Kelebihan Informasi

8 February 2010

Dua atau tiga tahun lalu saya ingat Dahlan Iskan menyebut bahwa sekarang ini adalah zaman informasi. Artinya, semua informasi dapat diakses dengan cepat dan seketika lewat ujung jari.

Dari munculnya blog/web 2.0 dan citizen journalism, hingga Facebook dan Twitter yang semakin populer. Juga, persaingan portal berita online yang makin sengit.

Tanpa membaca koran pun, saya bisa mengetahui berita apa yang sedang hangat saat ini lewat Twitter. Sudah saya bandingkan, koran hanya pendalaman, sementara garis besar dan topik beritanya sama dengan apa yang saya baca di Twitter.

Semua berita sekarang dikirim dengan cepat. Karena masyarakat saat ini mendambakan sesuatu yang serbainstan.

Saat sebuah konferensi pers sedang berlangsung, Ugho, teman saya di Okezone tampak asik memencet-mencet tuts BlackBerry-nya sambil sesekali melirik ke pres rilis.

Begitu konferensi pers selesai, dia ikut mendekati narasumber bersama beberapa wartawan yang lain untuk mendapat informasi yang lebih detail.

Sejurus kemudian berita itu sudah jadi dan langsung di kirim melalui handsetnya. Di kantor, sudah ada redaktur yang mengunduh dan mengedit, dan menguploadnya di situs Okezone. Prosesnya cepat sekali, tak sampai satu jam acara selesai berita sudah bisa dibaca.

Toh, bukan berarti informasi serba instan ini tanpa efek samping. CEO Google Eric Schmidt pernah mengeluhkan generasi sekarang yang semakin meninggalkan deep reading. Katanya, Internet membuat orang jauh dari buku. Mengakitbatkan sulit tenggelam dalam barisan kata-kata indah yang diukir oleh sastrawan-sastrawan hebat.

Bukan itu saja, Ken Blanchard dalam buku Know Can Do! Mengungkap bahwa kelebihan informasi akibatnya justru tidak baik. “Kelebihan informas membuat kita lumpuh” katanya.

Bagaimana bisa? “mereka menderita overdosis pengetahuan. Pengetahuan datang dengan mudah, tapi tidak membawa perubahan dalam berprilaku,” ia mengungkap.

Sederhana saja mengintrepretasikan kalimat itu. Seorang pegawai yang berencana membuat sebuah usaha sampingan, katakanlah kafe, dengan mudahnya mendapat ribuan bahkan jutaan tips, cara, serta panduan menjadi entrepreneur di internet.

Tapi, apa lantas semua informasi yang dilahap orang itu lantas membuatnya semakin yakin untuk terjun menjadi pengusaha? “belum tentu,” kata Ken.

“Masalah akan muncul ketika kita terus menjejali diri dengan berbagai pengetahuan baru tanpa ada jeda untuk mengintegrasikan dan mewujudkannya ke dalam tindakan. Jika kita terus-terusan begini, pikiran kita akan kacau. Itulah sebabnya ada begitu banyak orang yang berakhir dengan tenggelam dalam lautan informasi,’”.

Perubahan = Pengulangan

Menurut Ken, orang hanya sanggup mengingat sedikit saja dari apa yang dibaca dan didengar hanya sekali. Untuk itu, kita seharusnya membaca dan belajar sedikit pengetahuan tapi lebih sering, bukan banyak pengetahuan tapi tidak sering.

Yang kedua, kata Ken, adalah pengulangan berkala. Ini yang menarik. Pengulangan berkala adalah suatu tehnik belajar dimana Anda tidak akan langsung memahami hanya dalam satu proses belajar. Kita dihadapkan pada informasi tersebut secara berkala selama beberapa waktu informasi itu mengendap.

Gampangnya, perubahan akan berdampak kecil jika tidak disertai tekanan kuat yang permanen terhadap diri seseorang. Pernyataan itu harus diulang dan diulang lagi. Saya sendiri belum mencobanya. Tapi, ini bisa jadi tips buat orang yang sedang mencari konsistensi untuk melakukan sesuatu yang baru.

Jadi setiap semangat mengendur, ingat “pengulangan, pengulangan, pengulangan, sampai itu mengendap di otak Anda”. Hehehe.


One Thing Leads to Another

8 February 2010

Ari Gold, Vince, dan E

Ari Gold, Vince, dan E

Musim kelima (terakhir) Entourage masih saya ingat jelas. Bukan karena saya sedang menanti musim keenam yang sekarang sedang syuting. Tapi ada satu hal positif yang memang sulit dilupakan.

Tepatnya ketika karir Vince, sang aktor muda yang sedang naik daun itu, berada di ujung tanduk.

Gara-gara beridealis untuk memerankan gembong narkoba dermawan Pablo Escobar di film Medeilin, karir Vince yang diceritakan sukses besar karena membintangi Aqua Man arahan James Cameron jadi hancur lebur.

Medeilin gagal di box office dan tidak disambut simpatik oleh kritikus. Sutradaranya, Brandon Walsh yang dulu sukses mengarahkan Vince di film independen Queens Bulevard, hilang percaya diri dan hilang ditelan rimba.

Dulu, semua studio menginginkan Vince. Tapi, sang aktor mengecewakan tawaran mereka dengan mengambil Medeilin, film berbujet pas-pasan yang gagal menang festival.

Sekarang, ketika Vince butuh studio untuk mengisi dompetnya yang kian menipis, tak ada produser yang mau memakainya. Agen Vince, Ari Gold, yang punya agency paling berpengaruh di Hollywood pun tidak mampu berbuat apa-apa.

Diserang sial bertubi-tubi membuat kepercayaan diri aktor yang sudah masuk jajaran A-list di Hollywood itu kendor juga. Vince mutung, menjadi “orang biasa” lagi dengan kembali ke kampung halamannya di Queens, daerah pinggiran New York itu.

Hanya E, manajer Vince sekaligus teman terdekatnya, yang tidak kehilangan semangat. Ia rela menunggu berjam-jam hanya untuk menyerahkan footage film terbaru Vince kepada Gus Van Sant, si sutradara nyentrik yang kabarnya sedang mengaudisi aktor di daerah Queens.

Sayang, lagi-lagi Vince gagal. Gus Van Sant ternyata tidak membutuhkannya. Putus asa, Vince pun murka. Dalam satu titik, Vince dan E berdebat hebat.

“Semuanya sudah selesai, E. Coba, semua yang kamu lakukan tidak ada satupun yang menghasilkan”
“Vince, aku tidak berhenti untuk berusaha. Kamu pun seharusnya begitu, kamu harus tetap berpikir positif”.
“Positif, positif, positif. Aku sudah muak dengan itu semua. Mungkin kau yang tidak becus jadi manajer. Mungkin, dari awal kita tidak usah membuat Medeilin,”
“ooh, sekarang kau timpakan semuanya padaku? You know what, fuck you! Mungkin sudah saatnya kita berjalan sendiri-sendiri,”

That’s that.

Setelah itu E kembali ke kantor kecilnya yang ia rintis di Los Angeles. Sementara Vince, tetap luntang-lantung di Queens. Sampai suatu hari ia mendapat telpon dari Ari.

Si agen mengabarkan kalimat yang suda ingin di dengar Vince sejak lama, “Roman Polansky mengajakmu menjadi aktor utama di film terbarunya. Ia melihat footage filmmu dari Gus Van Sant, dan dia sangat menyukaimu,”.

Perasaan Vince saat itu campur aduk. Serotonin dan adrenalin yang mengalir begitu deras, serta dihujam pisau tajam langsung ke jantung. Ia hanya ingin bertemu E, saat itu juga.

Aquaman, film JC di Entourage

Aquaman

NB: Di musim kedua Entourage James Cameron dikisahkan mampu menembus kesuksesan Titanic lewat film Aqua Man yang dibintangi Vince. Dan ternyata hal itu benar-benar terjadi lewat Avatar, yang juga dibintangi oleh aktor-aktor muda. Kebetulan? Atau alam semesta yang mengaturnya?


Diare Tahun Baru 2010

2 January 2010

Perayaan pergantian tahun kemarin mungkin bukan yang paling meriah : tanpa alkohol, tanpa klab, dan tanpa musik berdebaman. Tapi, bisa jadi paling berkesan. Tidak meriah, karena saya harus opname di rumah sakit Medika Permata Hijau akibat diare dan dehidrasi. Jadi berkesan, karena ada pacar yang dengan setia menemani.

Entah apa yang saya makan, jelasnya saya diare parah. Tak sampai 10 jam, saya bisa 11 kali BAB. Artinya, saya BAB tiap satu jam yang mengakibatkan kehilangan banyak cairan. Prediksi saya, sekitar 4-5 persen cairan dari total berat badan. Dampaknya? Fatal.

Saat dehidrasi tubuh tidak hanya kehilangan air, tapi juga kehilangan elektrolit dan glukosa. Gejala pertama saya rasakan siang hari setelah makan. Tiba-tiba mulut dan lidah saya kering, air liur berkurang. Rasa yang sangat mengganggu itu hilang setelah saya membeli Pocari di pinggir jalan.

Gejala kedua, suhu tubuh menjadi panas dan naik. Di kantor, saya meriang dan kedinginan.

Gejala selanjutnya semakin parah. Muncul rasa sakit kepala, perut jadi mual, frekuensi pernafasan meningkat, konsentrasi menurun, juga mengantuk yang teramat sangat.

Bayangkan, saya harus berjuang keras melawan semua gejala itu diatas motor dalam perjalanan 9 kilometer Kebon Sirih-Kebon Jeruk dalam kondisi jalan yang macet. Bweh. Sumpah, saya hampir pingsan.

Sampai di kos saya sudah lemas. Dengan tenaga tersisa saya menelpon taksi, mengemasi baju seadanya dan langsung ke UGD. Setelah diinfus, mendingan. Yang tersisa hanya mual dan hilangnya nafsu makan saja. Sehari kemudian saya sudah pulih. Namun, dokter tidak mengizinkan pulang, karena takut suhu badan panas akan merujuk pada penyakit lain seperti DBD atau thypus. Untungnya, itu tidak terjadi.

Tapi yang jelas, saya dan pacar terpaksa bertahun baruan di kantor. Dan selama tiga hari kami bersama di ruang rumah sakit yang sempit, sambil gantian bermain iPod touch. Tapi tetap senang. Lucu juga kalau dipikir-pikir. :D


TVS Apache

28 December 2009

saya mengendarai Apache

saya mengendarai Apache

Jangan remehkan motor India. Buktinya, Wahyu dan Pange, dua teman sekantor gandrung sekali dengan Bajaj Pulsar tunggangan mereka. Bahkan, saat ini keduanya sedang touring bersama klub Pulsar dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua orang yang dulunya jauh dari klub motor, tertarik gabung bahkan ikut touring cuma gara-gara membeli Bajaj. Luar biasa.

Saya memang belom pernah mencoba Bajaj. Tapi saya tahu dibalik noraknya fitur built-in speaker untuk MP3-radio di TVS Rockz, motor itu cukup tangguh. Tarikannya panjang dan bertenaga. Lincah untuk bermanuver, irit, dan remnya sangat pakem.

Bodinya bongsor banget

Bodinya bongsor banget

Dan kemarin saya giliran mencoba TVS Apache RTR 160 facelift. Versi anyar ini dirilis dengan sederet pembaruan dari input pelanggan di versi lamanya. Yang utama paling menoncjol adalah penggunaan double disc brake serta penambahan bodi.

Oke, kesan pertama, wow, sporty! Motornya bongsor dan berat. Tinggi saya 165 cm, dan harus jinjit. Cukup menyulitkan saat harus mundur di jalan. “Untuk mengakalinya, jok sedikit di papras oleh para pemilik TVS,” kata Bo, teman saya.

Begitu merasakan respon throttlenya, motor ini jadi terasa lebih hidup. Tarikannya bertenaga. Tidak bosan-bosannya saya menggeber Apache setiap bertemu jalan yang agak lenggang. Bo, teman saya mencapai 120 kph. Bejita, teman saya lainnya, sudah tembus max speed 140 kph. Gokil. Asiknya lagi, motor ini sangat anteng dan nyaman dalam kecepatan tinggi. Double disc brake juga bekerja mantap saat dibutuhkan.

tenang, setir ngga bikin pinggang sakit

tenang, setir ngga bikin pinggang sakit

Setirnya sudah model sport, cukup gaya. Tubuh pun jadi sedikit membungkuk, tapi tenang, tidak gampang capek. Hanya saja, saya merasakan getaran kencang di setir saat gas ditarik. Meski getaran hilang dalam kecepatan konstan, tapi cukup mengganggu.

Panel dashboard model kombinasi digital-analog. Speedometer, penunjuk bensin, Odo meter dan indicator waktu dalam bentuk digital, sementara penunjuk RPM berbentuk analog. Cukup stylish.

Kemarin, saya bersama pacar menempuh rute lumayan untuk mencari lokasi pernikahan kami nantinya. Dari Binus Rawa Belong-Lebak Bulus-RS Fatmawati-Prapanca-Kemang-Senayan-Permata Hijau-Puri Indah Mal-Rawa Belong.

jok belakang nyaman dan lebar

jok belakang nyaman dan lebar

Ada dua catatan. Pertama, bensinnya sangat irit! Mesin Apache Cuma 160 cc, sama dengan Honda GL Pro saya dulu. Herannya, teknologi mesinnya tak hanya mudah melarikan bodi yang berat, tapi juga tetap irit BBM. Salut.

Kedua, pacar saya mengaku posisi duduknya cukup nyaman. “Biasanya motor besar gini kan suka nggak enak pas dibonceng. Tapi, aku asik-asik aja tuh,” katanya.

Oh ya, keluhan lainnya adalah saya mengalami susah netral (false netral). Ternyata ada blogger pengguna TVS yang mengalami hal sama di awal penggunaan. Menurut kesaksiannya lagi, ketersediaan spare part cukup sulit. Untuk ini, saya tidak bisa memastikan.


Mengapa Membeli iPod touch?

26 December 2009

Sebelum mengginstal game di iPod touch 2nd gen saya, Kiki, seller di Forum Jual Beli (FJB) Kaskus berseloroh, “cuma 8 GB? Wah, bakal kerasa kurang lho bro,”. Pikir saya, 8 GB itu bisa diisi 1,750 ribu lagu, masa ya kurang. Rencananya, saya akan membagi kontennya dengan 2 GB lagu, 2 GB video, dan 4 GB sisanya game.

Tapi, begitu dia mengopi 10 GB game ke dalam HDD saya yang sebagian besar isinya porn videos, saya hanya bengong. Buset, ternyata game di iPod touch ukurannya lumayan masif. Bisa mencapai 100-150 MB per game. Dan dengan 10 GB, ada ratusan game yang menunggu untuk dimainkan. whoa.

Yang terjadi kemudian, kapasitas 8 GB itu terasa sangat kecil untuk memainkan semua game yang dikopikan Kiki. Betapa tidak, hampir 80 persen game iPod touch sangat interaktif, intuitif, dan adiktif sekali.

Mulai action adventure seperti Assasins’s Creed, Avatar, Hero of Sparta, hingga MGS Touch, model shooting macam N.O.V.A dan Brothers in Arms, sampai favorit saya balapan macam Need For Speed Shift, Asphalt 5, FerrariGT, atau Fast&Furious. Bahkan game-game sederhana seperti CookingDash, Guitar Rock2, Fieldrunners, sampai Tiki Towers membuat betah dimainkan selama berjam-jam.

Saya kemudian jadi ingat bagaimana Apple menyebut iPod touch ini sebagai pocket computer karena fungsinya yang meluas. Apa saja sih? Oke kita cermati satu persatu.

Memutar musik
Ini fitrah atau core purpose iPod diciptakan kali pertama. Multi-Touch interface membuat mencari lagu lewat Cover Flow terasa sangat keren. Tapi, tentu saja jika Anda termasuk rajin mengupdate koleksi lagu-lagu MP3 dengan kovernya.

Kita selalu bisa membeli lagu lewat Wi-Fi di iTunes. Hanya, mungkin jarang orang Indonesia yang memanfaatkan ini. Ada juga fitur Genius Playlists, dimana iPod akan merangkum trek yang memiliki kemiripan, untuk kemudian membuat playlist sendiri. Hmm.. saya lebih suka memainkan playlist yang telah disusun sendiri di iTunes.
Untuk versi 32 GB dan 64 GB sudah ada fitur Voice Control yang semula jadi andalan iPod Shuffle dan earphone dengan remote dan mic. Sekali lagi, fitur keren yang tak terlalu berguna buat saya.

Melihat Video/TV Show
Saya termasuk hobi mendownload klip video, video tutorial, trailer, maupun short movie di YouTube. Hasilnya saya lihat di waktu senggang di iPod nano 3rd gen saya. Sekarang, aktivitas itu jadi lebih termanjakan di iPod touch yang memiliki display 3.5 inci yang sangat tajam dan vivid. Menonton film penuh di iPod Touch pun tak masalah, hanya gunakan headphone yang kedap dan oke agar lebih nikmat. Tak perlu Bose yang jutaan, saya sendiri menggunakan Seinheiser seharga Rp275 ribu yang sudah cukup lumayan.

Pocket Computer
Well, sebenarnya fungsi ini sudah saya dapat di BlackBerry 8310 saya. Menulis blog, membalas email, melihat foto, atau browsing di web. Tapi, apa salahnya melakukan itu di kafe dengan koneksi Wi-Fi dengan iPod touch? Safari membuat browsing lebih nyaman. Termasuk untuk aplikasi Facebook dan social networking lainnya.

Gaming dan Aplikasi
Seperti yang sudah disebut diatas, fasilitas ini yang paling saya favoritkan. Bahkan untuk sementara saya memfungsikan iPod touch untuk mesin game penuh, sementara saya mendengarkan lagu lewat iPod nano lama yang rencananya akan dijual.

Ada beberapa keunggulan game di iPod touch dengan portable game player seperti Nintendo DS atau PlayStation Portable (PSP).

Pertama, soal grafis, mungkin iPod touch tak mengungguli PSP. Tapi, sudah sangat memuaskan. Rendering 3D beberapa game saya lihat sangat detail dan tajam sekali.

Kedua, gameplaynya akan susah disaingi PSP yang membosankan. Jujur, sebentar saja saya memegang PSP, rasa bosan sudah melanda. Tapi, fitur multi touch dan accelerometer di iPod touch benar-benar membuat adiktif. Misalnya memfungsikan iPod jadi setir di game racing, atau menembak dengan sentuhan di Metar Gear Solid Touch. Multitouch membuat seolah-olah kita berinteraksi secara nyata dengan game itu.

Ketiga, Wi-Fi membuat koneksi untuk bermain multiplayer memungkinkan. Komunitas iPod touch di Kaskus bahkan rutin bertemu untuk saling adu dan mengopi game. Canggih!
Keempat, Apple App Store memuat download game jadi mudah dan fun. Dengan koneksi Wi-Fi kita bisa mengunduh langsung game ke iPod kita. Baik bayar ataupun gratis. Menyenangkan sekali.

Kelima, aplikasi-aplikasi di iPod touch sangat beragam dan unik. Sudah cukup banyak pula yang buatan lokal.

Mengapa membeli iPod touch daripada iPhone? Selain lebih murah dan punya fungsi sama, problemnya cuma 1, ketahanan baterai. Game sangat rakus energi. Menggeber iPod touch dengan game-game berat, membuat batere cepat tandas.
Belum lagi saat digeber fungsi multitask dengan mendengar musik atau melakukan aktifitas menelpon, konek internet, dll. Jadi, lebih wise jika kita memisahkan fungsi-fungsinya. Intinya, BlackBerry untuk bekerja dan iPod touch untuk bermain adalah kombinasi perfect.


Avatar

22 December 2009

Luar biasa ”Avatar”. Film fantasi 3-D ini diprediksi bakal mengukir sejarah, menjadi karya besar kedua sutradara James Cameron setelah ”Titanic” yang dirilis 12 tahun silam.

Empat bulan sebelum ”Avatar” resmi tayang serentak di seluruh dunia, penulis/sutradara James Cameron, 55, sempat memperlihatkan fotaage (cuplikan) 16 menit adegan film tersebut kepada media.

Banyak yang kagum, lebih banyak lagi yang tak sabar dan penasaran. Selain kualitas grafis film ini yang sejak awal didengungkan sangat imajinatif dan realistis, banyak yang ingin tahu terobosan apalagi yang bakal disuguhkan oleh James Cameron.

Dan benar saja, ketika film science-fiction adventure itu akhirnya tayang pekan lalu, sudah banyak yang memprediksi akan sukses. Para pengamat meramal ”Avatar” bakal mencetak pemasukan masif di box office.

”Saya yakin pendapatan film ini nantinya bisa tembus USD1 miliar (Rp9,5 triliun) di seluruh dunia,” ujar pengamat box office Jeff Bock dari Exhibitor Relations Co.

Penantian itu juga dirasakan oleh selebritis Hollywood. ”Cameron adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan special effect lebih dari sekadar efek,” ujar Sigourney Weaver, bintang trilogi ”Alien” yang di arsiteki Cameron. ”Ia (Cameron) menggunakan teknologi untuk memperkuat sisi drama, mempertajam cerita, tapi tetap mengutamakan chemistry para aktornya,” kata Weaver. Dirilisnya Avatar dalam format 3-D, bagi Weaver adalah nilai plus.

Ide membuat film ”Avatar” sudah mengendap di kepala Cameron sejak ia mulai memproduksi ”Titanic” pada 1994. Namun, tawaran dari studio untuk merealisasikan ”Avatar” sesegera mungkin ditolaknya karena merasa teknologi yang ada saat itu belum mampu mewujudkan imajinasinya.

”Avatar” disyut menggunakan kamera 3-D ganda yang teknologinya digagas Cameron bareng rekannya Vince Pace. Butuh waktu 10 tahun bagi keduanya untuk menyempurnakan terobosan teknologi di dunia film itu. ”Ini proyek besar Cameron, bahkan mungkin yang terbaik,” ujar Bill Mechanic chairman studio Fox.

Bujet produksi ”Avatar” pun sangat masif, mencapai USD230 juta. Bujet itu berada dibawah ”Pirates of the Caribbean: At World’s End” sebesar USD300 juta dan ”Spider-Man 3” sekitar USD258 juta sebagai film termahal yang pernah dibuat.

Total bujet yang dikeluarkan Fox, Dune Entertainment serta Ingenious Film Partners untuk memproduksi dan mempromosikan film itu sendiri mencapai USD380 juta. Menurut Tony Wible dari Janney Montgomery Scott LLC, ”Avatar” setidaknya membutuhkan pemasukan hingga Rp400 juta di Amerika dan Kanada dan USD500 juta (global) agar bisa untung.

Di Amerika, ”Avatar” akan diputar dalam 3,300 bioskop, sekitar 2,100 diantaranya sudah dibekali teknologi 3-D. Menurut penjual tiket online MovieTickets.com, 78 persen pembeli tiket ”Avatar” adalah kaum pria. Fandango.com mencatat angka sedikit lebih rendah, 68 persen.

Kalau benar pendapatan ”Avatar” bakal menembus angka USD1 miliar secara global, maka akan bertolak belakang dengan ”Titanic” (1997) yang sebagian besar penontonnya adalah kaum hawa. ”Titanic”, peraih penghargaan tiga Oscar itu mencetak rekor sebagai film paling laris di dunia dengan pendapatan global USD1.8 miliar.

Di Indonesia, demam ”Avatar” lumayan terasa, meski tak seheboh ”2012”. ”Tadinya enggak tertarik nonton ’Avatar’, tapi ada apa ini orang-orang pada nonton, jadi penasaran,” ujar Farida Susanty lewat akun Twitter-nya.

Sutradara film/penulis skenario Joko Anwar bahkan mengaku sudah menonton ”Avatar” dua kali. ”Luar biasa. James Cameron mampu memadukan berbagai hal dalam film ini hingga menjadi tontonan yang asik,” ujar Joko, yang menyutradarai ”Pintu Terlarang”. ”Ceritanya simpel, tapi disajikan sangat baik,” ia menambahkan.

Menurut Joko, penonton Amerika sangatlah antusias untuk menonton. Tak heran pekerja film Hollywood berani jor-joran mengucurkan dana besar untuk membuat film. Karena keuntungannya bisa berlipat-lipat. ”Di Indonesia, penontonnya belum ada. Disuguhi film serius dikit, penonton langsung kabur,” kata pria kelahiran Medan, 2 Januari 1976 ini.

Hal senada diutarakan Anita. Meski tak begitu menyukai film fantasi, ia berpendapat bahwa karya James Cameron akan menjadi pijakan bagi film maker lainnya untuk meniru efek spesial ”Avatar” yang kualitasnya diatas rata-rata. ”Bagus sekali!,” katanya.

Kritikus film Kenneth Turan dari Los Angeles Times menyebut bahwa ”Avatar” adalah film yang sangat boyish, menyajikan petualangan yang digemari kaum pria, plus sedikit imbuhan romantisme. Agregat ulasan film RottenTomatoes.com pun memberikan 83 persen ulasan positif terhadap film ini.

Keberuntungan Zoe dan Sam

Popularitas ”Avatar” menjadi berkah bagi dua aktor utama film tersebut, Zoe Saldana dan Sam Worthington. Banyak yang menyebut bahwa keduanya bakal terus bersinar. Sudah banyak studio dan sutradara yang tertarik untuk meminang mereka.

Zoe dan Sam termasuk beruntung. Zoe, misalnya, dipercaya menjadi salah satu bintang ”Star Trek”. Sementara Sam juga bermain dalam ”Terminator Salvation”. Keduanya sama-sama film fantasi, berbujet tinggi, dan menjadi hits di box office.

Sekarang, mereka disatukan melalui karya besar James Cameron, sebuah dongeng di abad ke-22 dimana manusia berusaha menginvasi sebuah dunia bernama Pandora. Di dalamnya, ada suku Na’vi yang diperankan oleh mereka berdua.

Yang menarik, James Cameron sebenarnya sudah mengkasting mereka di ”Avatar” jauh sebelum Zoe membintangi ”Star Trek” ataupun Sam di ”Terminator Salvation”. Apakah ”Avatar” membuat mereka populer bahkan jauh sebelum filmnya dirilis?

”Saya mengatakan kepada Sam, ’kamu bisa jadi bintang film besar’ begitu ia menyelesaikan syuting ’Avatar’,” kenang James Cameron. ”Dan Zoe berperan bagus sekali di ’Star Trek’,” ia menambahkan.

Di ”Avatar”, Worthington menjadi Jake Sully, mantan marinir yang kehilangan kedua kakinya. Dia lantas mengikuti Program Avatar yang mengubahnya menjadi mahluk yang disebut Na’vi. Ini adalah cara manusia untuk mendapatkan mineral kaya energi di planet Pandora, tempat tinggal suku Na’vi.

Sementara Zoe sendiri menjadi Neytiri, suku Na’vi asli yang menjadi teman Jake. Dari situ mereka lantas jatuh cinta. Sampai akhirnya Jake dihadapkan pada pilihan, membela Na’vi atau bangsanya sendiri?

Cameron men-syut adegan di Pandora dengan teknologi rekam-gerak. Gerakan serta ekspresi para aktor direkam melalui kamera digital. Hasilnya lantas diolah dan ditambahkan efek melalui komputer.

Sam memang sempat tampil dalam bentuk manusia utuh di adegan-adegan awal film (sebelum ia berubah menjadi suku Na’vi). Namun, sepanjang film Zoe hanya tampil dalam bentuk animasi komputer saja.

”Ya, awalnya saya sedikit kaget begitu tahu yang ada di layar bioskop bukanlah wajah asli saya, melainkan rekayasa komputer. Tapi hanya sebentar, setelah itu juga menghilang,” kata Zoe. ”Saya mengerti bagaimana teknologi bekerja, juga intregritas James untuk menjaga akting kami. Begitu menonton, saya merasa benar-benar ada di dunia Pandora, meski sebenarnya tidak disana,” ia menambahkan.

Sam juga mengungkap bahwa akting yang dilihat penonton benar-benar ia lakukan. ”Teman dekat saya bilang, ’wah, itu memang kamu, karena saya bisa melihat senyummu!’,” kata Sam.

Karir cemerlang sudah menanti Zoe, 31. Ia sudah terlibat dalam film-film box office seperti ”Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl”, ”Guess Who”, ”The Terminal”, ”Drumline”, dan ”Star Trek”. Ia kini sedang bersiap menggarap film baru bertajuk ”The Losers”.

Sam, 33, adalah lulusan National Institute of Dramatic Art, Australia. Ia mendapat kecil dalam film ”Hart’s War” dan ”The Great Raid”. Sempat pula ikut audisi menjadi James Bond di ”Casino Royale”, namun kalah dari Daniel Graig. Proyek terbaru Sam nantinya adalah ”Clash of the Titans”. Jika ”Avatar” terbukti sukses, Cameron mengaku sudah menyiapkan dua sekuel. Tentu saja, ini berarti proyek baru untuk Zoe dan Sam.


James Cameron

22 December 2009

Tanpa Titanic, Tak Ada Avatar

James Cameron

James Cameron

James Cameron adalah sedikit dari sutradara Hollywood yang benar-benar memiliki visi. Karyanya mungkin bisa dihitung jari, tapi semuanya dikenang seumur hidup. Ia ciptakan robot yang datang dari masa depan untuk meneror manusia lewat ”Terminator” (1984). Cameron juga gambarkan kengerian monster luar angkasa dalam ”Aliens” (1986). Lewat ”The Abyss” (1989), ia ciptakan kendaraan bawah laut futuristik.

Puncaknya, sutradara kelahiran 16 August 1954 itu membesut kisah drama romantis yang akan dikenang sepanjang masa, ”Titanic”. Dari semua prestasinya itu, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa dulunya Cameron pernah menjadi supir truk.

”Saya dulu adalah supir truk full time, dan penulis skenario part-time. Saya ingat bagaimana saya harus menulis dengan sembunyi-sembunyi agar sopir yang lain tidak ada yang melihat,” kenang pemilik nama lengkap James Francis Cameron itu.

Ia sendiri tidak menyangka bahwa profesi sutradara bisa menjadikannya begitu populer. ”Mulanya saya hanya berharap bisa bekerja di belakang layar saja. Nah, ketika orang mulai mengenal saya di luar venue dimana film saya diputar, itu menjadi aneh,” ceritanya. Puncaknya, kata Cameron, setelah penganugerahaan Academy Awards pada 1998 untuk film ”Titanic”. ”Rasanya setiap orang di Los Angeles mencari saya,” ujarya terkekeh.

Karena karya-karyanya begitu berpengaruh, Cameron lantas dibanding-bandingkan dengan nama besar George Lucas dan Steven Spielberg. Tentu, menjadi impian para sutradara untuk memperoleh status seperti mereka.

Menurut Cameron, kuncinya adalah membuat sesuatu yang benar-benar baru dan radikal. Meski, ia sendiri mengakui bahwa track record menghasilkan film laris sangat membantunya meyakinkan studio sebagai penyandang dana. ”Saya bilang ke mereka (studio), saya tidak pernah menyutradarai film yang merugi. Dan saya tidak sedang memulainya sekarang,” katanya.

Maklum, ”Avatar” tak hanya menelan bujet yang sangat besar, persoalan paling mendasar justru ada pada karakter dalam bentuk Computer-generated Imagery (CGI) dengan wajah biru, mata besar, dan ekor!. Tentu, siapapun setuju bahwa itu bukanlah salah satu resep dasar film sukses.

”Kadang mereka (pihak studio) bertanya, ’apa memang perlu pakai ekor? Saya hanya tertawa,” ujar Cameron. Yang jelas, Cameron mengaku tidak akan bisa mengegolkan ”Avatar” jika tidak ada ”Titanic”.

Dalam 10 tahun terakhir, Cameron mungkin terlihat minim karya. Tapi, ia sama sekali tidak ”menganggur”. Selama itu, ia sibuk mengurusi proyek ambisiusnya, menyutradarai film dokumenter ”Ghosts of the Abyss” (2003) dan ”Aliens of the Deep” (2005). Kedua film itu mengungkap hewan-hewan di dalam laut yang tidak pernah tertangkap kamera sebelumnya.

Ekspedisi tersebut dilakukan sendiri oleh Cameron. Ia bahkan ikut mendanai riset untuk membuat teknologi kamera yang bisa menangkap gambar di kedalaman 3,6 kilometer di bawah laut. ”Kami harus membuatnya karena teknologi itu memang tidak eksis,” kata Cameron. Karena itu, Cameron merasa heran jika ada yang bertanya kemana saja ia selama ini. ”Saya sangat-sangat sibuk,” katanya tersenyu.


Mazda2 Chiang Mai

30 November 2009

Sayang sekali, di Bangkok saya hanya transit. Jadi tidak sempat kemana-mana. Meski demikian, Chiang Mai memberi kesan yang cukup lumayan bagi saya. Kotanya sangat laid back dan rileks sekali. Banyak turis sengaja berlibur kesana sekadar untuk chill.

Yang jelas, Thailand tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Infrastruktur di sana lebih rapi di bandingkan dengan Jakarta. Jalan-jalannya lebar dengan kualitas aspal yang halus. Bahkan masih memiliki ruang untuk pejalan kaki. Lalu, disana banyak sekali mobil double cabin. Katanya sih, harga double cab disana lebih murah.

Well, mungkin nanti saya akan cerita lebih panjang lagi. Tapi ini ada beberapa foto oleh-oleh dari sana, please enjoy.

Rombongan jurnalis dari Indonesia. Paling rame, paling seru.

Rombongan jurnalis dari Indonesia. Paling rame, paling seru.

Mazda2 digeber melewati jalan tol menuju luar kota. Sayang, rute test drivenya kurang panjang

Mazda2 digeber melewati jalan tol menuju luar kota. Sayang, rute test drivenya kurang panjang

Mobil-mobil yang siap digeber buat test drive. Mana warna yang Anda suka?

Mobil-mobil yang siap digeber buat test drive. Mana warna yang Anda suka?

Iring-iringan tesd trive di Chiang Mai

Iring-iringan tesd trive di Chiang Mai

Saya di salah satu kuil di Chiang Mai

Saya di salah satu kuil di Chiang Mai

Berdoa di kuil

Berdoa di kuil

Bunga-bunga di kuil

Bunga-bunga di kuil

Kepala naga dan jendela

Kepala naga dan jendela

Bunga dan patung budha

Bunga dan patung budha

ini dia yang dicari, street food yang menjual uler Hong Kong, kelabang, kalajengking buat camilan.

ini dia yang dicari, street food yang menjual uler Hong Kong, kelabang, kalajengking buat camilan.

Bule bersantai naek tuk tuk di Chiang Mai

Bule bersantai naek tuk tuk di Chiang Mai

Pasar malem ini populer banget di Chiang Mai. Barangnya murah-murah!

Pasar malem ini populer banget di Chiang Mai. Barangnya murah-murah!

Well its me again haha!

Well its me again haha!

Oh ya, teman saya Raju Febrian dari Tempo membuat tulisan yang bagus di blognya, disini check it out.


Sunda Kelapa Jakarta

9 November 2009

Ini adalah beberapa foto yang saya ambil di Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Selain pesona kota tua, pelabuhan Sunda Kelapa sangat unik. Kental dengan sejarah, juga punya vibe indah dalam segala detil kehidupan disana.

Pemandangan dari atas dek kapal Quicksilver.

Pemandangan dari atas dek kapal Quicksilver.

Sang Merah Putih berkibar di kapal Quicksilver.

Sang Merah Putih berkibar di kapal Quicksilver.

Pelabuhan Batavia Marina dari dek kapal Quicksilver.

Pelabuhan Batavia Marina dari dek kapal Quicksilver.

Benteng di Pulau Kelor. Pulaunya kecil sekali, dan indah.

Benteng di Pulau Kelor. Pulaunya kecil sekali, dan indah.

Anak-anak asyik berenang di galangan kapal pelabuhan Sunda Kelapa.

Anak-anak asyik berenang di galangan kapal pelabuhan Sunda Kelapa.

Meloncat dari ujung anjungan kapal. Asyik sekali kelihatannya.

Meloncat dari ujung anjungan kapal. Asyik sekali kelihatannya.

Susah untuk dapat momen ini dengan kamera poket saya.

Susah untuk dapat momen ini dengan kamera poket saya.

No time vor love, tulisan di dinding pelabuhan.

No time vor love, tulisan di dinding pelabuhan.

Kapal barang dan kapal Nelayan bersandingan.

Kapal barang dan kapal Nelayan bersandingan.

Seorang nelayan mendayung kapalnya melewati sebuah kakus.

Seorang nelayan mendayung kapalnya melewati sebuah kakus.

Deretan buritan kapal di pelabuhan Sunda Kelapa.

Deretan buritan kapal di pelabuhan Sunda Kelapa.

Buruh angkut menaikkan barang ke kapal.

Buruh angkut menaikkan barang ke kapal.

Kapal dicat agar terlihat cantik.

Kapal dicat agar terlihat cantik.


Quicksilver-Sunda Kelapa Cruise

9 November 2009
Kapal dua lambung Quicksilver yang merapat di Batavia Marina, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakut

Kapal dua lambung Quicksilver yang merapat di Batavia Marina, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakut

pemandangan pulau Ayer dari atas kapal.

Spaghetti es krim di Ragusa

Spaghetti es krim di Ragusa

Kejutan itu penting dalam sebuah hubungan. Karena sama menyenangkannya bagi kedua pasangan. Si pemberi surprise bakal senang melihat pasangannya bahagia, begitu juga sebaliknya. Ini menghasilkan letupan-letupan cinta (halah) yang membuat sebuah hubungan menjadi penuh petualangan dan tidak membosankan.

Minggu kemarin, saya memberi kejutan kecil pada pacar dengan mengajaknya makan siang di atas kapal pesiar Quicksilver. Kami berangkat dari gedung Batavia Marina, di pelabuhan Sunda Kelapa, Kota Tua, Jakarta Utara pukul 11.30 siang.

Kapal dengan dua lambung itu mengarungi lima pulau di Kepulauan Seribu. Antara lain Pulau Bidadari, Pulau On Rust, Pulau Untung Jawa, Pulau Kelor, dan Pulau Air. Tapi, tidak merapat. Penumpang hanya melihat aktivitas di pulau dari jarak jauh.

Di atas kapal, selain makan siang juga disediakan berbagai hiburan seperti karaoke dan tari-tarian dari Batavia Dancer. Cruise yang hanya 2,5 jam itu pun terasa sangat cepat. Apalagi, kapal Quicksilver ini besar dan keren. Kami bisa duduk di dek bawah, dek atas, sampai anjungan depan.

Pulangnya, kami ikut ”tur” lagi di galangan kapal pelabuhan Sunda Kelapa, menaiki kapal kecil nelayan lokal. Harga turnya Rp50 ribu. Sengaja tidak saya tawar. ”Untuk menggerakkan sektor riil,” kata saya kepada pacar sambil bercanda. Cukup asik sih. Lalu, setelah capek dan kepanasan, aktivitas hari itu ditutup dengan menyantap es krim Ragusa di kota tua. Hehehe.

Surprise is the greatest gift which life can grant us. — Boris Pasternak