TVS Apache

28 December 2009

Jangan remehkan motor India. Buktinya, Wahyu dan Pange, dua teman sekantor gandrung sekali dengan Bajaj Pulsar tunggangan mereka. Bahkan, saat ini keduanya sedang touring bersama klub Pulsar dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua orang yang dulunya jauh dari klub motor, tertarik gabung bahkan ikut touring cuma gara-gara membeli Bajaj. Luar biasa.

Saya memang belom pernah mencoba Bajaj. Tapi saya tahu dibalik noraknya fitur built-in speaker untuk MP3-radio di TVS Rockz, motor itu cukup tangguh. Tarikannya panjang dan bertenaga. Lincah untuk bermanuver, irit, dan remnya sangat pakem.

Dan kemarin saya giliran mencoba TVS Apache RTR 160 facelift. Versi anyar ini dirilis dengan sederet pembaruan dari input pelanggan di versi lamanya. Yang utama paling menoncjol adalah penggunaan double disc brake serta penambahan bodi.

Oke, kesan pertama, wow, sporty! Motornya bongsor dan berat. Tinggi saya 165 cm, dan harus jinjit. Cukup menyulitkan saat harus mundur di jalan. “Untuk mengakalinya, jok sedikit di papras oleh para pemilik TVS,” kata Bo, teman saya.

Begitu merasakan respon throttlenya, motor ini jadi terasa lebih hidup. Tarikannya bertenaga. Tidak bosan-bosannya saya menggeber Apache setiap bertemu jalan yang agak lenggang. Bo, teman saya mencapai 120 kph. Bejita, teman saya lainnya, sudah tembus max speed 140 kph. Gokil. Asiknya lagi, motor ini sangat anteng dan nyaman dalam kecepatan tinggi. Double disc brake juga bekerja mantap saat dibutuhkan.

Setirnya sudah model sport, cukup gaya. Tubuh pun jadi sedikit membungkuk, tapi tenang, tidak gampang capek. Hanya saja, saya merasakan getaran kencang di setir saat gas ditarik. Meski getaran hilang dalam kecepatan konstan, tapi cukup mengganggu.

Panel dashboard model kombinasi digital-analog. Speedometer, penunjuk bensin, Odo meter dan indicator waktu dalam bentuk digital, sementara penunjuk RPM berbentuk analog. Cukup stylish.

Kemarin, saya bersama pacar menempuh rute lumayan untuk mencari lokasi pernikahan kami nantinya. Dari Binus Rawa Belong-Lebak Bulus-RS Fatmawati-Prapanca-Kemang-Senayan-Permata Hijau-Puri Indah Mal-Rawa Belong.

Ada dua catatan. Pertama, bensinnya sangat irit! Mesin Apache Cuma 160 cc, sama dengan Honda GL Pro saya dulu. Herannya, teknologi mesinnya tak hanya mudah melarikan bodi yang berat, tapi juga tetap irit BBM. Salut.

Kedua, pacar saya mengaku posisi duduknya cukup nyaman. “Biasanya motor besar gini kan suka nggak enak pas dibonceng. Tapi, aku asik-asik aja tuh,” katanya.

Oh ya, keluhan lainnya adalah saya mengalami susah netral (false netral). Ternyata ada blogger pengguna TVS yang mengalami hal sama di awal penggunaan. Menurut kesaksiannya lagi, ketersediaan spare part cukup sulit. Untuk ini, saya tidak bisa memastikan.

Foto : untuk sementara nyomot milik Tyo, teman saya di Okezone. Foto saya akan segera saya upload.


Mengapa Membeli iPod touch?

26 December 2009

Sebelum mengginstal game di iPod touch 2nd gen saya, Kiki, seller di Forum Jual Beli (FJB) Kaskus berseloroh, “cuma 8 GB? Wah, bakal kerasa kurang lho bro,”. Pikir saya, 8 GB itu bisa diisi 1,750 ribu lagu, masa ya kurang. Rencananya, saya akan membagi kontennya dengan 2 GB lagu, 2 GB video, dan 4 GB sisanya game.

Tapi, begitu dia mengopi 10 GB game ke dalam HDD saya yang sebagian besar isinya porn videos, saya hanya bengong. Buset, ternyata game di iPod touch ukurannya lumayan masif. Bisa mencapai 100-150 MB per game. Dan dengan 10 GB, ada ratusan game yang menunggu untuk dimainkan. whoa.

Yang terjadi kemudian, kapasitas 8 GB itu terasa sangat kecil untuk memainkan semua game yang dikopikan Kiki. Betapa tidak, hampir 80 persen game iPod touch sangat interaktif, intuitif, dan adiktif sekali.

Mulai action adventure seperti Assasins’s Creed, Avatar, Hero of Sparta, hingga MGS Touch, model shooting macam N.O.V.A dan Brothers in Arms, sampai favorit saya balapan macam Need For Speed Shift, Asphalt 5, FerrariGT, atau Fast&Furious. Bahkan game-game sederhana seperti CookingDash, Guitar Rock2, Fieldrunners, sampai Tiki Towers membuat betah dimainkan selama berjam-jam.

Saya kemudian jadi ingat bagaimana Apple menyebut iPod touch ini sebagai pocket computer karena fungsinya yang meluas. Apa saja sih? Oke kita cermati satu persatu.

Memutar musik
Ini fitrah atau core purpose iPod diciptakan kali pertama. Multi-Touch interface membuat mencari lagu lewat Cover Flow terasa sangat keren. Tapi, tentu saja jika Anda termasuk rajin mengupdate koleksi lagu-lagu MP3 dengan kovernya.

Kita selalu bisa membeli lagu lewat Wi-Fi di iTunes. Hanya, mungkin jarang orang Indonesia yang memanfaatkan ini. Ada juga fitur Genius Playlists, dimana iPod akan merangkum trek yang memiliki kemiripan, untuk kemudian membuat playlist sendiri. Hmm.. saya lebih suka memainkan playlist yang telah disusun sendiri di iTunes.
Untuk versi 32 GB dan 64 GB sudah ada fitur Voice Control yang semula jadi andalan iPod Shuffle dan earphone dengan remote dan mic. Sekali lagi, fitur keren yang tak terlalu berguna buat saya.

Melihat Video/TV Show
Saya termasuk hobi mendownload klip video, video tutorial, trailer, maupun short movie di YouTube. Hasilnya saya lihat di waktu senggang di iPod nano 3rd gen saya. Sekarang, aktivitas itu jadi lebih termanjakan di iPod touch yang memiliki display 3.5 inci yang sangat tajam dan vivid. Menonton film penuh di iPod Touch pun tak masalah, hanya gunakan headphone yang kedap dan oke agar lebih nikmat. Tak perlu Bose yang jutaan, saya sendiri menggunakan Seinheiser seharga Rp275 ribu yang sudah cukup lumayan.

Pocket Computer
Well, sebenarnya fungsi ini sudah saya dapat di BlackBerry 8310 saya. Menulis blog, membalas email, melihat foto, atau browsing di web. Tapi, apa salahnya melakukan itu di kafe dengan koneksi Wi-Fi dengan iPod touch? Safari membuat browsing lebih nyaman. Termasuk untuk aplikasi Facebook dan social networking lainnya.

Gaming dan Aplikasi
Seperti yang sudah disebut diatas, fasilitas ini yang paling saya favoritkan. Bahkan untuk sementara saya memfungsikan iPod touch untuk mesin game penuh, sementara saya mendengarkan lagu lewat iPod nano lama yang rencananya akan dijual.

Ada beberapa keunggulan game di iPod touch dengan portable game player seperti Nintendo DS atau PlayStation Portable (PSP).

Pertama, soal grafis, mungkin iPod touch tak mengungguli PSP. Tapi, sudah sangat memuaskan. Rendering 3D beberapa game saya lihat sangat detail dan tajam sekali.

Kedua, gameplaynya akan susah disaingi PSP yang membosankan. Jujur, sebentar saja saya memegang PSP, rasa bosan sudah melanda. Tapi, fitur multi touch dan accelerometer di iPod touch benar-benar membuat adiktif. Misalnya memfungsikan iPod jadi setir di game racing, atau menembak dengan sentuhan di Metar Gear Solid Touch. Multitouch membuat seolah-olah kita berinteraksi secara nyata dengan game itu.

Ketiga, Wi-Fi membuat koneksi untuk bermain multiplayer memungkinkan. Komunitas iPod touch di Kaskus bahkan rutin bertemu untuk saling adu dan mengopi game. Canggih!
Keempat, Apple App Store memuat download game jadi mudah dan fun. Dengan koneksi Wi-Fi kita bisa mengunduh langsung game ke iPod kita. Baik bayar ataupun gratis. Menyenangkan sekali.

Kelima, aplikasi-aplikasi di iPod touch sangat beragam dan unik. Sudah cukup banyak pula yang buatan lokal.

Mengapa membeli iPod touch daripada iPhone? Selain lebih murah dan punya fungsi sama, problemnya cuma 1, ketahanan baterai. Game sangat rakus energi. Menggeber iPod touch dengan game-game berat, membuat batere cepat tandas.
Belum lagi saat digeber fungsi multitask dengan mendengar musik atau melakukan aktifitas menelpon, konek internet, dll. Jadi, lebih wise jika kita memisahkan fungsi-fungsinya. Intinya, BlackBerry untuk bekerja dan iPod touch untuk bermain adalah kombinasi perfect.


Avatar

22 December 2009

Luar biasa ”Avatar”. Film fantasi 3-D ini diprediksi bakal mengukir sejarah, menjadi karya besar kedua sutradara James Cameron setelah ”Titanic” yang dirilis 12 tahun silam.

Empat bulan sebelum ”Avatar” resmi tayang serentak di seluruh dunia, penulis/sutradara James Cameron, 55, sempat memperlihatkan fotaage (cuplikan) 16 menit adegan film tersebut kepada media.

Banyak yang kagum, lebih banyak lagi yang tak sabar dan penasaran. Selain kualitas grafis film ini yang sejak awal didengungkan sangat imajinatif dan realistis, banyak yang ingin tahu terobosan apalagi yang bakal disuguhkan oleh James Cameron.

Dan benar saja, ketika film science-fiction adventure itu akhirnya tayang pekan lalu, sudah banyak yang memprediksi akan sukses. Para pengamat meramal ”Avatar” bakal mencetak pemasukan masif di box office.

”Saya yakin pendapatan film ini nantinya bisa tembus USD1 miliar (Rp9,5 triliun) di seluruh dunia,” ujar pengamat box office Jeff Bock dari Exhibitor Relations Co.

Penantian itu juga dirasakan oleh selebritis Hollywood. ”Cameron adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan special effect lebih dari sekadar efek,” ujar Sigourney Weaver, bintang trilogi ”Alien” yang di arsiteki Cameron. ”Ia (Cameron) menggunakan teknologi untuk memperkuat sisi drama, mempertajam cerita, tapi tetap mengutamakan chemistry para aktornya,” kata Weaver. Dirilisnya Avatar dalam format 3-D, bagi Weaver adalah nilai plus.

Ide membuat film ”Avatar” sudah mengendap di kepala Cameron sejak ia mulai memproduksi ”Titanic” pada 1994. Namun, tawaran dari studio untuk merealisasikan ”Avatar” sesegera mungkin ditolaknya karena merasa teknologi yang ada saat itu belum mampu mewujudkan imajinasinya.

”Avatar” disyut menggunakan kamera 3-D ganda yang teknologinya digagas Cameron bareng rekannya Vince Pace. Butuh waktu 10 tahun bagi keduanya untuk menyempurnakan terobosan teknologi di dunia film itu. ”Ini proyek besar Cameron, bahkan mungkin yang terbaik,” ujar Bill Mechanic chairman studio Fox.

Bujet produksi ”Avatar” pun sangat masif, mencapai USD230 juta. Bujet itu berada dibawah ”Pirates of the Caribbean: At World’s End” sebesar USD300 juta dan ”Spider-Man 3” sekitar USD258 juta sebagai film termahal yang pernah dibuat.

Total bujet yang dikeluarkan Fox, Dune Entertainment serta Ingenious Film Partners untuk memproduksi dan mempromosikan film itu sendiri mencapai USD380 juta. Menurut Tony Wible dari Janney Montgomery Scott LLC, ”Avatar” setidaknya membutuhkan pemasukan hingga Rp400 juta di Amerika dan Kanada dan USD500 juta (global) agar bisa untung.

Di Amerika, ”Avatar” akan diputar dalam 3,300 bioskop, sekitar 2,100 diantaranya sudah dibekali teknologi 3-D. Menurut penjual tiket online MovieTickets.com, 78 persen pembeli tiket ”Avatar” adalah kaum pria. Fandango.com mencatat angka sedikit lebih rendah, 68 persen.

Kalau benar pendapatan ”Avatar” bakal menembus angka USD1 miliar secara global, maka akan bertolak belakang dengan ”Titanic” (1997) yang sebagian besar penontonnya adalah kaum hawa. ”Titanic”, peraih penghargaan tiga Oscar itu mencetak rekor sebagai film paling laris di dunia dengan pendapatan global USD1.8 miliar.

Di Indonesia, demam ”Avatar” lumayan terasa, meski tak seheboh ”2012”. ”Tadinya enggak tertarik nonton ’Avatar’, tapi ada apa ini orang-orang pada nonton, jadi penasaran,” ujar Farida Susanty lewat akun Twitter-nya.

Sutradara film/penulis skenario Joko Anwar bahkan mengaku sudah menonton ”Avatar” dua kali. ”Luar biasa. James Cameron mampu memadukan berbagai hal dalam film ini hingga menjadi tontonan yang asik,” ujar Joko, yang menyutradarai ”Pintu Terlarang”. ”Ceritanya simpel, tapi disajikan sangat baik,” ia menambahkan.

Menurut Joko, penonton Amerika sangatlah antusias untuk menonton. Tak heran pekerja film Hollywood berani jor-joran mengucurkan dana besar untuk membuat film. Karena keuntungannya bisa berlipat-lipat. ”Di Indonesia, penontonnya belum ada. Disuguhi film serius dikit, penonton langsung kabur,” kata pria kelahiran Medan, 2 Januari 1976 ini.

Hal senada diutarakan Anita. Meski tak begitu menyukai film fantasi, ia berpendapat bahwa karya James Cameron akan menjadi pijakan bagi film maker lainnya untuk meniru efek spesial ”Avatar” yang kualitasnya diatas rata-rata. ”Bagus sekali!,” katanya.

Kritikus film Kenneth Turan dari Los Angeles Times menyebut bahwa ”Avatar” adalah film yang sangat boyish, menyajikan petualangan yang digemari kaum pria, plus sedikit imbuhan romantisme. Agregat ulasan film RottenTomatoes.com pun memberikan 83 persen ulasan positif terhadap film ini.

Keberuntungan Zoe dan Sam

Popularitas ”Avatar” menjadi berkah bagi dua aktor utama film tersebut, Zoe Saldana dan Sam Worthington. Banyak yang menyebut bahwa keduanya bakal terus bersinar. Sudah banyak studio dan sutradara yang tertarik untuk meminang mereka.

Zoe dan Sam termasuk beruntung. Zoe, misalnya, dipercaya menjadi salah satu bintang ”Star Trek”. Sementara Sam juga bermain dalam ”Terminator Salvation”. Keduanya sama-sama film fantasi, berbujet tinggi, dan menjadi hits di box office.

Sekarang, mereka disatukan melalui karya besar James Cameron, sebuah dongeng di abad ke-22 dimana manusia berusaha menginvasi sebuah dunia bernama Pandora. Di dalamnya, ada suku Na’vi yang diperankan oleh mereka berdua.

Yang menarik, James Cameron sebenarnya sudah mengkasting mereka di ”Avatar” jauh sebelum Zoe membintangi ”Star Trek” ataupun Sam di ”Terminator Salvation”. Apakah ”Avatar” membuat mereka populer bahkan jauh sebelum filmnya dirilis?

”Saya mengatakan kepada Sam, ’kamu bisa jadi bintang film besar’ begitu ia menyelesaikan syuting ’Avatar’,” kenang James Cameron. ”Dan Zoe berperan bagus sekali di ’Star Trek’,” ia menambahkan.

Di ”Avatar”, Worthington menjadi Jake Sully, mantan marinir yang kehilangan kedua kakinya. Dia lantas mengikuti Program Avatar yang mengubahnya menjadi mahluk yang disebut Na’vi. Ini adalah cara manusia untuk mendapatkan mineral kaya energi di planet Pandora, tempat tinggal suku Na’vi.

Sementara Zoe sendiri menjadi Neytiri, suku Na’vi asli yang menjadi teman Jake. Dari situ mereka lantas jatuh cinta. Sampai akhirnya Jake dihadapkan pada pilihan, membela Na’vi atau bangsanya sendiri?

Cameron men-syut adegan di Pandora dengan teknologi rekam-gerak. Gerakan serta ekspresi para aktor direkam melalui kamera digital. Hasilnya lantas diolah dan ditambahkan efek melalui komputer.

Sam memang sempat tampil dalam bentuk manusia utuh di adegan-adegan awal film (sebelum ia berubah menjadi suku Na’vi). Namun, sepanjang film Zoe hanya tampil dalam bentuk animasi komputer saja.

”Ya, awalnya saya sedikit kaget begitu tahu yang ada di layar bioskop bukanlah wajah asli saya, melainkan rekayasa komputer. Tapi hanya sebentar, setelah itu juga menghilang,” kata Zoe. ”Saya mengerti bagaimana teknologi bekerja, juga intregritas James untuk menjaga akting kami. Begitu menonton, saya merasa benar-benar ada di dunia Pandora, meski sebenarnya tidak disana,” ia menambahkan.

Sam juga mengungkap bahwa akting yang dilihat penonton benar-benar ia lakukan. ”Teman dekat saya bilang, ’wah, itu memang kamu, karena saya bisa melihat senyummu!’,” kata Sam.

Karir cemerlang sudah menanti Zoe, 31. Ia sudah terlibat dalam film-film box office seperti ”Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl”, ”Guess Who”, ”The Terminal”, ”Drumline”, dan ”Star Trek”. Ia kini sedang bersiap menggarap film baru bertajuk ”The Losers”.

Sam, 33, adalah lulusan National Institute of Dramatic Art, Australia. Ia mendapat kecil dalam film ”Hart’s War” dan ”The Great Raid”. Sempat pula ikut audisi menjadi James Bond di ”Casino Royale”, namun kalah dari Daniel Graig. Proyek terbaru Sam nantinya adalah ”Clash of the Titans”. Jika ”Avatar” terbukti sukses, Cameron mengaku sudah menyiapkan dua sekuel. Tentu saja, ini berarti proyek baru untuk Zoe dan Sam.


James Cameron

22 December 2009

Tanpa Titanic, Tak Ada Avatar

James Cameron

James Cameron

James Cameron adalah sedikit dari sutradara Hollywood yang benar-benar memiliki visi. Karyanya mungkin bisa dihitung jari, tapi semuanya dikenang seumur hidup. Ia ciptakan robot yang datang dari masa depan untuk meneror manusia lewat ”Terminator” (1984). Cameron juga gambarkan kengerian monster luar angkasa dalam ”Aliens” (1986). Lewat ”The Abyss” (1989), ia ciptakan kendaraan bawah laut futuristik.

Puncaknya, sutradara kelahiran 16 August 1954 itu membesut kisah drama romantis yang akan dikenang sepanjang masa, ”Titanic”. Dari semua prestasinya itu, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa dulunya Cameron pernah menjadi supir truk.

”Saya dulu adalah supir truk full time, dan penulis skenario part-time. Saya ingat bagaimana saya harus menulis dengan sembunyi-sembunyi agar sopir yang lain tidak ada yang melihat,” kenang pemilik nama lengkap James Francis Cameron itu.

Ia sendiri tidak menyangka bahwa profesi sutradara bisa menjadikannya begitu populer. ”Mulanya saya hanya berharap bisa bekerja di belakang layar saja. Nah, ketika orang mulai mengenal saya di luar venue dimana film saya diputar, itu menjadi aneh,” ceritanya. Puncaknya, kata Cameron, setelah penganugerahaan Academy Awards pada 1998 untuk film ”Titanic”. ”Rasanya setiap orang di Los Angeles mencari saya,” ujarya terkekeh.

Karena karya-karyanya begitu berpengaruh, Cameron lantas dibanding-bandingkan dengan nama besar George Lucas dan Steven Spielberg. Tentu, menjadi impian para sutradara untuk memperoleh status seperti mereka.

Menurut Cameron, kuncinya adalah membuat sesuatu yang benar-benar baru dan radikal. Meski, ia sendiri mengakui bahwa track record menghasilkan film laris sangat membantunya meyakinkan studio sebagai penyandang dana. ”Saya bilang ke mereka (studio), saya tidak pernah menyutradarai film yang merugi. Dan saya tidak sedang memulainya sekarang,” katanya.

Maklum, ”Avatar” tak hanya menelan bujet yang sangat besar, persoalan paling mendasar justru ada pada karakter dalam bentuk Computer-generated Imagery (CGI) dengan wajah biru, mata besar, dan ekor!. Tentu, siapapun setuju bahwa itu bukanlah salah satu resep dasar film sukses.

”Kadang mereka (pihak studio) bertanya, ’apa memang perlu pakai ekor? Saya hanya tertawa,” ujar Cameron. Yang jelas, Cameron mengaku tidak akan bisa mengegolkan ”Avatar” jika tidak ada ”Titanic”.

Dalam 10 tahun terakhir, Cameron mungkin terlihat minim karya. Tapi, ia sama sekali tidak ”menganggur”. Selama itu, ia sibuk mengurusi proyek ambisiusnya, menyutradarai film dokumenter ”Ghosts of the Abyss” (2003) dan ”Aliens of the Deep” (2005). Kedua film itu mengungkap hewan-hewan di dalam laut yang tidak pernah tertangkap kamera sebelumnya.

Ekspedisi tersebut dilakukan sendiri oleh Cameron. Ia bahkan ikut mendanai riset untuk membuat teknologi kamera yang bisa menangkap gambar di kedalaman 3,6 kilometer di bawah laut. ”Kami harus membuatnya karena teknologi itu memang tidak eksis,” kata Cameron. Karena itu, Cameron merasa heran jika ada yang bertanya kemana saja ia selama ini. ”Saya sangat-sangat sibuk,” katanya tersenyu.


Mazda2 Chiang Mai

30 November 2009

Sayang sekali, di Bangkok saya hanya transit. Jadi tidak sempat kemana-mana. Meski demikian, Chiang Mai memberi kesan yang cukup lumayan bagi saya. Kotanya sangat laid back dan rileks sekali. Banyak turis sengaja berlibur kesana sekadar untuk chill.

Yang jelas, Thailand tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Infrastruktur di sana lebih rapi di bandingkan dengan Jakarta. Jalan-jalannya lebar dengan kualitas aspal yang halus. Bahkan masih memiliki ruang untuk pejalan kaki. Lalu, disana banyak sekali mobil double cabin. Katanya sih, harga double cab disana lebih murah.

Well, mungkin nanti saya akan cerita lebih panjang lagi. Tapi ini ada beberapa foto oleh-oleh dari sana, please enjoy.

Rombongan jurnalis dari Indonesia. Paling rame, paling seru.

Rombongan jurnalis dari Indonesia. Paling rame, paling seru.

Mazda2 digeber melewati jalan tol menuju luar kota. Sayang, rute test drivenya kurang panjang

Mazda2 digeber melewati jalan tol menuju luar kota. Sayang, rute test drivenya kurang panjang

Mobil-mobil yang siap digeber buat test drive. Mana warna yang Anda suka?

Mobil-mobil yang siap digeber buat test drive. Mana warna yang Anda suka?

Iring-iringan tesd trive di Chiang Mai

Iring-iringan tesd trive di Chiang Mai

Saya di salah satu kuil di Chiang Mai

Saya di salah satu kuil di Chiang Mai

Berdoa di kuil

Berdoa di kuil

Bunga-bunga di kuil

Bunga-bunga di kuil

Kepala naga dan jendela

Kepala naga dan jendela

Bunga dan patung budha

Bunga dan patung budha

ini dia yang dicari, street food yang menjual uler Hong Kong, kelabang, kalajengking buat camilan.

ini dia yang dicari, street food yang menjual uler Hong Kong, kelabang, kalajengking buat camilan.

Bule bersantai naek tuk tuk di Chiang Mai

Bule bersantai naek tuk tuk di Chiang Mai

Pasar malem ini populer banget di Chiang Mai. Barangnya murah-murah!

Pasar malem ini populer banget di Chiang Mai. Barangnya murah-murah!

Well its me again haha!

Well its me again haha!

Oh ya, teman saya Raju Febrian dari Tempo membuat tulisan yang bagus di blognya, disini check it out.


Sunda Kelapa Jakarta

9 November 2009

Ini adalah beberapa foto yang saya ambil di Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Selain pesona kota tua, pelabuhan Sunda Kelapa sangat unik. Kental dengan sejarah, juga punya vibe indah dalam segala detil kehidupan disana.

Pemandangan dari atas dek kapal Quicksilver.

Pemandangan dari atas dek kapal Quicksilver.

Sang Merah Putih berkibar di kapal Quicksilver.

Sang Merah Putih berkibar di kapal Quicksilver.

Pelabuhan Batavia Marina dari dek kapal Quicksilver.

Pelabuhan Batavia Marina dari dek kapal Quicksilver.

Benteng di Pulau Kelor. Pulaunya kecil sekali, dan indah.

Benteng di Pulau Kelor. Pulaunya kecil sekali, dan indah.

Anak-anak asyik berenang di galangan kapal pelabuhan Sunda Kelapa.

Anak-anak asyik berenang di galangan kapal pelabuhan Sunda Kelapa.

Meloncat dari ujung anjungan kapal. Asyik sekali kelihatannya.

Meloncat dari ujung anjungan kapal. Asyik sekali kelihatannya.

Susah untuk dapat momen ini dengan kamera poket saya.

Susah untuk dapat momen ini dengan kamera poket saya.

No time vor love, tulisan di dinding pelabuhan.

No time vor love, tulisan di dinding pelabuhan.

Kapal barang dan kapal Nelayan bersandingan.

Kapal barang dan kapal Nelayan bersandingan.

Seorang nelayan mendayung kapalnya melewati sebuah kakus.

Seorang nelayan mendayung kapalnya melewati sebuah kakus.

Deretan buritan kapal di pelabuhan Sunda Kelapa.

Deretan buritan kapal di pelabuhan Sunda Kelapa.

Buruh angkut menaikkan barang ke kapal.

Buruh angkut menaikkan barang ke kapal.

Kapal dicat agar terlihat cantik.

Kapal dicat agar terlihat cantik.


Quicksilver-Sunda Kelapa Cruise

9 November 2009
Kapal dua lambung Quicksilver yang merapat di Batavia Marina, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakut

Kapal dua lambung Quicksilver yang merapat di Batavia Marina, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakut

pemandangan pulau Ayer dari atas kapal.

Spaghetti es krim di Ragusa

Spaghetti es krim di Ragusa

Kejutan itu penting dalam sebuah hubungan. Karena sama menyenangkannya bagi kedua pasangan. Si pemberi surprise bakal senang melihat pasangannya bahagia, begitu juga sebaliknya. Ini menghasilkan letupan-letupan cinta (halah) yang membuat sebuah hubungan menjadi penuh petualangan dan tidak membosankan.

Minggu kemarin, saya memberi kejutan kecil pada pacar dengan mengajaknya makan siang di atas kapal pesiar Quicksilver. Kami berangkat dari gedung Batavia Marina, di pelabuhan Sunda Kelapa, Kota Tua, Jakarta Utara pukul 11.30 siang.

Kapal dengan dua lambung itu mengarungi lima pulau di Kepulauan Seribu. Antara lain Pulau Bidadari, Pulau On Rust, Pulau Untung Jawa, Pulau Kelor, dan Pulau Air. Tapi, tidak merapat. Penumpang hanya melihat aktivitas di pulau dari jarak jauh.

Di atas kapal, selain makan siang juga disediakan berbagai hiburan seperti karaoke dan tari-tarian dari Batavia Dancer. Cruise yang hanya 2,5 jam itu pun terasa sangat cepat. Apalagi, kapal Quicksilver ini besar dan keren. Kami bisa duduk di dek bawah, dek atas, sampai anjungan depan.

Pulangnya, kami ikut ”tur” lagi di galangan kapal pelabuhan Sunda Kelapa, menaiki kapal kecil nelayan lokal. Harga turnya Rp50 ribu. Sengaja tidak saya tawar. ”Untuk menggerakkan sektor riil,” kata saya kepada pacar sambil bercanda. Cukup asik sih. Lalu, setelah capek dan kepanasan, aktivitas hari itu ditutup dengan menyantap es krim Ragusa di kota tua. Hehehe.

Surprise is the greatest gift which life can grant us. — Boris Pasternak


Our Trip

5 November 2009

Lihat dong gradasi warna di Pulau Komodo. Jangan bilang ngga pengen kesini? Maldives/Maladewa mah lewat.

Lihat dong gradasi warna di Pulau Komodo. Jangan bilang ngga pengen kesini? Maldives/Maladewa mah lewat.

Seharusnya weekend ini saya akan berangkat ke Krakatau, kepulauan vulkanik aktif yang ada di Selat Sunda. Indra, teman saya, mengajak survey ke sana.

Pekerjaan Indra mungkin jadi mimpi bagi sebagian orang. Dia adalah pengelola klub traveling personal. Jadi, hampir setiap minggu dia trip (spesialisasi ke Karimun Jawa). Dan kemarin ia bersama rombongan kecil juga baru saja kembali dari Pulau Komodo, yang kalau membaca itinerary -nya membuat jantung ini berdebar dan adrenalin bergejolak.

Trip dengan Indra memang asyik. Formatnya semi-backpacking. Jadi jangan bayangkan menginap di hotel mewah dengan ruang ber-AC. Tapi, dia tahu bagaimana memuaskan dahaga para pecinta traveling, membawa rombongan tur-nya ke tempat-tempat yang sangat keren, yang mungkin tidak akan bisa kita datangi sendiri (karena biayanya bisa sangat mahal, dengan rombongan jadi murah lantaran di tanggung renteng).

Dalam beberapa trip, ia mengajak pula adiknya, Erland, dan terkadang istrinya Lala. Kadang-kadang lucu juga melihat keluarga yang sama-sama gila traveling. Hahaha.

Anyway, karena satu dan lain hal rencana ke Krakatau batal. Padahal saya sudah mengiyakan. Tapi untunglah, karena belakangan saya ternyata juga tidak bisa lantaran harus masuk untuk menggantikan teman kantor yang di undang ke Pulau Umang.

Rencana perjalanan Jakarta-Singapura-Bangkok-Chiang Mai

Rencana perjalanan Jakarta-Singapura-Bangkok-Chiang Mai

Rencana trip saya untuk kedepannya lumayan banyak. Tanggal 17 November nanti, saya dan beberapa jurnalis lainnya akan mengikuti acara New Mazda2 ASEAN Media Driving Event di Chiang Mai, Thailand.

Kadang saya merasa memiliki pekerjaan paling mengasyikkan. Bayangkan, betapa asyiknya menyetir Mazda2 di jalanan Thailand, tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun (bahkan dapat uang saku dari kantor). Wkwkwk. Dan memang sudah lama saya ingin pergi ke Negeri Gajah Putih itu. Saya sudah tak sabar untuk mencoba makan balut, telur yang berisi embrio itik utuh itu. Juga mencicip scramble egg di SQ yang uenak buanget. Nyam.

Lalu, pada 9 Desember nanti saya akan trip ke Lombok, tepatnya ke Three Gili’s (Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan) bersama pacar. Well, anggap saja ini pre-honeymoon. Kita sudah membuat itinerary apa saja yang akan dilakukan disana. Pastinya bakal seru banget!

Pada Maret tahun depan, saya juga berjanji akan mengajak pacar pre-honeymoon kedua di Pulau Komodo. Ini trip bareng rombongan Indra. Dan setelah menikah yang insyaallah pada pertengahan 2010 nanti, kami akan lanjut berbulan madu (honeymoon sebenarnya) ke Thailand. Mungkin ke Phuket. Wkwkwk. Semoga mimpi kami ini bisa berjalan lancar dan terwujud. Amin. Wish us luck, folks!


Nokia N97 PlaN Your Adventour

21 October 2009

Ditantang Adrenalin, Dimanja Pijat

Nokia N97 punya segudang fitur canggih. Smart phone itu tak hanya cakap meng-handle pekerjaan kantor, tapi juga tangkas saat diajak berlibur. Benarkah? Nokia mencoba untuk sharing pengalaman itu dalam kompetisi PlaN Your Adventour.

PlaN Your Adventour adalah kompetisi online dimana pemain diminta membuat rencana liburan menggunakan fitur dan widget pada Nokia N97 yang disimulasikan dalam website. Untuk lengkapnya bisa dilihat di http://bit.ly/sMwom.

Pemenangnya, dua tim laki-laki dan perempuan (masing-masing beranggotakan 3 orang) dipilih berdasarkan voting selama 21 Agustus-2 Oktober. Hadiahnya, selain mendapat 1 unit Nokia N97 per orang, juga paket liburan 3 hari 2 malam di Pulau Dewata.

And the fun part is, saya dan Ijoel dari majalah Clara ”bertugas” untuk menemani mereka bersenang-senang. Wakaka.

Well, ini post ini bercerita pretty much apa yang kita lakukan disana. Karena gambar bisa lebih bicara dari ribuan kata, jadi saya akan posting lebih banyak gambar. Pokoknya, liburan ala Nokia is super fun. Mereka harus membuat program seperti ini lebih banyak lagi.

Day 1

Begitu tiba di Bali, agenda pertama adalah menuju Sanur untuk Sea Walk. Lokasinya ada di Puri Santrian Hotel. Meski letaknya tersembunyi, tapi cukup mewah, dengan beach view yang bagus sekali. Penghuninya, tentu saja semua bule dan turis Asia yang tajir.

Apa itu Sea Walk? Literally, kita benar-benar berjalan di bawah laut. Untuk bernafas, ada helem ala astronot yang hanya diletakkan begitu saja di atas kepala. Helm ini memompa oksigen dan menjaga tekanan udara. Rasanya? Surreal. Ikan-ikan mengelilingi kita di terumbu karang buatan. Indah sekali. Lebih asik dari snorkeling.

Oh ya, sebelum pergi masih menyempatkan foto dulu dong di pantai belakang hotel yang indah itu. Ini tim pemenang Cap-Cap Guricap dan Nona Disko. Yang cowok-cowok jauh lebih muda dari saya, dan yang cewe-cewe lebih tua dikit dari saya. Hahaha.

Acara berikutnya adalah makan siang di Ma Jolly di daerah Seminyak. Saya merasa tidak asing dengan resto ini karena, yak, ternyata pernah NYASAR ke sini waktu iseng puter-puter Kuta pake Mio di Bali-Lombok trip dulu. Wkwkwk. Nice resto, nice view.

Kita menginap di hotel Melia Nusa Dua. Hotel model gini dicari bule karena yang memang ingin santai. Hey, semua fasilitas ada disini, termasuk pantai pribadi. Jadi ngapain cari yang lain? Kamarnya, bujug, gede banget. Saya sempat kaget waktu buka pintu, “lhoo.. kok ngga ada kasurnya?”. Oo… ternyata master bedroom-nya ada di atas. Nice.

Setelah dinner, lagi-lagi Nokia membuat kejutan. Ketika saya lagi asik mengunyah daging, tiba-tiba rombongan penari kecak datang dan melakonkan Ramayana dan Shinta. Jadilah, saya, Ijoel, 2 anggota tim, serta Pak Ivan dari Nokia ikut menonton dulu. Kejutan yang menyenangkan.

Day 2

Ini aktivitas yang paling seru, mengendarai All Terrain Vehicle (ATV) atau quad bike di kawasan Ubud. Kebetulan, saya belum pernah mengendarainya. Dan rasanya pol banget. Apalagi rutenya mencapai 10 kilometer melewati tiga desa dengan pemandangan yang indah banget. Yeah, inilah sosok Bali sesungguhnya, dengan pura-pura cantik di desa-desa terpencil sekalipun. Kewl.

Seharusnya acara berikutnya adalah berjalan-jalan ke Monkey Forest di Ubud untuk tim cowok, dan Cooking Class untuk tim cewek. Tapi, acara ke Monkey Forest dibatalkan karena waktu yang mepet. Saya baru pertama kali ke Ubud. Ternyata seperti Legian, tapi lebih sepi. Kami makan di restoran Bumi Bali. Hmm… saya pengen nyoba Dirty Duck alias Bebek Bengil though.

Tujuan berikutnya adalah…pijat di salah satu Hotel di Sanur. Ah, jadwal acaranya couldn’t be better. Habis kenyang menyantap masakan dari tim cewek, semua tim di-massage plus luluran. Saya baru pertama luluran, dan tidak terlalu menikmatinya. Tapi kalau berendam air panas, saya enjoy sekali. Wahaha.

Malamnya, kami makan di Jimbaran. Yeah, its like to good to be true. Karena yang kami lakukan basicly adalah makan, jalan-jalan, beraktivitas yang menyenangkan, bersenang-senang, dan tidur. Hahaha. Top banget deh. Abis dari Jimbaran, saya sempat mampir ke Circle K untuk beli bir dan cemilan. Malamnya ingin nongkrong di pantai belakang hotel sambil dengering iPod. Eeeh.. ketiduran. Sial.

Day 3
Saya tahu, dalam hati Ijoel menggerutu karena saya kebagian menemani tim cowok untuk water sports di Benoa. Sementara dia menemani tim cewek untuk… melukis. Huahaha. Bahkan, sebenarnya tim cewek justru lebih memilih water sports daripada melukis. Well, anyway, kami segera menuju Benoa untuk Parasiling, Flying Fish, Banana Boat, dan Jet Ski.

Keempatnya sama-sama oke banget. Apalagi jet ski, top berat. Meski, kayaknya petugas-petugas agak buru-buru banget yah. Nggak bisa liat orang santai dikit. Diburu-buru gitu. Kata Willy, EO kami disana, harus cepat untuk mengejar angin. Terutama Parasailing dan Flying Fish.

Setelahnya kami bertemu tim cewek di Waroeng Made. Makan selesai, lalu free time. Tim cewek dan cowok berpisah, ada yang belanja, lainnya jalan-jalan sendiri. Saya bersama Nia dari Wunderman dan teman-teman EO sempat mampir ke Krisna untuk membeli oleh-oleh, lalu mengunjungi pantai Geger dan Dreamland.

Geger, sebenarnya biasa aja. Airnya tenang banget, dan cetek. Makanya banyak anak-anak kecil bermain. Sangat safe. Tapi, saya lebih suka Dreamland. Kami masuk melalui kafe di atas, yang punya kolam renang dan memiliki pandangan langsung ke pantai. Sureal. Katanya, mau renang cukup beli minum ajah. Top banget.

Well, that’s the end of the trip. Dari Dreamland, kami berkumpul di Ngurah Rai, untuk kembali ke Jakarta. Meski singkat, liburan 3 hari 2 malam di Bali ini sangat berkesan.

Patung putri duyung di belakang hotel. Pas jadi obyek foto.

Patung putri duyung di belakang hotel. Pas jadi obyek foto.

Marissa pegang dua bintang laut. Keren banget! harga 1 foto digital $11. Ngepetz.

Marissa pegang dua bintang laut. Keren banget! harga 1 foto digital $11. Ngepetz.

Narsis dan ekspresif di setiap kesempatan.

Narsis dan ekspresif di setiap kesempatan.

lunch sambil ngeliat pantai, damai ngga sih?

lunch sambil ngeliat pantai, damai ngga sih?

42 inci flat TV+DVD player di bawah, 32 inch di atas. Nggak kurang hiburan.

42 inci flat TV+DVD player di bawah, 32 inch di atas. Nggak kurang hiburan.

Tari Kecak, baru pertama nonton secara live, keren banget!

Tari Kecak, baru pertama nonton, keren banget!


Fotonya Marisa lagi. ekspresif banget doi. Berani nyetir sendiri lagi.

Fotonya Marisa lagi. ekspresif banget doi. Berani nyetir sendiri lagi.

udang jadi favorit. cuma kebagian satu. hiks.

udang jadi favorit. cuma kebagian satu. hiks.

hot water w rose petals, cigarette, and tea. apa lagi yang kurang?

hot water w rose petals, cigarette, and tea. apa lagi yang kurang?

Sea food di Jimbaran, its a must!

Sea food di Jimbaran, its a must!

Up up and away!

Up up and away!

Naik ikan "pari" terbang. cukup menantang lah.
Krisna, nggak perlu nawar tapi murah, dan apa aja ada. top banget nih gerai.

Krisna, nggak perlu nawar tapi murah, dan apa aja ada. top banget nih gerai.

Pantainya cetek, cocok buat maen air. awas, banyak anjingnya tapi.

Pantainya cetek, cocok buat maen air. awas, banyak anjingnya tapi.

Asyik ngga sih renang disini? ASIK BANGET!

Asyik ngga sih renang disini? ASIK BANGET!

Sunset @ Dreamland

Sunset @ Dreamland


Mengandalkan Kemampuan GPS Nokia 5730

14 October 2009

Terjebak macet, kesempatan untuk melihat dan merencanakan rute via GPS

Terjebak macet, kesempatan untuk melihat dan merencanakan rute via GPS

Nokia menghadirkan 5730 Xpress Music. Tak hanya Qwerty keyboard, ponsel musik baru ini juga menenteng sistem navigasi yang akurat. Kemampuan system navigasinya kami buktikan saat menempuh perjalanan mudik Jakarta-Surabaya pada pertengahan September silam.

Nokia 5730 XpressMusic mengadopsi desain slide-side candybar. Cukup unik, karena desain seperti ini lazimnya terdapat pada ponsel kategori bisnis. Desain ini cukup mencuri perhatian. Apalagi, titah sebenarnya yang diplot untuk 5730 adalah sebagai ponsel musik, menghadirkan suara dan akses untuk bermusik ria.

Soal ukuran, dimensi ponsel ini cukup besar. Ini lantaran 5730 memanggul dua bagian, yakni panel untuk layar dengan tombol keypad dan panel untuk keyboard Qwerty. Besarnya bodi ini membuatnya terlihat lebih kokoh, meski kurang nyaman dalam genggaman untuk yang mempunyai telapak tangan kecil.

Terdapat tiga tombol musik di samping layar. Ini untuk menegaskan bahwa 5730 adalah ponsel musik, selain memang untuk memudahkan pengoperasian pemutar musik. Sedangkan di bagian muka atas bodi ada tombol game khusus ala N-Gage.

Tangguh saat diajak bermain game N-Gage. Multifungsi sekali.

Tangguh saat diajak bermain game N-Gage. Multifungsi sekali.

Sebagai anggota keluarga XpressMusic, Nokia 5730 mengunggulkan fasilitas ini. Penunjang musiknya ini lengkap. Salah satunya adalah music library. Fasilitas ini menyuguhkan sejumlah pilihan, mulai artis, album, playlist, lagu, podcast, genre, hingga composer.

Pada tampilan pemutar musik ini terdapat beberapa pilihan standar pengoperasian, seperti play, stop, pause, forward, dan rewind. Untuk pengaturan, ada pilihan shuffle, repeat, equalizer, bass booster, stereo widening, visualisasi, dan add to playlist.

Kamera yang dibenamkan pada ponsel ini tergolong standar. Resolusi kamera yang sebesar 3,2 megapiksel kalah jauh dibanding produk lain yang telah mencapai resolusi 8 megapiksel, bahkan 10 megapiksel. Terdapat dukungan lampu kilat, pembesaran digital 8 kali, plus autofocus serta lensa Carl Zeiss.

Fasilitas lain yang juga bisa dinikmati pada ponsel ini internet radio FM dan Nokia maps, yang di dukung A-GPS. Fitur ini yang kami rasakan sangat berguna. Dalam kemacetan di kawasan Cikampek, device canggih ini sungguh membantu perjalanan kami.

Dengan mengaktifkan fitur GPS, kami berhasil menemukan jalan-jalan alternatif untuk menghindari kemacetan pada saat mudik yang membuat frustasi. Bayangkan, Jakarta-Cirebon kami tempuh selama 14 jam!

GPS dan Map milik Nokia sangat detail memperlihatkan jalan-jalan tikus.

GPS dan Map milik Nokia sangat detail memperlihatkan jalan-jalan tikus.

Awalnya sempat ragu, apakah GPS di 5730 Xpress Music dapat menunjukkan arah yang benar. Tentu saja, mencari jalan pintas bak pedang bermata dua. Bisa lebih cepat, atau sebaliknya jadi terhambat jika tersesat.

Untunglah, pointer lokasi yang akurat, membuat kami yakin. Jalan-jalan tikus pun masih terbaca di GPS 5730. Hasilnya, beberapa kali memotong jalur dan terbukti sukses melewati kemacetan.

Tapi, ada satu hal yang mengganggu, mengaktifkan GPS menghisap energi baterai secara drastis. Untuk mengakalinya, kami terpaksa berhemat, mengaktifkan 5730 pada saat kami tidak yakin dengan arah tujuan, atau ingin mencari jalan pintas. Setelah itu, ponsel segera kami matikan.

Pelajaran yang kami dapat, sediakan 24V-car battery charger di dalam mobil!

Oleh : Donny A, guest blogger