhenti.

Gara-gara itu juga saya sempat berhenti merokok selama setahun, sebelum akhirnya kumat lagi, hehe. Yang membuat saya berhenti, karena kata-kata dokter waktu itu, “kalau nggak berhenti ngerokok, 6 bulan lagi kamu operasi,”. Wakaka. Daripada dibuat operasi, mending duitnya buat backpacking.

Bengkak yang sekarang ini, tak separah dulu. Tapi, tenggorokan saya terasa serik. Rasanya seperti terlalu banyak memakan mangga muda atau nangka. Kemarin malam badan saya juga meriang. Dan akhirnya tidak masuk kantor. Sepertinya saya harus berhenti merokok, dan membatasi diri untuk tidur dibawah jam 12 malam. Fiuh. Sick sucks.


Krav Maga

5 August 2008

Salah satu adegan yang membuat Rob Cohen, sutradara The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor, kebingungan adalah laga final antara Rick O’Connell (Brendan Fraser) dan Kaisar Han (Jet Li). Problemnya, bagaimana mengemas gaya bertarung Rick agar terlihat keren saat melawan style kung fu si Kaisar.

Cohen, sutradara The Fast and the Furious dan Dragonheart itu akhirnya come up dengan ide brilian. “Saya memilih gaya bertarung Krav Maga, street style!,” katanya. Hasilnya pun not bad lah. Fraser terlihat cukup bisa mengimbangi Jet Li.

Pertanyaannya, what the heck is Krav Maga?

Singkatnya, Krav Maga adalah cabang ilmu bela diri yang dikembangkan di Israel. Tujuan utamanya sih, untuk melatih tentara Israel melawan tentara Hezbollah. Huh, dasar Yahudi. Namun, pada perkembangannya, Krav Maga di populerkan ke masyarakat umum dengan beberapa modifikasi.

Intinya, latihan yang ditekankan Krav Maga adalah RBSD atau Reality-based Self-defense. Yakni menitik beratkan latihan pada sisi pembelaan diri didalam kondisi mendekati sebenarnya. Termasuk, dikeroyok dengan beberapa orang.

Dalam episode Fight Quest : Israel, Doug Anderson dan Jimmy Smith sempat kewalahan saat menghadapi final tes, dimana mereka dihadapkan pada 10-15 orang secara simultan. Belum lagi training fisik gila-gilaan serta drills tanpa henti yang menghisap oksigen di jantung. Check out the picture, when Jimmy trying to take out several opponents.

”You need to get up and keep fighting. You going to attack no matter what,” kata instruktur mereka. Prinsip utama Krav Maga memang menciptakan mindset agar murid merasakan kondisi perkelahian secara nyata. Salah satunya menempatkan seseorang seolah-olah dalam kondisi terkeroyok (multiple attacker), ataupun menghadapi lawan bersenjata seperti pisau atau tongkat.

Dalam satu adegan, Jimmy didorong-dorong dengan 5-10 orang menggunakan kicking bag. Itu saja sudah membuatnya kehabisan nafas. “Krav Maga bukanlah jiujitsu, Mixed Martial Arts, atau Thaiboxing, melainkan masalah hidup dan mati,” kata instruktur Krav Maga itu.

Selain Jiujitsu dan tinju, Krav Maga ini bagi saya seduktif sekali. Dari googling, ternyata ada juga istrukturnya di Jakarta, meski muridnya terbatas beberapa orang saja. Saya sudah mengontak dua diantaranya (mereka punya blog :P ), dan mendapat tanggapan positif. Well, kita lihat saja kelanjutannya nanti. He he he.


High octane action

5 August 2008

“As long it involves guns, then it’s a good movie,”
al pacino

Haha, im kidding. Al Pacino would never said that. I did. :P

Well, ini gara-gara hampir semua teman saya mendiskreditkan Wanted. Terutama para cewek. Tapi saya tidak. Malah, saya menyesal menontonnya di DVD, dengan kualitas sound yang belum sempurna pula. Wanted, menurut saya mampu mendeliver high octane action yang sangat nikmat.

Saya memfavoritkan Hulk versi Ang Lee yang unggul di ceruk psikologis. Tapi, bukan berarti Hulk arahan Louis Leterrier tidak asyik. Sometimes, kita datang ke bioskop murni untuk terhibur. Dan, film-film seperti ini lah yang menghibur saya. Padat, simpel, melibatkan banyak senjata, serta eksyen konstan dan rapid. Hahaha.

Wanted bercerita soal Wesley Gibson (James McAvoy), seorang pekerja kantoran yang secara tidak sengaja terhubung ke persekutuan pembunuh The Fraternity. Menurut ketua persekutuan Sloan (Morgan Freeman), ayah Wesley dibunuh oleh pembelot bernama Cross. Kini, dibantu oleh Fox (Angelina Jolie), tugasnya adalah melenyapkan Cross.

Keasyikkan Wanted selain melihat mobil doin 540 flip seperti papan skateboard, juga adegan membengkokkan tembakan (curve shot). Para anggota Fraternity diceritakan sebagai orang-orang khusus dengan indera yang peka. Jantung mereka bisa berdegup hingga 400 kali lebih cepat, membuat mereka bisa melihat kejadian dalam high speed (tapi terlihat slow-mo).

Kemampuan ini tidak asing. Mirip adegan bullet time dalam The Matrix. Tapi, lebih mirip lagi dengan kemampuan yang dimiliki game Max Payne, dimana dalam beberapa detik ia bisa menembakkan senjata secara simultan.

Mungkin, yang jadi problem buat saya adalah soal senjata. Ya, film ini berintikan senjata. Dari handgun dan senapan serbu (assault rifle) terbaru, hingga model klasik (oldschool). Tapi keberadaan mereka cuma jadi selai. Andai saja di skenarionya senjata-senjata ini digali mungkin dapat menambah gimmick film ini. Ohya, mengapa Fox dan Wesley tidak bercinta? *Sigh.